Ketika Tubuh-Tubuh Perempuan Menyerap Benturan Krisis di Riuh Rendah Pasar Badung

Oleh: Made Suci Ananda Putri dan Ni Kadek Vinita Dwi Antarini
Di Pasar Badung, hari dimulai jauh sebelum matahari terbit. Bau kencur yang ditumbuk kasar, aroma amis daging basah di atas semen dingin, dan derit keranjang kayu menjadi penanda bahwa roda ekonomi kota mulai berputar. Di atas kertas resmi, angka inflasi Kota Denpasar sebesar 3,46 persen mungkin hanya tampak sebagai deretan data statistik. Namun, di selasar pasar, angka itu mewujud menjadi kecemasan yang nyata di mata para pedagang.
Di antara lorong gedung yang remang, Intan memangku bakul nasi kuning lima ribuan miliknya. Kemarau panjang memangkas pasokan daun pisang hingga harganya melambung drastis dari Rp15.000 menjadi Rp50.000 per ikat. Harga beras merambat naik dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per kilogram, disusul oleh melonjaknya harga cabai. Meski modal usahanya membengkak, Intan menolak menaikkan harga jual nasinya.
“Biasa jual lima ribu, malu naikin,” tuturnya pelan.
Keputusan menahan harga jual ini lahir dari kepasrahan yang mengimpit. Intan paham betul bahwa para pembelinya adalah warga kecil yang sedang sama-sama kesulitan. Jika harga dinaikkan, ia takut pembelinya menghilang. Namun, menanggung selisih modal sendirian membuat dadanya sesak oleh keletihannya.
“Kalo gaada yang beli nasi to, pingin teriak itu lo,” aku Intan.
Keterjepitan ini kian berat saat menengok kondisi rumahnya. Intan tinggal berdua bersama cucunya yang sedang menempuh pelatihan (training) di sebuah hotel. Sang cucu belum memiliki penghasilan, hingga biaya SPP sekolahnya menunggak sampai empat kali. Namun, saban pagi, Intan selalu menyisihkan uang bekal Rp50.000 untuk cucunya. Ia menolak mengurangi nominal tersebut bukan karena bergelimang uang, melainkan karena rasa cemas yang dalam: takut sang cucu kehausan atau kehabisan bensin di jalan saat harga kebutuhan sedang mahal. Keselamatan dan kenyamanan cucunya selalu ia dahulukan di atas kebutuhan fisiknya sendiri.
Puncak dari empati itu terlihat ketika waktu berdagangnya usai. Saat siang tiba dan empat bungkus nasi kuningnya masih tersisa di dasar bakul, Intan menyerahkan seluruh sisa nasi itu kepada kami tanpa mau menerima selembar uang pun sebagai pembayaran. Bagi Intan, menolak memberi atau menolak berbagi adalah sebuah keburukan, hingga ia berprinsip tidak boleh menolak rezeki.
Sikap Intan memperlihatkan betapa dalamnya rasa kemanusiaan di selasar pasar. Namun, di balik kebaikan itu, ada kenyataan yang ganjil. Sampai kapan ketahanan ekonomi keluarga dan kota ini harus terus-menerus disangga oleh kompromi modal serta pengorbanan sunyi para perempuan pedagang?
Untuk memahami fenomena ini, pemikir feminis Nancy Fraser merumuskan Social Reproduction Theory (Teori Reproduksi Sosial). Fraser menjelaskan bahwa sistem ekonomi formal dan aktivitas pasar sebenarnya berdiri tegak di atas fondasi kerja reproduksi sosial, seperti memasak, mengasuh, dan merawat anggota keluarga. Kerja perawatan ini hampir seluruhnya ditumpukan pada perempuan tanpa mendapat imbalan finansial yang layak. Ditambah dengan konsep The Second Shift dari sosiolog Arlie Hochschild, perempuan yang bekerja mencari nafkah di ruang publik masih dituntut menjalankan beban kerja kedua di ruang domestik.
Di Pasar Badung, teori ini hadir bukan sebagai wacana akademis, melainkan sebagai realitas sehari-hari. Perempuan pedagang bertindak sebagai penyangga utama yang menyerap guncangan krisis ekonomi lewat ketergerusan modal dan kelelahan fisik tubuh mereka sendiri, agar dapur rumah tangga tidak langsung runtuh.
Tekanan krisis yang menimpa perempuan pedagang di Pasar Badung terjadi di berbagai lini, akibat himpitan kebijakan publik hingga perubahan iklim.
Di lapak daging ayam, Nana yang berjualan bersama suaminya mendapati modal dagangannya membumbung tinggi karena pasokan ayam lokal berkurang drastis akibat terserap oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kelangkaan pasokan ini menipiskan margin keuntungan mereka, memaksa Nana menaikkan harga secara perlahan sambil terus cemas kehilangan pelanggan. Sementara di kios sembako, Wiryantini menghadapi melonjaknya harga cabai dari Rp65.000 menjadi Rp90.000 per kilogram akibat efek El Nino dan jalur pengiriman yang terhambat. Berdagang seorang diri dari jam empat pagi hingga jam dua siang membuat stamina fisiknya habis terkuras.

“Di rumah enggak masak lagi, tapi beli,” kata Bu Wiryantini.
Sesampainya di rumah, Wiryantini memilih membeli makanan jadi dan langsung beristirahat. Kelelahan fisik yang teramat sangat telah merampas fungsinya untuk mengolah makanan di dapur sendiri.
Kondisi pasar yang kian sepi juga dirasakan oleh Kadek dan Maimunah yang telah 25 tahun berdagang di Pasar Badung. Setelah melewati tiga kali peristiwa kebakaran besar, mereka menyaksikan perubahan drastis suasana pasar. Jika dahulu pasar riuh oleh pembeli dari pagi hingga sore, kini jumlah pembeli melandai tajam dan lorong pasar terasa mati.
Di lapak tipat sate babi, Kadek menghadapi kenaikan harga daging babi dari Rp45.000 menjadi Rp50.000 per kilogram, disusul kenaikan harga kacang dan bumbu. Hasil jualan harian kini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Untuk menutup biaya upakara pengabenan mertuanya yang meninggal dunia pada bulan Agustus lalu, Kadek terpaksa mengambil pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tekanan ekonomi ini perlahan menggeser tumpuan keluarga.
“Seharusnya laki-laki tulang punggung, tapi sekarang perempuan tulang punggung,” ujar Kadek.
Suami dan anak laki-lakinya memang ikut membantu memotong daging dan menyiapkan bumbu saat hari libur kerja dari hotel. Namun, porsi cemas dan beban mental pengorganisasian rumah tangga tetap bermuara di dadanya.
“Kalau capek, kerasa sedih ngerjain semuanya sendiri,” tumpah Kadek.
Mengapa beban ganda yang teramat berat ini terus dipikul oleh perempuan? Dalam realitas lapangan, beban ini sering kali bertahan karena adanya pandangan tentang nilai domestik dan kesadaran peran yang diyakini secara turun-temurun oleh para pedagang sendiri.
Saat ditanya mengenai kemungkinan laki-laki berbagi tugas memasak di dapur, Intan mengungkapkan pandangannya dengan jujur. Menurutnya, laki-laki jarang ikut memasak dan bersiap di dapur, ia menilai bahwa perempuan memiliki ketelitian alamiah dalam mengelola bahan dapur, di mana perempuan mampu bersiasat mengurangi takaran cabai atau bumbu agar masakan tetap cukup di tengah keterbatasan modal. Pandangan ini memperlihatkan bagaimana keahlian bertahan hidup dan pengelolaan dapur akhirnya diyakini sebagai ranah yang secara khusus melekat pada diri perempuan.
Beban fisik perempuan mencapai bentuknya yang paling nyata pada sosok Sukartini, seorang tukang panggul atau suun. Sejak suaminya yang merupakan mantan buruh bangunan meninggal dunia, Sukartini menggantungkan hidup dengan memikul karung suun seberat 30 kilogram dari jam sembilan pagi hingga jam dua siang. Lututnya yang digerogoti rasa sakit dipaksa terus melangkah di atas semen pasar tanpa pernah mematok harga pasti atas jasanya.
“Meburuh enggak matok harga, seberapa dikasihnya aja,” kata Sukartini lugu.
Uang receh yang ia kumpulkan digunakan untuk membeli beras yang harganya naik menjadi Rp17.000 per kilogram, lalu diolah di dapur bersama tumisan kol atau bayam. Begitu keluar dari pintu pasar, tugas Sukartini tidak lantas selesai. Di rumah, ia melanjutkan kerja perawatan dengan mengasuh cucunya yang berumur satu tahun, menyapu lantai, dan memasak air. Pikirannya juga terbagi untuk anak laki-lakinya yang harus berangkat kerja jam 10 malam di Tuban dalam kondisi sakit berat.
Di sudut pasar yang sama, pengalaman Surya memperlihatkan dimensi lain dari ruang gerak dan waktu. Surya, mengelola bisnis bumbu keluarga, bekerja dari jam setengah lima pagi hingga jam lima sore. Ia mengemas barang, mengantar pesanan, dan mengelola pemasaran digital. Menghadapi kenaikan harga kencur dari Rp30.000 menjadi Rp50.000 per kilogram, Surya menyikapinya secara rasional berdasarkan hitungan modal dan rantai pasok barang dari Jawa dan Bali.
Tentu, hal ini bukan berarti mengabaikan kerja keras Surya sebagai pedagang. Namun, setelah toko tutup dan pengiriman barang selesai, Surya memiliki ruang untuk memulihkan diri: kembali ke rumah untuk mengurus ikan di akuarium dan menonton televisi. Kehadiran waktu luang ini menegaskan adanya ketimpangan atas hak istirahat (gendered time sovereignty). Laki-laki memiliki batasan yang lebih jelas antara jam kerja dan jam istirahat, sementara perempuan pedagang langsung disambut oleh beban kerja kedua pekerjaan rumah tangga tanpa jeda.
Di tengah ketimpangan ini, Maimunah, pedagang tahu dan tempe dari Kampung Jawa yang telah 25 tahun berdagang, menghadirkan ingatan tentang pembagian kerja yang adil. Di balik perjuangannya bersaing dengan pemasok besar, Maimunah menyimpan kenangan indah tentang almarhum suaminya.
“Suami saya jago masak… kerjaan nyapu ya buat perempuan sama laki-laki,” kenang Maimunah.
Dahulu, suaminya telaten mengantar pesanan tahu, memasak di dapur, menyapu, serta mengasuh anak perempuan mereka. Cerita Maimunah menjadi bukti nyata bahwa kesetaraan peran dalam rumah tangga bukanlah wacana asing, melainkan bentuk kerja sama dan empati yang pernah dihidupi secara wajar oleh masyarakat.
Pada akhirnya, Pasar Badung menyimpan kenyataan yang tak pernah masuk dalam laporan resmi. Kota ini tidak benar-benar berdiri di atas kebijakan ekonomi yang menyejahterakan, melainkan di atas bahu yang lebam oleh kelelahan, lutut yang dipaksa melangkah, dan kompromi-kompromi sunyi para perempuan. Dari subuh di selasar pasar hingga malam di depan tungku dapur, tubuh-tubuh merekalah yang diam-diam menyerap benturan krisis agar rumah tangga tak runtuh dan roda kota tetap berputar.
Sumur, kasur, dapur, dan krisis pada akhirnya bukan lagi empat ruang yang terpisah, melainkan jaring-jaring beban yang terus mengimpit tanpa jeda. Ketika para perempuan ini dipaksa terus melentur, menahan laju harga, dan memikul beban ganda tanpa jaminan sosial yang nyata, sebuah pertanyaan mendasar mengetuk nurani kita: sudahkah kita benar-benar hadir untuk mengakui dan memikirkan hak-hak mereka? Ataukah kita justru nyaman menjadi penikmat yang acuh dari murahnya sepiring nasi dan bergeraknya ekonomi kota, sembari membiarkan tubuh-tubuh perempuan itu bertarung sendirian menahan krisis?
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Generasi Setara)







