Liputan Mendalam

Tenun Pajam yang Tak Pernah Padam

Oleh: Nurul Mutmainnah Jamil
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Rasa penasaran melihat langsung proses penenunan homoru, kain tenun khas Wakatobi, membawa saya sejauh 581 km dari Kota Makassar menuju Kabupaten Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Pagi hari yang cerah di awal Juni 2021. Orang-orang terlihat memadati Pelabuhan Numana di Wanci, Pulau Wangi-Wangi. Setelah menghabiskan dua hari di Wanci, saya hendak menuju Desa Pajam di Pulau Kaledupa, salah satu desa yang masih menjadikan aktivitas menenun sebagai kebiasaan sehari-hari perempuan di sana. 

Kapal cepat Numana-Kaledupa (Dokumentasi Pribadi, Nurul Mutmainnah Jamil)KM Valentine Bahari menjadi tumpangan saya menuju Kaledupa hari ini. Bersamaan dengan deru mesin yang tidak senyaring mesin-mesin kapal jolloro di Makassar dan matahari pagi yang menyengat, perjalanan pun dimulai.

Arus Laut Banda menyapa ramah pada perjalanan ini. Saya berangkat pukul 08:20 Wita dan tiba sekitar 10:00 Wita di Kaledupa, salah satu pulau di Kabupaten Wakatobi. Ada beberapa versi dari penamaan pulau ini. Konon, nama pulau dengan dua kecamatan yakni Kaledupa dan Kaledupa Selatan ini, diambil dari istilah ‘kauhedupa’ yang berarti kayu dupa, karena di masa lalu pohon dupa tumbuh subur di wilayah ini. 

Pelabuhan Numana di Wangi-wangi (Dokumentasi pribadi, Nurul Mutmainnah Jamil)
Pelabuhan Numana di Wangi-wangi.

Pertama kali menginjakkan kaki di Kaledupa, saya cukup terkejut dengan topografi pulau yang sangat berbeda dengan Pulau Wangi-Wangi. Jalan-jalan didominasi tanjakan dan turunan curam menjadi tantangan tersendiri selama menyusuri keindahan pulau ini. Berbeda dengan Pulau Wangi-Wangi yang relatif landai.

Dengan naik motor, saya menuju Desa Pajam untuk melihat tenun dalam keseharian perempuan pajam. Warga lokal menyebutnya kae ni homoru. Dari Desa Ollo, perjalanan ditempuh sejauh tujuh kilometer menuju Desa Pajam, Kecamatan Kaledupa Selatan. Medan yang menanjak dan berbatu cukup menyulitkan perjalanan sore itu, tetapi pemandangan menuju Pajam cukup membayar habis perjuangan dengan suasana desa yang asri, pepohonan-pepohonan kelapa yang rindang, serta birunya laut banda di kejauhan. Akhirnya setelah 15 menit berkendara, kami pun sampai di Pajam.

Perempuan Penenun Pajam

Tenun dan Perempuan

Gerbang Pajam menyambut saya. Salah satu desa di Kecamatan Kaledupa Selatan ini merupakan pemekaran dari dua kampung, Palea dan Jamaraka, pada tahun 1987. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Wakatobi tahun 2021, Pajam masuk ke dalam 29 wisata budaya, dari total 38 objek wisata di Kecamatan Kaledupa Selatan.  

“Desa Pajam baru berdiri sekitar 30-an tahun lebih. Sebelumnya, daerah ini terdiri dari dua kampung, Palea dan Jamaraka. Sebelum menjadi desa, Jamaraka dahulu bagian dari Desa Sandi, sementara Palea termasuk daerah Sampara,” kisah La Ode Meti, salah satu warga Pajam. 

Sore hari pada awal Juni itu, kami menyusuri tangga menuruni jalan kecil desa ini, persis berseberangan dengan sebuah surau bercat putih sederhana. Begitu menuruni tangga, kami bertemu dengan Harlina, warga Pajam yang sudah menenun lebih dari 30 tahun. Beliau dengan ramah mempersilahkan kami masuk ke kediamannya serta memperlihatkan banyak hal terkait tenun wakatobi, mulai dari bahan-bahannya, jenis-jenis sarung, sampai produk-produk kreatif dari tenun. 

“Saya sebenarnya bukan asli dari Kaledupa, melainkan Tomia. Namun, saya sudah menetap di pulau ini sudah lebih dari 30 tahun, Sehingga saya sedikit banyak tahu perihal tenun di Pajam ini,” Harlina membuka obrolan. 

Menenun sebagai aktivitas perempuan desa ini telah diajarkan kepada anak-anaknya, khususnya perempuan sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Jika masih terlalu muda untuk mengoperasikan alat tenun tradisional desa ini, maka anak-anak tersebut akan duduk di samping ibu mereka dan membantu proses-proses lain seperti purua ataupun oluri

Lebih lanjut, Harlina juga menjelaskan perihal motif tenun dan kedudukannya dalam masyarakat lokal Kaledupa. “Setiap motif dan warna tenun memiliki makna tersendiri. Contohnya seperti ini,” katanya. Dia memperlihatkan produk ikat kepala dengan aksen kerucut di atasnya. Ikat kepala tersebut bermotif kotak-kotak dengan perpaduan warna hitam, putih, dan biru. Motif jenis ini disebut katamba gahu.

Motif-motif sarung yang ada biasanya diambil dari pohon, buah-buahan, maupun bunga. Tiap motif memiliki kedudukan tersendiri dalam masyarakat. Katamba gahu, misalnya, hanya dipakai oleh lelaki berdarah bangsawan. Motif lain yang dipakai laki-laki seperti garao nihole. Artinya telur yang digoreng karena warna tenunnya perpaduan putih, kuning, dan sedikit warna oranye. 

Untuk perempuan juga terdapat beberapa jenis tenun, seperti kasopa ijo, kasopa tuju, serta leja. Motif ini melambangkan kasta pemakai, seperti kasopa yang umum dipakai kalangan biasa dan leja untuk kalangan bangsawan Kaledupa.

Sore itu kami bercerita banyak hal terkait sejarah tenun. Namun, karena hari mulai gelap, kami pun kembali ke Desa Ollo setelah sebelumnya membuat janji temu esok hari dengan harapan dapat melihat langsung proses pembuatan tenun pajam. 

Tenun

Tahap Penenunan

Lepas siang, sehari sebelum bertolak dari Kaledupa, saya kembali menyusuri jalan sepanjang Desa Ollo, belok kanan ke arah Desa Balasuna, lalu berbelok ke arah Palea. Terik siang hari dan jalanan yang berlubang menemani kami selama perjalanan. Kali ini kami menemui Hasmin, ketua kelompok tenun Desa Pajam. Hasmin menerangkan tahap-tahap penenunan yang sayang jika dilewatkan. 

Di teras rumah Hasmin yang menghadap langsung ke jalan utama desa, ia mulai bercerita. Ada delapan proses pembuatan homoru, mulai dari penanaman kapas. Pada tahap ini, kapas ditanam di lahan milik warga. Tanaman kapas siap panen sekitar enam bulan sejak waktu tanam. Setelah penanaman, proses selanjutnya adalah pemetikan kapas. Tahap selanjutnya setelah dipanen adalah hefurusi atau pembersihan biji kapas. 

Proses menenun. Dok. WWF
Proses menenun. Foto: WWF Indonesia

Setelah kapas dipisahkan dari biji-bijinya, kapas-kapas tersebut melalui tahap kapinde. Pada tahap ini, kapas dibentuk bulat ataupun lonjong sesuai bentuk yang diinginkan. Di Pajam, bola kapas ini disebut dengan komba-komba. Tahap selanjutnya yakni homossi, pembuatan komba-komba kali kedua. 

Tahap terakhir sebelum kapas bisa digunakan untuk menenun adalah penggilingan. Pada tahap ini, kapas-kapas yang telah diolah akan digiling hingga berbentuk benang. 

Benang-benang kapas yang telah digiling tadi selanjutnya melalui proses lungkana atau meluruskan benang. Benang yang telah lurus pun siap digunakan. Proses selanjutnya adalah mengikat benang untuk persiapan pemilihan motif sebelum diwarnai, dikenal dengan istilah boke. 

Benang yang telah diberikan tanda motif selanjutnya diwarnai sesuai keinginan. Proses ini dinamakan sobu atau pewarnaan. Benang yang telah kering setelah melalui proses pewarnaan akan digulung. Proses ini dinamakan purua. Tahap selanjutnya adalah oluri atau perentangan benang. Benang akan direntangkan untuk kemudian ditenun. Proses ini terbilang cukup rumit sebab memerlukan minimal dua orang dalam pengerjaannya. 

Setelah melalui tujuh tahapan di atas, benang pun siap ditenun. Proses menenun ini disebut homoru dalam bahasa setempat. 

Kelompok Tenun 

Tenun telah menjadi kebiasaan perempuan di desa ini. Namun, sebelum tenun menjadi komoditas seperti sekarang, perempuan di Pajam sempat menanam bawang karena nilai jualnya dulu tergolong tinggi. Lalu, karena serangan hama yang menyebabkan kerugian bagi petani, para perempuan Pajam perlahan meninggalkan aktivitas ini. Mereka mulai fokus mengembangkan tenun dengan lebih serius, tidak hanya sebagai suatu aktivitas selingan.

Awalnya aktivitas tenun dilakukan sendiri-sendiri. Dulunya, perempuan-perempuan Pajam hanya menenun untuk keperluan pribadi maupun pesanan sanak saudara. Berawal dari inisiasi kelompok swadaya masyarakat setempat yang melihat potensi cultural-tourism di Pajam, pada November 2016, dibentuklah wadah yang memayungi para penenun di desa ini. 

Saya sempat bertemu dengan Mulyadi, Warga Pajam yang menginisiasi pembentukan kelompok ini. “Karena kami melihat potensi dari aktivitas tenun. Diharapkan hal ini bisa membantu perekonomian warga meskipun dalam skala kecil,” katanya.

Pada awal terbentuknya, terdapat dua kelompok tenun, yakni Jalima di Palea dan Homoru Panglia di Jamaraka. Kelompok Jalima di Palea berfokus pada peningkatan kualitas tenun dengan teknik ikat yang rumit, sementara kelompok Homoru Panglia masih menenun dengan teknik biasa. Seiring waktu, kelompok Homoru Panglia mulai belajar teknik tenun ikat. 

Menurut Mulyadi, di awal pembentukannya, komunitas ini berfokus pada pemberian edukasi dan motivasi, serta membangun kerja sama kelompok. Untuk mempermudah pengorganisasian kelompok, akhirnya dibuatlah sebuah wadah yang memayungi dua kelompok tenun ini, yaitu Panglima.

Komunitas tenun kerap memberikan pelatihan kepada para anggotanya dalam menjawab tantangan pariwisata masa kini. Salah satu contohnya adalah diversifikasi produk tenun. Komunitas memfasilitasi pelatihan membuat jenis produk tenun yang bernilai ekonomi tinggi seperti syal, ikat kepala, berbagai jenis tas, dan aksesoris lainnya. 

Komunitas tenun juga berperan penting dalam pembagian kerja anggota kelompoknya. Kala mendapatkan pesanan tenun, komunitas akan membagi kerja tenun-tenun itu kepada para anggota komunitasnya. Hal ini sangat membantu penghasilan warga di tengah banyaknya masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Pekerjaan erat kaitannya dengan kesejahteraan masyarakatnya. Data Eksisting Desa Tertinggal dan Desa Sangat Tertinggal dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada tahun 2019 menyebutkan bahwa Desa Pajam berstatus tertinggal berdasarkan Indeks Desa Membangun.

“Di sini warganya memang tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga menenun ini bisa dibilang sangat membantu perekonomian kami, bahkan banyak yang menyekolahkan anak mereka dari penjualan tenunnya,” kata Herlina.

Pernyataan Herlina sejalan dengan Nusi, salah satu warga Kaledupa yang sempat saya temui sewaktu berkunjung ke Sekretariat Forkani Kaledupa siang tadi. “Sebenarnya data statistik pekerjaan penduduk pulau itu tidak sepenuhnya menggambarkan pekerjaan warga di sini, sebab kebanyakan warga tidak menetap di satu pekerjaan. Kadang berkebun, bertani rumput laut, memancing, sampai berdagang dilakukan,” ujar Nusi.

Pekerjaan tidak tetap tergantung musim inilah yang menjadikan tenun sebagai salah satu pemasukan stabil dan menjanjikan bagi warga Pajam. Namun, masa pandemi sekarang, membawa tantangan bagi perekonomian warga, khususnya dalam segi pariwisata.

Dampak Pandemi

Pandemi berdampak terhadap siklus pariwisata maupun penenunan itu sendiri. Berdasarkan publikasi BPS ‘Wakatobi dalam Angka tahun 2021’, terdapat pengurangan tajam jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Dari 5.764 wisatawan mancanegara di tahun 2019, merosot ke angka 415 di tahun 2020. Adapun wisatawan domestik yang berjumlah 23.093 di tahun 2019, turun hingga 3.096 di tahun 2020.

Tak hanya menurunnya turis, pandemi juga berdampak terhadap pasokan benang sebagai bahan baku tenun di Pajam.

Sebagai sebuah daerah kepulauan, transportasi bahan-bahan material tenun selalu menjadi tantangan bahkan sebelum pandemi. Untuk satu sarung, material yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Beberapa material ini dikirim langsung dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Selama pandemi, tidak jarang stok-stok benang kosong di pasaran. 

“Kemarin mertua saya sempat dari Bau-Bau hendak mencarikan stok benang Erlangga, tapi sayangnya kosong,” terang Herlina.

Selain persoalan material tenun, stok sarung tenun yang sempat menumpuk karena ketiadaan wisatawan merupakan persoalan lain selama pandemi. Wisatawan menjadi konsumen utama tenun Pajam selain pemerintah kabupaten setempat. Meskipun tidak datang setiap hari, wisatawan yang pernah ke Kaledupa beberapa kali melakukan pemesanan berulang. Pandemi dan ketiadaan wisatawan juga mempengaruhi semangat penenun perempuan pajam secara tidak langsung.

“Ya kita tetap menenun karena memang sudah kebiasaan sehari-hari di selang aktivitas lain seperti memasak, mengurus rumah, ataupun ke kebun. Tapi ya, begitu, tidak sesemangat dulu waktu sebelum pandemi,” ujar Herlina. Dia juga menunjukkan produk-produk tenun kreatif berdaya jual tinggi, seperti tas selempang, tas punggung, tempat gawai, sampai ikat kepala dari tenun wakatobi.

Di lain hari, Perbincangan saya dengan Mulyadi, inisiator kelompok tenun di Pajam turut menambahkan bahwa terjadi penurunan angka penjualan sejak pandemi. Tahun 2019, angka penjualan mencapai Rp80.000.000 lebih, tetapi angka ini turun hampir 75 persen di tahun 2020.

Ladang Kapas Desa Pajam. Foto: La Ode Muhammad Amriansyah

Tak Diam

Pandemi memang telah mematikan pariwisata di Pajam. Jika dulu Pajam kedatangan wisatawan sekitar tiga kali dalam sebulan, kini di masa pandemi, mereka tidak kedatangan wisatawan sedikit pun. Namun, warga Pajam pun tidak berdiam diri. Meski semangat menenun sempat turun, tetapi mereka terus menenun sebagai bentuk bertahan di tengah lesunya pariwisata.

Masyarakat mulai menanam kapas mereka sendiri. Sejak tahun 2018, bahan baku tenun tersebut mulai ditanam di lahan-lahan warga. Diinisiasi oleh pemerintah daerah setempat dan Forum Kahedupa Toudani (Forkani) sebagai lembaga swadaya lokal, penanaman kapas dilakukan mulai dengan satu hektare lahan warga di sekitar Pajam. Meskipun menjadi langkah awal kemandirian bahan produksi, tetapi mengolah kapas menjadi benang bukanlah hal yang mudah.

Meskipun Pajam mulai menanam kapas mereka sendiri, tetapi kapas yang ditanam tidak mencukupi kebutuhan produksi tenun di desa ini. Oleh sebab itu, mengimpor benang dari luar daerah menjadi salah satu solusi pemenuhan material tenun. Meskipun begitu, wisatawan tetap dapat menyaksikan proses pengolahan dari kapas menjadi kain tenun khas di waktu-waktu tertentu seperti festival daerah setempat.

Beberapa penenun perempuan yang saya temui mengungkapkan bahwa menenun dari kapas yang dipintal sendiri membutuhkan waktu sangat lama. Bisa sampai sebulan untuk satu sarung. Padahal, rata-rata penenun dapat memproduksi 3-4 sarung dalam sebulan. Meskipun demikian, potensi kemandirian akan bahan produksi sangat memungkinkan apabila dilakukan penanaman dalam jumlah besar yang dikelola secara serius dengan metode pengolahan kapas yang lebih modern.

