
Ada satu momen di kebun, beberapa bulan setelah saya lulus kuliah. Saya bicara sesuatu pada salah satu anggota keluarga saya. Dia diam sebentar, lalu menjawab, “kamu ini sekolah tinggi-tinggi kok malah susah diajak ngobrol.” Saat itu saya tersinggung. Sekarang saya pikir dia benar. Dia cuma salah menebak sebabnya.
Bukan kemampuan ngobrol saya yang berubah. Kacamata saya yang berubah. Hal-hal yang dulu saya anggap biasa saja mulai terasa janggal. Kenapa ada orang lahir dengan segudang pilihan, sementara yang lain sudah kerja sebelum lulus SMA. Mengapa sekolah disebut jalan keluar dari kemiskinan, padahal gerbang masuknya sendiri sudah timpang sejak awal. Argumen ini lebih lengkap saya bahas di tulisan sebelumnya, Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia.
Pertanyaan semacam ini menumpuk. Lama-lama saya sadar, saya sedang kehilangan sesuatu yang dulu saya punya tanpa perlu dipikirkan, bahasa yang sama dengan rumah saya sendiri.
Salah satu pemikir yang sering saya baca adalah Bourdieu. Konsepnya menjelaskan bahwa cara kita berpikir dan bertindak dibentuk oleh pengalaman sosial yang berlangsung bertahun-tahun, bukan bakat yang jatuh dari langit. Itulah reproduksi kelas. Keluarga, kelas, sekolah, semua meracik apa yang terasa masuk akal bagi seseorang. Ketika saya mulai bicara dengan bahasa asing bagi keluarga saya, itu bukan soal siapa lebih pintar. Kami diracik dari bahan berbeda.
Kuliah mengajari saya banyak cara membongkar. Tapi lupa mengajari satu cara menyambung. Saya jadi lihai membedah argumen, mengendus kepentingan di balik kebijakan, mempertanyakan apa saja. Kemampuan duduk dan ngobrol dengan orang yang tidak pakai istilah-istilah itu pelan-pelan menumpul.
Inilah dilemanya. Pendidikan kritis melepaskan kita dari cara pikir lama. Tanpa kemampuan menyambung lagi, pelepasan itu cuma menyisakan jarak. Kita merasa sudah lebih sadar. Keluarga kita merasa kita sudah berubah. Dua perasaan itu, anehnya, sering berujung di tempat yang sama, saling menjauh.
Mungkin bagi keluarga yang memang berasal dari lingkungan akademisi, jarak semacam ini tidak terlalu terasa. Beda soal kalau seseorang menjadi yang pertama dalam sejarah keluarganya mengenyam pendidikan tinggi. Rasa teralienasi paling kentara justru muncul di situasi seperti itu.
Freire menyebut pendidikan sebagai belajar membaca dunia, bukan sekadar membaca huruf. Setelah bisa membaca dunia, apa yang kita lakukan dengan kemampuan itu? Pulang lalu diam-diam menilai keluarga sendiri belum tercerahkan, itu bukan pencerahan. Itu kesombongan lama, sekarang pakai jas akademik.
Saya curiga ini salah satu luka yang jarang dibicarakan dalam pendidikan kita. Sekolah mengubah hidup, benar. Berubah tidak selalu berarti makin dekat dengan rumah. Kadang justru sebaliknya. Seorang anak belajar ketimpangan ekonomi, lalu mulai memandang kemiskinan keluarganya dengan mata berbeda. Mata yang beda itu kadang dingin.
Kesadaran semacam itu tidak perlu distop. Kesadaran itu buah dari pendidikan sendiri, dan justru itu yang membuat kita bisa mempertanyakan dunia. Kesadaran kritis yang sehat membuat kita paham kenapa orang lain, dengan jalan hidup berbeda, sampai pada kesimpulan berbeda. Semua pendapat tidak setara, dan kita tidak perlu berhenti marah pada ketidakadilan. Ada beda antara mengkritik struktur dan meremehkan orang yang hidup di dalamnya.
Keluarga saya tidak kenal istilah reproduksi kelas. Pengetahuan mereka kebanyakan didapat dari mencontoh kiri-kanan, dari apa yang ada di lingkungannya. Tapi mereka tahu persis rasanya kekurangan uang di akhir bulan, jauh lebih tahu dari saya yang cuma membacanya di jurnal dan buku-buku. Pendidikan memberi saya kosakata untuk menjelaskan pengalaman. Pendidikan tidak memberi saya hak menganggap pengalaman saya lebih bernilai dari pengalaman mereka.
Kemampuan hidup bersama perbedaan semacam ini, pada akhirnya, bukan cuma persoalan keluarga. Kemampuan itu latihan kecil untuk demokrasi.
Demokrasi menuntut keterbukaan pengetahuan. Demokrasi butuh orang berani bicara, dan demokrasi butuh orang yang bisa diam, mendengar tanpa buru-buru merasa lebih unggul. Kebiasaan semacam itu bukan sesuatu yang otomatis nempel begitu seseorang pegang ijazah. Kebiasaan paling susah dilatih justru di meja makan sendiri, dengan orang-orang yang tidak sepakat dengan kita.
Bagi saya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan nilai bagus atau gelar beres. Ukuran yang lebih sulit, bisakah saya memakai apa yang saya tahu tanpa kehilangan hormat pada orang yang saya kritik. Pengetahuan gampang dipakai untuk membuktikan orang lain salah. Memakainya tanpa jadi sombong karenanya jauh lebih sulit.
Refleksi ini saya tulis pada 5 Oktober dini hari, hari yang biasa dipakai untuk merayakan Hari Guru Internasional, termasuk sekolah dan akses pendidikan. Semua itu penting dan memang harus diperjuangkan. Saya ingin menambahkan satu pertanyaan di sela-sela perayaan itu, manusia macam apa sebenarnya yang mau kita hasilkan dari semua proses ini?
Saya tidak mau pendidikan mengembalikan saya jadi orang yang persis sama seperti sebelum kuliah. Buat apa belajar kalau cara pandang tidak pernah bergeser sejengkal pun. Saya juga tidak mau pengetahuan membuat saya memandang rendah rumah yang membesarkan saya.
Saya masih mencari cara berdiri di dua tempat sekaligus, melihat dunia dengan mata baru, sambil tetap tahu caranya bicara dengan orang yang matanya belum berubah. Saya belum menemukan jawabannya. Mungkin memang tidak ada jawaban tunggal, cuma pilihan yang diulang tiap kali pulang, bicara dengan bahasa siapa, dan untuk siapa.




