• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Sumur Resapan dan Filter Air Limbah Rumah Tangga, Cara Mudah Konservasi Air

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
5 September 2025
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Manusia tak pernah lepas dari air. Ketika lelah, kita minum air. Ketika tubuh terasa lengket, kita mengguyur badan dengan air. Air memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah kamu sadar bahwa air bersih semakin berkurang?

IDEP Selaras Alam melakukan riset bersama Politeknik Negeri Bali terkait kondisi air di Bali. Riset tersebut menemukan bahwa Bali mengalami penurunan kualitas dan kuantitas air karena berbagai faktor, salah satunya adalah faktor industri pariwisata. 

Dari hasil riset tersebut IDEP mencanangkan program Bali Water Protection, program yang fokus pada pelestarian sumber daya air di Bali. Sejumlah hal dilakukan oleh IDEP untuk mengelola air berkelanjutan, demi mengatasi krisis air di masa depan.

Pengelolaan air berkelanjutan ini dikenalkan oleh IDEP kepada peserta Jelajah Inovasi Pekan Iklim Bali. Peserta diajak berkeliling kantor IDEP yang berlokasi di Desa Kemenuh, Gianyar.

Rimbun pepohonan di kantor IDEP membuat udara panas berganti sejuk. Di balik rimbun pepohonan ternyata ada unsur alam yang menopang kesuburan tanaman.

Edward menjelaskan tentang sumur resapan

Kami disambut oleh Edward, salah satu tim IDEP. Lokasi penjelajahan pertama adalah melihat cara IDEP memanen air hujan dengan sumur resapan atau recharge well. Edward menunjuk talang air yang ada pada bangunan kantor. Talang air tersebut yang mengarahkan air hujan ke wilayah resapan.

Wilayah resapan air berupa permukaan tanah yang ditanami rumput. Lalu, air akan masuk ke saringan berupa kerikil dan ijuk. Penyaringan dilakukan untuk memastikan kualitas air yang masuk ke sumur resapan memiliki kualitas bagus. Kemudian, air akan mengalir ke pipa menuju sumur resapan.

Panen air hujan ini dilakukan karena Bali telah terlalu banyak mengambil air tanah. “Air tanah itu cadangan sifatnya, yang dipakai semestinya air permukaan, sungai, dan danau,” ujar Edward. Namun, kondisi di Bali justru sebaliknya. Air tanah dikuras lebih dulu sampai habis. Edward menjelaskan bahwa hal tersebut dapat menyebabkan banyak masalah, salah satunya krisis air.

Sumur resapan air hujan

Kami pun diberikan kesempatan untuk melihat isi sumur resapan. Ketika dibuka, tidak ada air dalam sumur. “Karena airnya sudah diserap ke dalam,” ungkap Edward. Sumur memiliki kedalaman 4 meter karena kedalaman tersebut dinilai efektif untuk lokasi Gianyar.

“Tapi kalau di wilayah selatan, misalnya di Sanur, Kuta, dan sebagainya yang masif banget pengambilan air tanah, sebaiknya lebih dalam,” imbuhnya. Bali dipetakan menjadi tiga area imbuhan untuk mengisi kembali air tanah. Daerah imbuhan utama berada di Tabanan, Buleleng, Jembrana, Gianyar, dan Klungkung. “Kalau mau ngisi air tanah, yang paling efektif adalah bikin sumur imbuhan di area imbuhan utama,” papar Edward.

Meski begitu, sumur resapan yang diisi sekarang baru bisa dipanen 40 tahun kemudian. Edward mengatakan setidaknya langkah ini bisa dilakukan untuk mengantisipasi krisis air di masa depan. Selain mengantisipasi krisis air, sumur resapan ini juga bisa digunakan untuk mengurangi limpasan air banjir.

Waste water garden

Cara lain yang dilakukan IDEP untuk mengelola air adalah membangun waste water garden, pengelolaan limbah cair rumah tangga. Toilet dan dapur dibangun bersebelahan bukan tanpa alasan. Itu dilakukan untuk mengelola limbah cair dari toilet dan dapur, kemudian dialirkan ke kebun yang berada di sebelahnya.

Limbah cair dari toilet dan dapur akan mengalir dan difilter dengan beberapa teknik saringan melalui kerikil, ijuk, dan tanaman. Ada juga kolam yang digunakan untuk filtrasi air dan aerasi. “Aerasi ini untuk menghilangkan bau. Dikasih oksigen supaya airnya tidak berbau,” jelas Edward.

Kebun IDEP

Cara untuk mengetahui bahwa air pengolahan limbah rumah tangga sudah sehat dengan memelihara ikan. “Kalau ikannya hidup berarti airnya sudah sehat,” ungkap Edward. Air yang sudah diolah tersebut dapat digunakan untuk pangan dan kebun. Tampak tanaman di kebun IDEP tumbuh subur, meski air yang mengalir berasal dari limbah rumah tangga.

Muchamad Awal, Director IDEP menjelaskan hingga saat ini Bali Water Protection telah membangun 74 sumur yang tersebar di 9 kabupaten/kota di Bali. “Satu sumur diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan 4-6 keluarga,” ungkap Awal.

Menutup diskusi hari itu, Awal menyebutkan manusia adalah sumber krisis sekaligus kunci solusi krisis air. Kesejahteraan hanya dapat dicapai dengan menjaga kelestarian lingkungan yang dimulai dari diri sendiri.

kampungbet kampungbet kampungbet sangkarbet
Tags: Krisis Airkrisis air balikrisis iklimpekan iklim balipengelolaan airsumur resapanwaste water garden
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Air Menipis di Pulau Tirta: Masalah Akses di Perkotaan hingga Resapan di Hulu

Air Menipis di Pulau Tirta: Masalah Akses di Perkotaan hingga Resapan di Hulu

24 February 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Refleksi Geologi Perkotaan dan Airtanah: Pemulihan atau Bayar Mahal di Masa Depan

Refleksi Geologi Perkotaan dan Airtanah: Pemulihan atau Bayar Mahal di Masa Depan

13 October 2025
Jejak Pangan, Jejak Iklim. Apakah Benar Bali Surplus Beras?

Jejak Pangan, Jejak Iklim. Apakah Benar Bali Surplus Beras?

3 October 2025
Lima Pemimpin Agama Menyatukan Suara Perlindungan Alam

Lima Pemimpin Agama Menyatukan Suara Perlindungan Alam

29 September 2025
Next Post
Menyemai Harapan Kota Melalui Suara Anak Muda di Youth City Fora

Menyemai Harapan Kota Melalui Suara Anak Muda di Youth City Fora

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

15 March 2026
Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia