• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, February 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema

Anton Muhajir by Anton Muhajir
16 November 2018
in Berita Utama, Budaya, Sosok
0
0
Nia Dinata saat diskusi di Minikino Film Week 4. Foto Anton Muhajir.

Catatan (lebih dari) sebulan kemudian setelah Minikino Film Week 4.

Kok ulasannya telat banget, sih? Begitulah. Pertama karena pas pelaksanaan Minikino Film Week (MFW) 4 waktu itu sedang menduda. Tiga minggu jadi orangtua tunggal dan kepala keluarga.

Dan, ternyata, jadi orangtua tunggal itu merepotkan dan melelahkan juga. Urusan domestik rumah tangga lebih pelik dari mengurus negara. Hehehe..

Kedua, seperti biasa, karena banyak pekerjaan. Karena pengecer karya memang harus selalu kelihatan sibuk. Biar lebih meyakinkan dan tidak terlihat sebagai pengangguran.

Alasan terakhir, pemalas memang selalu punya alasan untuk menunda pekerjaan. Jadi ya, dimaklumi saja. Tidak usah dipahami.

Tabrakan Jadwal

Oke, cukup basa-basi dan omong kosongnya. Mari kembali ke MFW tahun ini.

Pada MFW keempat ini, saya mendapat kehormatan untuk menjadi juri kompetisi film pendek. Karena itu pada Juli 2018, tiga bulan sebelum pelaksanaan festival, saya sudah mendapatkan kesempatan nonton film-film pendek yang masuk nominasi pemenang.

Ini kegiatan menyenangkan karena bisa menikmati dan menilai 18 film pendek dari 11 negara. Filmnya berdurasi antara 3 – 20 menit dengan genre beragam: anak-anak, fiksi, dokumenter, animasi, dan eksperimental.

Selain sebagai juri, saya juga ditodong memandu salah satu diskusi MFW 4. Pembatalan kesediaan memandu diskusi lain karena tabrakan jadwal dengan pekerjaan ternyata justru jadi berkah. Sesi yang justru saya moderatori adalah diskusi bareng nama terkemuka dalam sinema Indonesia, Nurkurniati Aisyah Dewi.

HEH!! Who is Nurkurniati Aisyah Dewi!? Kenal saja tidak kok bilang nama terkemuka!

Oke. Nurkurniati Aisyah Dewi adalah nama asli Nia Dinata. Ini juga saya baru tahu dari Wikipedia saat membuat tulisan ini. Nama Nia Dinata tentu lebih terkenal dibandingkan nama aslinya. Dia jelas nama terkemuka di antara para sineas Indonesia.

Sebagai produser, perempuan yang juga lebih akrab dipanggil Teh Nia ini, membuat film-film terkenal, seperti Cau-ba-kan (2002), Arisan (2003) dan Berbagi Suami (2006). Ketiga film itu menyajikan cerita-cerita tentang topik tak biasa, misalnya perempuan China di Indonesia, homoseksualitas, dan kontroversi poligami.

Film Keluarga

MFW4 kali ini juga memutar film-film Nia Dinata dengan tema Keluarga ala Indonesia. Namun, ini bukan keluarga-keluarga biasa.

Ada tujuh film pendek berdurasi antara 15-20 menit diputar pada awal Oktober lalu itu. Di antaranya Elinah, Har, Perfect P, Sleep Tight Maria, dan Kebaya Pengantin. Hampir semua film itu diproduksi Kalyana Shira Film, rumah produksi yang didirikan Teh Nia, panggilan akrabnya.

Salah satu lokasi pemutarannya di Rumah Sanur, tempat kumpul beragam komunitas di Sanur. Sekitar 30 orang menonton tujuh film pendek itu lalu dilanjut ngobrol santai dengan Teh Nia. Penonton duduk di kursi menyimak dengan manis layaknya mahasiswa baru pertama kali kuliah sementara pembicara dan moderatornya duduk di bean bag, santai kayak di pantai.

Aku sendiri kelewat satu film pertama, Elinah. Namun, masih ada enam film lain yang menarik untuk disimak.

Film-film pendek ini bercerita tentang keluarga-keluarga tak biasa.

Film Har, misalnya, menggunakan masa cerita 1997, tahun terakhir Orde Baru. Orang-orang duduk di beranda rumah ngobrol dalam bahasa Jawa perihal apakah Soeharto akan bersedia diganti atau tidak.