Hal lain yang tetap dipertahankan kelompok tenun ini adalah penggunaan pewarna alami. Pewarna pakaian yang berasal dari alam telah digunakan sejak zaman dahulu, seperti daun ketapang (Terminalia Catappa), mengkudu (Morinda citrifolia), delima (Punica granatum), kayu jawa (Lannea coromandelica), serta tanaman indigo (Indigofera tinctoria).

“Penggunaan bahan alami sebagai pewarna tenun telah dilakukan masyarakat sejak dulu. Namun pemerintah daerah juga pernah melakukan pelatihan terkait hal ini, utamanya teknik dalam menguatkan warna kain agar tidak luntur,” kisah Hasmin, ketua kelompok tenun panglima.

Bersama pemerhati lingkungan setempat, warga Pajam tetap melakukan usaha-usaha peningkatan skill dalam segi pariwisata maupun kualitas tenun mereka. Beberapa kegiatan seperti seminar maupun pelatihan dilakukan beberapa kali selama masa pandemi.  Warga Pajam diberikan beberapa jenis pelatihan guna peningkatan skill seperti edukasi pemasaran sarung, diversifikasi produk sarung yang lebih terjangkau, motivasi warga menjadi pemandu wisata, serta public speaking.

Kelompok tenun panglima juga tengah memikirkan jenis benang lain dengan kualitas yang lebih baik. “Saat ini kami masih menggunakan benang berwarna putih cerah seperti ini,” kata Herlina sembari menunjukan seikat benang Erlangga.

“Kemarin kami kedatangan tamu yang memperlihatkan benang baru berwarna putih tulang. Setelah diuji coba, benang dengan dasar putih tulang ini membuat warna alami yang diberikan lebih pekat dan bagus, dibandingkan benang yang kita gunakan selama ini. Namun, sayangnya, benang ini tidak ada di Bau-Bau. Kemarin sempat berdiskusi terkait pengiriman benang ini, tetapi rencana pengiriman terganggu oleh pandemi,” katanya.

Di Wangi-Wangi, sebelum bertolak ke Kaledupa, saya bertemu perwakilan salah satu organisasi lingkungan yang mendampingi warga Desa Pajam. Ia menerangkan bahwa pendampingan terhadap masyarakat pajam sudah dilakukan sejak tahun 2006. “Pendampingan berupa pemberdayaan warga, termasuk promosi wisata sehingga wisatawan tertarik mengunjungi Pajam. Diharapkan, sarung tenun ini menjadi souvenir bagi wisatawan yang berkunjung,” ujarnya.

Pandemi tentu menjadi tantangan tersendiri bagi wisata budaya yang tengah dikembangkan di desa ini. Situasi ini mengakibatkan terhambatnya rancangan program maupun agenda yang hendak dilaksanakan. Staf lain menerangkan, selama pandemi, mereka lebih fokus dalam pemberian pelatihan-pelatihan bagi penenun di desa Pajam maupun lokasi-lokasi dampingan di Kabupaten Wakatobi.

Salah satu contohnya pelatihan peningkatan kemampuan public speaking pada awal Juni lalu di sebuah hotel di Wanci, Pulau Wangi-Wangi. 

Selain berfokus pada peningkatan stabilitas, tenun-menenun di desa ini, Kelompok tenun juga mulai memberdayakan remaja setempat dalam upaya pelestarian budaya, seperti tari-tari tradisional. Selanjutnya, aktivitas remaja pun mulai menyasar pemanfaatan limbah tenun seperti sisa kain, dan gulungan benang untuk diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi seperti gantungan kunci.

Di tengah pandemi, perempuan pajam tetap menenun. Kedudukan tenun tidak semata-mata sebagai aset budaya, melainkan sebuah kebiasaan yang terus-menerus dilakukan, sama halnya dengan memasak, berberes rumah, ataupun pekerjaan rutin lainnya.

Setelah tiga hari menikmati Kaledupa, pada Sabtu di bulan Juni, tepatnya subuh hari saat sinar matahari belum tampak dan langit masih biru gelap, saya pun bertolak dari Kaledupa menuju Wanci, ibukota Kabupaten Wakatobi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *