
Oleh: Agatha Putri Cahyaningsih dan Litalia Putri
Di antara para pedagang, penjaga kios, buruh, hingga tukang-tukang suun yang mengangkat barang di Pasar Badung, Denpasar, pembagian peran serta tradisi antara laki-laki dan perempuan tidak selalu tampak sebagai sesuatu yang tetap. Sebagian bergeser, sebagian bertahan, sebagian lainnya dinegosiasikan setiap hari.
Denyut aktivitas Pasar Badung yang berada di jantung Kota Denpasar berdetak perlahan. Cahaya hangat melintasi lorong-lorong pasar, membiaskan pendar emas pada beberapa dagangan yang dijajakan. Tawa dan diskusi hangat tukang suun di dekat pintu masuk pasar terdengar samar, bersanding dengan kicau burung yang singgah di dinding. Di sinilah cerita mereka tertulis. Sebuah catatan dari setiap pedagang yang membawa harapan, ditemani peluh yang menjadi tanda dari perjuangan mereka setiap harinya.
Kami memulai langkah secara perlahan. Tenang mengamati wajah-wajah mereka yang gigih menawarkan dagangannya. Dari penjual tahu dan tempe, kemudian melewati penjual sayur di lantai 1. Kami susuri selasar kecil di antara pedagang bumbu dan sembako. Wajah-wajah itu tampak serupa. Sama-sama penuh dengan doa untuk perjalanan mereka hari itu. Berharap ada satu atau lebih pembeli untuk menggerakkan kehidupan mereka.
Perjalanan kami lanjutkan ke lantai berikutnya. Di lantai 2, rata-rata diisi oleh pedagang sayur. Di sana pula tempat berkumpulnya tukang suun. Ada yang duduk sambil mengamati setiap pembeli yang datang, siapa tahu berminat untuk dibawakan barang belanjaannya. Ada yang berbincang santai dan sesekali bersenda gurau, mungkin mereka sudah beberapa kali mengantarkan barang belanjaan pembeli di pasar dan inilah waktu mereka untuk mengambil jeda dengan rekan seperjuangan.
Pagi menjelang siang ketika seorang laki-laki berjalan menyusuri lantai dua Pasar Badung. Di atas kepalanya, baskom berisi jagung rebus yang masih penuh. Motornya telah diparkir dan kini tubuhnya menjadi kendaraan untuk berkeliling dengan sesekali menawarkan dagangannya kepada pengunjung yang lewat.

“Kalau saya jemput bola,” ujar Ali, penjual jagung rebus di Pasar Badung, saat kami temui pada Minggu, 27 September 2026.
Ali berasal dari Madura. Ia merantau seorang diri di Denpasar dan meninggalkan keluarganya yang berada di kampung halaman.
Di tengah langkahnya menyusuri keramaian pasar, Pak Ali membawa sudut pandangnya sendiri terkait dengan pembagian peran keluarga. Ia memikul prinsip bahwa tanggung jawab ekonomi sepenuhnya berada di pundak laki-laki.
Ali sudah berkeluarga. Istrinya tidak bekerja dan tinggal di kampung sebagai ibu rumah tangga.
Ketika percakapan kami bergeser dari pekerjaan ke rumah tangga, batas peran laki-laki dan perempuan bagi Ali menjadi lebih tegas. Saat ditanya bagaimana jika pembagian peran dibalik, Ali menjawab singkat.
“Kurang setuju,” ucapnya.
Menurut Ali, laki-laki mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk keluarga. Ia menghubungkan pandangan tersebut dengan pemahamannya bahwa seorang suami bertanggung jawab terhadap istri dan anak.
Bagi Ali, perempuan boleh bekerja. Namun, harus berdasarkan persetujuan dengan suami apabila sudah menikah.
“Kalau suaminya suruh kerja, silakan kerja. Kalau memang enggak boleh, ya enggak boleh,” jelasnya.
Namun ada sesuatu yang sederhana dari pekerjaan yang dipilihnya.
Ali memasak jagung rebus jualannya sendiri sebelum berkeliling pasar untuk menjajakannya kepada pengunjung. Pekerjaan yang dahulu, dan dalam banyak kebudayaan, sering kali dilekatkan dengan perempuan.
Beberapa lantai di atas tempat Ali menjajakan jagung, ada seorang perempuan muda yang berjualan rokok lokal-an. Jemarinya cekatan merapikan sebungkus demi sebungkus rokok batang di lapak sederhananya.
Ia secara halus memberi tanda untuk tidak diwawancarai. Di pasar ini, ada ruang-ruang sunyi yang mereka pilih untuk berjuang bertahan hidup tanpa harus memberikan penjelasan ke dunia luar.
Namun, keberadaannya menjadi semacam gambaran kecil perihal kedekatan perempuan dan gerak ekonomi yang berada dalam sebuah pasar tradisional. Perempuan-perempuan pekerja mudah sekali ditemui di pasar yang berlokasi di Jalan Gajah Mada ini.
Mengutip penelitian Siti Inayatul Faizah (2011) yang termuat dalam Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam, Universitas Islam Indonesia, pasar tradisional menjadi salah satu ruang yang banyak menyerap tenaga kerja perempuan. Sebab, sifatnya relatif fleksibel dan dapat dimasuki dengan modal, keterampilan, serta akses kerja yang beragam.
Pasar, dalam penelitian itu, bukan sekadar tempat bertukar barang, tetapi juga salah satu ruang ekonomi yang memungkinkan perempuan bertahan ketika pilihan pekerjaan formal terbatas. Tetapi fleksibilitas itu tidak otomatis berarti pembagian peran di rumah ikut berubah.