Salah satu di antara bapak-bapak yang ngobrol itu adalah bapaknya si Har, anak SD yang ditinggal ibunya menjadi buruh migran. Film ini membongkar paradigma kuno bahwa bapak adalah kepala keluarga dan harus menjadi penanggung jawab sumber dana.

Sebaliknya, film Har menegaskan bapak juga bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, termasuk memasak, mengantar anak sekolah, dan semacamnya.

Teh Nia memang senang dengan narasi melawan kemapanan pandangan arus utama. Itu pula yang dia sampaikan Teh Nia lewat Perfect P. Film ini menceritakan definisi keluarga di mata seorang remaja pria. Dalam pandangan arus utama ala Indonesia, keluarga adalah ibu, bapak, dan anak-anak. Namun, dalam film ini, keluarga bagi Putra, si tokoh utama adalah bapak dan bapak. Dia memang anak (angkat?) dari pasangan gay.

Hal tak biasa, tetapi harus mulai dibiasakan. Bahwa keluarga bisa punya banyak rupa. Bisa punya banyak cara.

Timur Tengah

Film lain yang menarik adalah Kebaya Pengantin, kisah asmara laki-laki dengan waria. Si waria adalah penata busana yang mengantarkan pacarnya pulang kampung untuk kawin dengan perempuan lain. Kebaya buatan si waria dipakai perempuan itu.

Ada tragedi. Ada ironi. Semacam pesan bahwa budaya kita masih terikat pada nilai-nilai biner, laki-laki vs perempuan. Tidak mungkin ada pernikahan antara laki-laki dan waria.

Melalui film-filmnya, Teh Nia menggugat kemapanan budaya itu. Seolah menegaskan, ada lho nilai-nilai berbeda. Ada lho cerita-cerita “tabu” diungkap meskipun praktiknya itu terjadi sehari-hari di dunia nyata.

Dia memang melakukannya dengan sengaja.

Niatan semacam itu justru muncul berdasarkan pengalaman pribadinya. Saat remaja, dia pernah tinggal di Timur Tengah. Kalau tak salah sih di Saudi Arabia.

[Mmmm, maaf ya, Mbak jika salah. Saya tidak mencatat detail diskusi kita karena lebih khusyuk mendengar]

Selama di sana, dia merasakan hal sangat berbeda dibandingkan pengalaman di Indonesia. Salah satunya karena sebagai perempuan, dia sangat dibatasi aktivitasnya. Tidak bebas pergi sendiri.

Namun, pembatasan berlebihan justru melahirkan pemberontakan. “Pengalaman hidup selama di Timur Tengah justru membuat saya ingin membuat film-film yang melawan pembatasan semacam itu,” kata Teh Nia saat itu.

Menurut Teh Nia, melalui film-film semacam itu, dia berharap pemirsa filmnya akan makin terbuka pada mereka-mereka yang dianggap berbeda, terutama kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Mereka yang dianggap liyan oleh arus utama.

Maka, lahirlah film-film bertema keluarga tak biasa dari Teh Nia. Cerita-cerita tentang mereka yang selama ini sering mendapatkan stigma dan diskrminasi hanya karena mereka berbeda.

Di tangan Teh Nia, film tak sekadar media untuk bercerita dan menghibur semata, tetapi alat untuk membela mereka yang selama ini kurang mendapat tempat untuk bersuara.

Tags: FilmMFW 4minikinoProfilSosok
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Nobar 254 Film Pendek dari 59 Negara di Minikino Film Week Festival Tahun ini

Nobar 254 Film Pendek dari 59 Negara di Minikino Film Week Festival Tahun ini

7 September 2025
Mengolah Tabu Jadi Tebu

Satu Dekade Minikino Film Week

5 September 2024
Mamak dan Kecemasan akan Kesendirian dalam Film Lahn Mah

Mamak dan Kecemasan akan Kesendirian dalam Film Lahn Mah

8 June 2024
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018

Minikino Film Week 9: Menyaksikan Komedi tidak Biasa

26 September 2023
Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Film Sekeping Kenangan, Merajut Ingatan Para Eks Tapol 65 di Bali

Film Sekeping Kenangan, Merajut Ingatan Para Eks Tapol 65 di Bali

3 October 2022
Next Post
Revolusi Tini Wahyuni di Panggung 11 Ibu

Revolusi Tini Wahyuni di Panggung 11 Ibu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

10 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia