
Manusia tak pernah lepas dari air. Ketika lelah, kita minum air. Ketika tubuh terasa lengket, kita mengguyur badan dengan air. Air memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah kamu sadar bahwa air bersih semakin berkurang?
IDEP Selaras Alam melakukan riset bersama Politeknik Negeri Bali terkait kondisi air di Bali. Riset tersebut menemukan bahwa Bali mengalami penurunan kualitas dan kuantitas air karena berbagai faktor, salah satunya adalah faktor industri pariwisata.
Dari hasil riset tersebut IDEP mencanangkan program Bali Water Protection, program yang fokus pada pelestarian sumber daya air di Bali. Sejumlah hal dilakukan oleh IDEP untuk mengelola air berkelanjutan, demi mengatasi krisis air di masa depan.
Pengelolaan air berkelanjutan ini dikenalkan oleh IDEP kepada peserta Jelajah Inovasi Pekan Iklim Bali. Peserta diajak berkeliling kantor IDEP yang berlokasi di Desa Kemenuh, Gianyar.
Rimbun pepohonan di kantor IDEP membuat udara panas berganti sejuk. Di balik rimbun pepohonan ternyata ada unsur alam yang menopang kesuburan tanaman.

Kami disambut oleh Edward, salah satu tim IDEP. Lokasi penjelajahan pertama adalah melihat cara IDEP memanen air hujan dengan sumur resapan atau recharge well. Edward menunjuk talang air yang ada pada bangunan kantor. Talang air tersebut yang mengarahkan air hujan ke wilayah resapan.
Wilayah resapan air berupa permukaan tanah yang ditanami rumput. Lalu, air akan masuk ke saringan berupa kerikil dan ijuk. Penyaringan dilakukan untuk memastikan kualitas air yang masuk ke sumur resapan memiliki kualitas bagus. Kemudian, air akan mengalir ke pipa menuju sumur resapan.
Panen air hujan ini dilakukan karena Bali telah terlalu banyak mengambil air tanah. “Air tanah itu cadangan sifatnya, yang dipakai semestinya air permukaan, sungai, dan danau,” ujar Edward. Namun, kondisi di Bali justru sebaliknya. Air tanah dikuras lebih dulu sampai habis. Edward menjelaskan bahwa hal tersebut dapat menyebabkan banyak masalah, salah satunya krisis air.

Kami pun diberikan kesempatan untuk melihat isi sumur resapan. Ketika dibuka, tidak ada air dalam sumur. “Karena airnya sudah diserap ke dalam,” ungkap Edward. Sumur memiliki kedalaman 4 meter karena kedalaman tersebut dinilai efektif untuk lokasi Gianyar.
“Tapi kalau di wilayah selatan, misalnya di Sanur, Kuta, dan sebagainya yang masif banget pengambilan air tanah, sebaiknya lebih dalam,” imbuhnya. Bali dipetakan menjadi tiga area imbuhan untuk mengisi kembali air tanah. Daerah imbuhan utama berada di Tabanan, Buleleng, Jembrana, Gianyar, dan Klungkung. “Kalau mau ngisi air tanah, yang paling efektif adalah bikin sumur imbuhan di area imbuhan utama,” papar Edward.
Meski begitu, sumur resapan yang diisi sekarang baru bisa dipanen 40 tahun kemudian. Edward mengatakan setidaknya langkah ini bisa dilakukan untuk mengantisipasi krisis air di masa depan. Selain mengantisipasi krisis air, sumur resapan ini juga bisa digunakan untuk mengurangi limpasan air banjir.

Cara lain yang dilakukan IDEP untuk mengelola air adalah membangun waste water garden, pengelolaan limbah cair rumah tangga. Toilet dan dapur dibangun bersebelahan bukan tanpa alasan. Itu dilakukan untuk mengelola limbah cair dari toilet dan dapur, kemudian dialirkan ke kebun yang berada di sebelahnya.
Limbah cair dari toilet dan dapur akan mengalir dan difilter dengan beberapa teknik saringan melalui kerikil, ijuk, dan tanaman. Ada juga kolam yang digunakan untuk filtrasi air dan aerasi. “Aerasi ini untuk menghilangkan bau. Dikasih oksigen supaya airnya tidak berbau,” jelas Edward.

Cara untuk mengetahui bahwa air pengolahan limbah rumah tangga sudah sehat dengan memelihara ikan. “Kalau ikannya hidup berarti airnya sudah sehat,” ungkap Edward. Air yang sudah diolah tersebut dapat digunakan untuk pangan dan kebun. Tampak tanaman di kebun IDEP tumbuh subur, meski air yang mengalir berasal dari limbah rumah tangga.
Muchamad Awal, Director IDEP menjelaskan hingga saat ini Bali Water Protection telah membangun 74 sumur yang tersebar di 9 kabupaten/kota di Bali. “Satu sumur diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan 4-6 keluarga,” ungkap Awal.
Menutup diskusi hari itu, Awal menyebutkan manusia adalah sumber krisis sekaligus kunci solusi krisis air. Kesejahteraan hanya dapat dicapai dengan menjaga kelestarian lingkungan yang dimulai dari diri sendiri.
kampungbet kampungbet kampungbet sangkarbet