Seperti yang dirasakan oleh Kadek S, seorang perempuan yang sudah hampir 30 tahun bergelut mengais rejeki di Pasar Badung. Baginya, keduanya justru dapat hidup bersamaan.
Perempuan setengah baya yang saat kami temui tengah duduk diantara bumbu-bumbu kering ini berasal dari Karangasem. Sebagai perempuan Bali, ia lekat dengan tradisi dan kewajiban spiritual.
“Sebelum berangkat ke pasar, biasanya saya mebanten, nanti sore baru canang,” ucapnya.
Menariknya, perempuan 55 tahun ini memilih untuk tidak lagi merangkai canang sendiri di rumah. Alasannya sederhana, supaya tidak terlalu lelah sekaligus memberi penghasilan kepada orang lain yang menjualnya.
“Ibu beli canang biar nggak capek dan bisa saling bantu ekonomi,” tuturnya.
Dari pilihan sederhana Kadek sebenarnya menunjukkan perubahan yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat Bali. Tulisan Surya Dewi Rustariyuni (2011) tentang penjual canang di Pasar Badung memperlihatkan bahwa canang sari, yang sebelumnya banyak dibuat sendiri dalam rumah tangga sebagai bagian dari praktik keagamaan, telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Rustariyuni juga menemukan bahwa pedagang canang sari didominasi perempuan dan pendapatan dari pekerjaan tersebut berkontribusi terhadap ekonomi rumah tangga.
Perubahan pola kehidupan masyarakat membuat sebagian orang lebih memilih membeli daripada membuat sendiri. Pada saat yang sama, perubahan itu membuka ruang bagi perempuan untuk menjadi penjual canang.
Dari Kadek, kami memahami hubungan antara tradisi dan perubahan menjadi lebih rumit. Tradisi, dengan demikian, tidak selalu hilang ketika masyarakat berubah. Perubahan itu justru bukan semata-mata tradisinya, melainkan cara orang memenuhi tradisi tersebut.
Fleksibilitas ini juga terlihat dari cara Kadek menyiasati kewajiban ngayah (gotong royong masyarakat Bali) di kampung halamannya melalui iuran banjar.
Kadek juga menceritakan bahwa pembagian pekerjaan dalam kegiatan kematian di desanya berbeda menurut jenis pekerjaan, laki-laki menangani pekerjaan tertentu, sementara perempuan membuat perlengkapan upacara. Namun pada akhirnya, ia menekankan bahwa keduanya sama-sama terlibat, bergantung pada pekerjaan yang sedang dilakukan.
“Kalau menata tempat untuk orang meninggal, biasanya laki-laki. Kalau membuat sesajen, perempuan,” ujarnya.
Peran gender dari kisah Kadek tidak muncul sebagai garis lurus. Pembagiannya dapat bergeser sesuai dengan kondisi dan kebiasaan, seperti karena perkawinan, kematian, usia, migrasi, pekerjaan, dan hingga struktur keluarga. Kadek adalah interpretasi dari kebijaksanaan. Bagaimana ia teguh berdiri sebagai seorang ibu dan berdedikasi sebagai penjual bumbu di pasar selama hampir tiga dekade dengan tetap membantu berputarnya roda ekonomi sang penjual canang.
Di penghujung perjalanan kami, kami berkenalan dengan Me Karya, tukang suun yang terkenal sangat hangat dan ramah. Senyumnya cerah begitu kami sapa. Tidak ada jeda canggung seperti ketika bertemu orang yang baru dikenal. Sambutannya seperti membuka pintu yang bahkan belum sempat kami ketuk.
Kami tidak sempat berbincang panjang. Tetapi sosoknya tertinggal.
Seorang perempuan yang tubuhnya bekerja membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Di usia senja, langkah kakinya masih kuat menembus kerumunan pasar sambil menopang beratnya beban di atas kepala.
Kehadiran Me Karya di tengah Pasar Badung menjadi penanda bahwa masih ada ketangguhan yang tak mengenal usia. Pilihannya sebagai penyuun juga mungkin menjadi satu-satunya cara bertahan dari kerasnya dunia.
Pada akhirnya, Pasar Badung adalah cermin dari kebudayaan yang terus bergerak. Menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur berarti juga berani memperjuangkan tatanan sosial yang lebih adil, agar setiap tangan dan pundak yang menggerakkan denyut nadi pasar ini dapat berdiri tegak, dihormati, dan dirawat dengan penuh rasa kemanusiaan.
Sumber:
Faizah, Siti Inayatul. 2011. “Peran Pasar Tradisional dalam Menyerap Angkatan Kerja Perempuan”. Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam Volume 1 Nomor 2, Juli 2011. diakses melalui https://journal.uii.ac.id/JEKI/article/view/8759/7440
Rustariyuni, Surya Dewi. 2011. “Analisis Tentang Tingkat Pendapatan Canang di Pasar Badung”. JEJAK Volume 4 Nomor 2, September 2011. diakses melalui https://www.researchgate.net/publication/307803697_ANALISIS_TINGKAT_PENDAPATAN_PEDAGANG_CANANG_DI_PASAR_BADUNG/link/57ceb0c508ae582e06936e2f/download?_tp=eyJjb250ZXh0Ijp7ImZpcnN0UGFnZSI6InByb2ZpbGUiLCJwYWdlIjoicHVibGljYXRpb24iLCJwcmV2aW91c1BhZ2UiOiJwcm9maWxlIn19
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Generasi Setara)










