• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Tak Ada Aksara Bali di Bandara Ngurah Rai

Ari Putranta by Ari Putranta
28 June 2013
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru, Opini, Travel
0
4

Pembangunan Bandara

Saya sangat tertarik statemen Bapak Mangku Pastika bahwa Bali tidak memiliki sumber daya alam untuk membangun daerah.

Oleh karena itu Bali harus mampu menciptakan sumber daya manusianya untuk membangun daerahnya setara atau bahkan lebih maju dibanding dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Barangkali leluhur orang-orang Bali juga sudah memahami hal ini sehingga selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri untuk hidup yang lebih baik di dalam interaksinya dengan orang-orang dari daerah lain.

Usaha-usaha leluhur orang Bali kemudian terekam dalam jejak yang menghasilkan produk budaya yang bisa kita nikmati hingga saat ini. Salah satu produk budaya tersebut adalah aksara Bali.

Aksara Bali seperti halnya huruf latin yang lumrah kita pakai dewasa ini merupakan media interaksi antar sesama baik pada masa yang sama maupun dengan generasi penerusnya. Aksara Bali seperti halnya bahasa Bali merupakan produk budaya yang menjadi bukti dari kecemerlangan manusia Bali dari generasi ke generasi. Penggabungan keduanya telah banyak menghasilkan karya sastra berkualitas. Beberapa di antaranya masih kita wariskan hingga saat ini.

Pelestarian aksara dan bahasa Bali pun sudah dilakukan oleh segenap masyarakat dan pemangku pemerintahan di pulau dewata ini. Bahkan khusus aksara Bali, kini sudah banyak ditorehkan di berbagai media seperti papan nama jalan, instansi pemerintahan ataupun beberapa toko yang ada seperti pertokoan di sepanjang Jalan Gajah Mada Denpasar.

Cara-cara seperti ini cukup efektif untuk mengingatkan kita tentang aksara Bali yang harus tetap kita lestarikan dan perlakukan sejajar dengan huruf latin saat ini. Selain sebagai produk budaya, aksara Bali juga sudah seharusnya menjadi identitas bagi Bali.

Tetapi akasara Bali sebagai identitas Bali saat ini belum tersentuh atau memang tidak disentuh di megaproyek renovasi Bandara Internasional Ngurah Rai yang menjadi salah satu pintu gerbang dan kebanggan masyarakat Bali.

Beberapa kali mengunjungi Bandara Ngurah Rai baik sebelum maupun masih tahap renovasi, saya belum pernah melihat aksara Bali tertoreh di areal bandara. Bahkan beberapa hari lalu saat saya berada di Bandara Ngurah Rai, di papan-papan informasi tersebut selain terdapat beberapa bahasa, juga terdapat beberapa huruf yaitu latin dan beberapa huruf dari negara lain seperti Jepang.

Fungsi utama dari papan informasi adalah sebagai informasi bagi yang membacanya. Karena papan-papan informasi tersebut berada di sebuah bandara internasional, adalah wajar apabila pengelola menampilkannya dalam berbagai bahasa dan aksara. Tetapi kita juga harus sadar bahwa Bandara Ngurah Rai merupakan pintu masuk  utama bagi wisatawan mancanegara yang datang ke Bali yang akan memberikan kesan awal.

Alangkah lebih baiknya jika kesan yang kita tampilkan adalah poin-poin identitas Bali sendiri. Seperti halnya tempelan arsitektur Bali dalam bangunan airport, aksara dan bahasa Bali sudah selayaknya kita perlakukan sejajar dengan huruf dan bahasa lainnya dari seluruh dunia dengan mencantumkannya di seluruh papan-papan informasi di Bandara Internasional Ngurah Rai.

Ya, aksara dan bahasa Bali sudah selayaknya mendapat tempat dan perlakuan layak di rumahnya sendiri, apalagi di Bandara Internasional Ngurah Rai yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali. [b]

Tags: ArsitekturBadungBaliBudayaJurnalismejurnalisme wargaLingkunganLSMMediaOpiniPariwisataPendidikanSeniTravelTravelingWisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ari Putranta

Ari Putranta

bankir di sebuah bank swasta...hanya ingin berbagi

Related Posts

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

19 December 2025
Next Post
Pohon: Please Jangan Sakiti Kami….

Pohon: Please Jangan Sakiti Kami....

Comments 4

  1. Made Wirautama says:
    13 years ago

    Ide yang bagus. Atau kalau tidak memungkinkan di semua papan informasi, setidaknya di beberapa tempat seperti di ucapan “selamat datang” seharusnya ditampilkan, baik dalam aksara Bali maupun dalam bahasa Bali namun dengan huruf latin.

    Reply
  2. Osila says:
    13 years ago

    mudah-mudah tulisan ini dibaca oleh gubernur baru dan para petinggi Bandara, swaha.

    Reply
  3. jarot says:
    13 years ago

    Bila perlu setiap tulisan seperti petunjuk arah, keterangan tempat dll itu semua di isi tulisan aksara bali. kayaknya mantap itu…

    Reply
  4. Janne Siregar says:
    13 years ago

    Wah, saya teramat sangat setuju. Sekarnag, Bali betul-betul dihabisi dengan modernitas, komersialisme o/ sekelompok oknum2 yang tamak. Investasi asing dan sgala sesuatu yg mnghasilkan uang mnjdi sangaat penting.
    Kita harus menggalakan kembali budaya lokal, citra/identitas pulau Bali. Biar para pendatang belajar dan menghargai budaya dan kearifan lokal.
    Salam,
    Janne

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia