• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Tangani Rabies, RS Sanglah Jajagi Metode Baru

Eka Prasetya by Eka Prasetya
28 November 2010
in Kabar Baru
0
0

Teks Eka Prasetya, Foto Luh De Suriyani

Tim medis di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, akan menjajagi metode baru dalam pemberian vaksin anti rabies (VAR). Metode ini diyakini mampu menekan biaya pembelian VAR hingga 50 persen.

Metode yang kini tengah dilirik oleh para tim medis di RS Sanglah adalah metode pemberian VAR dengan metode intradermal, atau vaksinasi di bawah jaringan kulit korban gigitan anjing. Sebelumnya, RS Sanglah hanya menggunakan metode intramuskular atau vaksinasi di jaringan otot penderita.

Menurut Sekretaris Tim Penanggulangan RS Sanglah, dr. IGB Ken Wirasandhi, MARS. metode intradermal ini merupakan hasil dari kunjungan kerja (kunker) yang telah dilakukan di India sekitar tiga pekan yang lalu. Selama ini, India memang dikenal dengan negara yang kasus gigitan anjing maupun rabiesnya masih cukup tinggi.

Di negara yang terletak di kawasan Asia Selatan itu, metode intradermal ini ternyata tergolong efektif dan efisien. Sehingga tim medis memutuskan untuk menggunakan metode yang serupa di Indonesia, khususnya Bali.

Dijelaskan oleh dr. Ken, selain India, metode intradermal ini juga telah diterapkan di Thailand dan Filipina. “Di tiga negara itu pola ini efektif untuk dilaksanakan. Karena ras antara warga Indonesia dengan warga ketiga negara itu sama, kami yakin di Indonesia juga akan berhasil,” ujar Ken yang ditemui di RS Sanglah, Sabtu (27/11) lalu.

Untuk memastikan keberhasilan metode intradermal ini, Rumah Sakit Sanglah bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) akan melakukan pemantauan kepada para pasien yang menggunakan metode intradermal ini. Metode anyar ini efektif mulai diberlakukan di RS Sanglah, mulai Senin (29/11).

Khusus untuk metode intradermal, tim medis akan melakukan vaksinasi terhadap 20 orang karyawan RS Sanglah yang tidak memiliki riwayat gigitan anjing. Selain itu, tim medis juga akan melakukan vaksinasi dengan metode intramuskular terhadap 20 orang masyarakat yang menjadi korban gigitan anjing.

Nantinya kedua metode ini akan dibandingkan satu sama lain oleh tim peneliti dari FK Unud. “Kami akan pantau selama 28 hari kedepan para penerima VAR ini. Mana yang lebih bagus pembentukan anti-bodinya, apakah intradermal atau intramuskuler. Kami pantau secara intens di lab biomolekuler FK Unud,” papar dokter yang juga sempat melakukan kunker ke India beberapa waktu.

Lebih Efisien

Ken meyakini juga metode intradermal ini jauh lebih efisien daripada menggunakan metode intramuskular yang telah digunakan sejak dua tahun terakhir ini. Meski lebih sulit dilakukan, namun dosis yang digunakan untuk satu kali pemberian vaksin jauh lebih efisien ketimbang metode intramuskular.

Vaksinasi dengan menggunakan metode intradermal ini juga diberikan lebih intens daripada metode intramuskular. Jika metode intramuskular hanya diberikan sebanyak tiga kali kepada seorang korban gigitan anjing, maka metode intramuskular diberikan sebanyak empat kali terhadap seorang korban gigitan.

Selama ini metode intramuskular diberikan pada hari pertama, hari ketujuh, dan hari ke-21. Sementara metode intradermal diberikan pada hari pertama, hari ketiga, hari ke-14, dan hari ke-28.

Meski lebih intens diberikan, metode intradermal ini lebih efisien. Karena dalam sekali pemberian vaksin, korban gigitan anjing hanya diberikan sebanyak 0,2 cc. Artinya untuk empat kali vaksinasi (vaksinasi lengkap), tim medis hanya menghabiskan 0,8 cc VAR saja.

Sedangkan pada metode intramuskular, seorang korban gigitan anjing bisa menghabiskan hingga 4 cc atau 4 ampul VAR. Padahal satu ampul VAR harganya bisa mencapai Rp 150.000.

“Paling tidak pemerintah bisa menghemat pengeluaran untuk pembelian VAR hingga setengahnya. Alokasi dana untuk pembelian VAR masih bisa digunakan untuk kegiatan lain,” kata Ken.

Efek Samping

Meskipun lebih efisien, tim medis di RS Sanglah tidak menutup mata terhadap kemungkinan terjadinya efek samping dari pemberian VAR dengan metode intradermal ini. Namun efek samping yang timbul tidak terlalu ekstrim, dan hanya berkisar pada munculnya demam saja.

Efek samping yang timbul memang tidak seekstrim pemberian serum anti rabies (SAR). Pemberian SAR sendiri dapat menimbulkan alergi yang berkepanjangan bagi penerimanya.

Pemberian metode intradermal ini juga menuntut paramedis untuk mengetahui riwayat medis penerima VAR. Sebab, penerima VAR dengan metode intradermal ini tidak boleh mengkonsumsi obat untuk penyakit malaria, atau obat-obatan yang mengandung steroid.

“Kalau pasien yang akan diberikan mengkonsumsi obat-obatan itu, bisa timbul reaksi lain. Jadi hanya bisa diberikan dengan metode intramuskular saja,” kata Ken.

Pemberian vaksin dengan metode intramsukular ini juga berlaku apabila tim medis mengalami kesulitan dalam memberikan vaksin dengan metode intradermal. “Kalau sudah dua atau tiga kali gagal atau merasa sulit, langsung saja gunakan intramuskular,” tandasnya.

Untuk diketahui, vaksinasi dengan metode intradermal ini terbukti berjalan efektif di sejumlah negara di Benua Asia, seperti India, Filipina, dan Thailand. Khusus untuk India, vaksinasi dengan metode intradermal ini diberikan kepada warga yang memiliki resiko gigitan anjing cukup tinggi, seperti anak kecil, penggembala ternak, tukang pos, dan petugas atau peneliti di laboratorium. [b]

Tags: intradermalintramuskularRabiesRS Sanglahsanglahvaksin anti rabiesVAR
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Eka Prasetya

Eka Prasetya

nothing

Related Posts

Mengenal Dewi, Gadis Sang Penyelamat Anjing di Bali

Program Dharma demi Badung Bebas Rabies

17 December 2018
Program Dharma Memperingati Hari Rabies di Sanur

Program Dharma Memperingati Hari Rabies di Sanur

25 October 2017
Pengendalian Rabies Berbasis Budaya di Bali

Pengendalian Rabies Berbasis Budaya di Bali

27 October 2016
Rangkuman Foto & Video Banjir di Denpasar

Rangkuman Foto & Video Banjir di Denpasar

21 February 2015
Waspada, Anjing Rabies di Tabanan

Saatnya Mencegah Rabies di Bali

5 June 2012
In Memoriam Putu Andra

In Memoriam Putu Andra

26 October 2010
Next Post
Stigma Menyulitkan Penanggulangan AIDS

Stigma Menyulitkan Penanggulangan AIDS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia