• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, December 10, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ruang Hijau yang Kian Berkurang di Bali Selatan

Doni S. Wijaya by Doni S. Wijaya
28 February 2020
in Kabar Baru, Lingkungan
0 0
0
Permakultur Taman Baca Kesiman. Terong merupakan tanaman bernutrisi kaya serat yang cocok ditanam di Denpasar. Foto Doni S. Wijaya.

Misinya menata lingkungan hijau. Nyatanya, ruang hijau terus menyusut.

Kawasan Denpasar Timur dan Desa Guwang di Gianyar berada di dataran rendah, kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. Karena itu udaranya tergolong panas sepanjang tahun dengan suhu rata rata di atas 26 derajat C.

Pemanasan global membuat suhu udara di seluruh dunia termasuk Bali meningkat. Pada Januari dan Februari ini, udara panas dan gerah dirasakan warga Denpasar dan orang yang bermukim di dataran rendah. Konsumsi energi untuk mengurangi kegerahan meningkatkan pemanasan. Sebab, sebagian besar listrik yang dikonsumsi masyarakat Bali bersumber dari bahan bakar fosil.

Namun, ada perbedaan tingkat kegerahan tersebut karena penggunaan lahan yang terjadi. Luas ruang hijau menentukan perbedaan ini.

Jika ingin kota hemat energi, perbanyaklah ruang hijau yang kaya keragaman hayati dan rancanglah bangunan hemat energi yang disesuaikan dengan seni Bali. Ini tantangan bagi arsitektur Bali di masa kini dan di masa depan. Kota yang hemat energi dan ramah keragaman hayati adalah perwujudan nyata dari aspek Tri Hita Karana.

Di Denpasar, Kuta, Seminyak dan Nusa Dua luas lahan hijau kurang dari 20 persen total luas wilayah itu. Ini tidak termasuk sawah. Bila sawah diikutsertakan, luas lahan kurang dari dua pertiganya.

Di Desa Guwang, ada perbedaan menarik dengan kota Denpasar dari segi udaranya. Ini karena sebagian besar desa itu masih sebagai sawah. Mungkin 80 persen dari luas desa itu berupa sawah meskipun bukan yang sepenuhnya ramah lingkungan karena masih menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Ruang hijau dan sawah memberikan oksigen dan menyerap uap air serta gas rumah kaca. Penyerapan gas rumah kaca oleh tanaman hijau dan keluarnya oksigen ini yang menghasilkan udara sejuk saat menyentuh badan manusia.

Saat ruang hijau dan sawah diubah menjadi beton dan aspal, udara gerah menyelimuti karena gas rumah kaca dan uap air tidak diserap tapi mengambang di udara. Panas yang diserap dan tersimpan di situ. Inilah yang membuat udara jadi gerah dan saat malam hari suhu di Denpasar lebih terasa panas daripada di Guwang. Udara gerah membuat manusia lebih mudah stress dan ini berujung pada penyakit yang berpotensi muncul.

Dengan pemanasan global yang membuat ruang hidup terasa menyesakkan, seharusnya penataan lahan diperhatikan kembali berdasarkan aspek ekologinya untuk menghasilkan udara sejuk. Di Indonesia, meski menurut hukum yang berlaku sawah bukan termasuk ruang hijau, dia memberikan kesejukan udara.

Dengan pertanian ramah lingkungan, sawah dapat berperan dalam menahan pemanasan global. Sawah bisa bebas dari bahan bakar minyak bumi untuk pestisida dan gas alam untuk pupuk buatan. Dua bahan kimia itu menyebabkan timbulnya gas nitrous oxide (N2O) yang ratusan kali lebih kuat memerangkap panas di bumi daripada karbon dioksida

Burung, ikan, reptil, amfibi, serangga dan invertebrata serta tanaman tanaman di tepi sawah merupakan merupakan kekayaan biologi pulau ini. Karbohidrat, mineral, vitamin, dan protein diperoleh dari sini. Nilai keindahan mahluk mahluk itu dapat dinikmati kembali setelah luntur karena kesalahan revolusi hijau dan peralihan lahan. Masyarakat kota semakin dekat pada alam yaitu bersentuhan dengan kehidupan liar di sawah.

Hutan kota dan kebun permakultur perlu dikaji untuk perluasan. Luas kedua lahan hijau tersebut kurang dari 20 persen kota Denpasar. Hutan kota berfungsi untuk paru-paru kota dan daerah resapan air agar air tanah terus diperbaharui untuk menanggulangi krisis air di Bali Selatan. Luas hutan kota minimal 15 persen.

Di Denpasar, kita dapat melihat contoh dari Taman Baca Kesiman bagaimana kebun permakultur di Banjar Kesiman menjadi oase di tengah himpitan gedung. Permakultur di situ mencakup tanaman yang dapat dimakan dan tanaman hias yang cocok ditanam di iklim dan tanah yang sesuai dengan kondisi kota Denpasar tanpa bahan kimia.

Gambar Permakultur Taman Baca Kesiman. Terong merupakan tanaman bernutrisi kaya serat yang cocok ditanam di Denpasar.

Lahan-lahan permakultur dan sawah ramah keragaman hayati seharusnya dibebaskan dari pajak. Pemilik lahan tersebut didorong untuk mengelolanya dengan asas keadilan sosial di mana para pekerja dapat hidup layak dan pemilik lahan meperoleh keuntungan.

Peran pemerintah kota, kabupaten bahkan provinsi menjadi penting dalam penataan kawasan hijau yang mampu memberikan manfaat ekonomi, pangan dan kesehatan. Dengan demikian, Bali benar-benar akan bisa mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan nilai tambah, dan daya saing pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani serta menata wilayah dan lingkungan yang hijau, indah dan bersih. [b]

kampungbet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Doni S. Wijaya

Doni S. Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional Jurusan Eonomi Manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak pertengahan Oktober 2019 mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial, dan satwa liar.

Related Posts

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

9 December 2025
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
Limbah Makanan Mencemari Sampai Jauh

Limbah Makanan Mencemari Sampai Jauh

9 December 2025
Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

8 December 2025
Next Post
Putu Semiada, Membangun Manusia lewat Bahasa

Putu Semiada, Membangun Manusia lewat Bahasa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

9 December 2025
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia