• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, July 27, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Renungan tentang Kekalahan saat Galungan

Made Ady Aprianta Parma by Made Ady Aprianta Parma
10 September 2016
in Berita Utama, Budaya
0
0
Penjor merupakan simbol dari Naga Basukih untuk mensyukuri kemakmuran dan kesejahteraan. Foto Made Ady Apriyanta.
Penjor merupakan simbol dari Naga Basukih untuk mensyukuri kemakmuran dan kesejahteraan. Foto Made Ady Apriyanta.

Mungkin ada yang hanya senyum-senyum kecil. 

Atau mungkin ada pula orang yang tersinggung melihat penjor yang saya buat pada Galungan dan Kuningan tahun ini. Bahkan sempat ada pula yang menganggap penjor ini sebagai sebuah penistaan terhadap agama Hindu.

Wow… Saya tidak menyangka akan ada yang menganggap penjor yang saya buat ini sebagai bentuk penistaan terhadap agama dan kebudayaan Bali.

Tidak ada maksud melecehkan atau menghina apa dan siapa pun di balik pembuatan penjor ini.

Ini murni karena keanehan yang saya rasakan ketika Hari Raya Galungan dan hari raya lainnya tiba. Melihat keluarga saya sendiri harus berutang demi “meyadnya”. Menggadaikan harta benda untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan dalam setiap upacara.

Padahal yang saya ketahui tentang esensi hari raya adalah hari untuk bersuka cita. Bukan hari untuk memikirkan bagaimana cara membayar utang atau di mana mencari uang untuk memperingati sebuah hari raya.

Orang Bali terkenal dengan kebudayaannya. Ya, tentu.

Siapa yang tak kenal budaya Bali? Saat Hari Raya Galungan masyarakat hindu Bali diwajibkan membuat penjor sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena hasil bumi yang mereka nikmati selama enam bulan belakangan karena kalau dikaitkan dengan musim panen.

Masalah Besar
Bali dulu memiliki dua kali musim panen sebelum masuknya Revolusi Hijau dengan bibit yang katanya unggul dan pestisidanya yang membuat panen menjadi tiga atau empat bulan sekali.

Menurut saya sendiri kebudayaan tak sekadar atau semata tentang keindahan, tapi juga tentang pesan dan fenomena sosial yang sedang terjadi.

Menurut artikel yang pernah saya baca, penjor merupakan simbol dari Naga Basukih. Sedangkan Basukih berarti kemakmuran dan kesejahteraan. Hal itu digambarkan dalam ornamen ada di penjor itu sendiri. Misalnya, pala bungkah, pala gantung dan padi sebagai hasil bumi.

Di balik ingar bingar filosofi galungan, kemenangan dharma melawan adharma, Bali dihadapi dengan masalah yang sangat besar. Hilangnya lahan pertanian, alih fungsi lahan yang menyebabkan merosotnya nilai tawar masyarakat Bali atas ruang hidupnya sendiri.

Zaman terus berganti dan berkembang. Sawah ladang kini sudah berganti menjadi ruko, toserba, hotel, vila dan akomodasi pariwisata lainnya. Alih fungsi lahan demi kepentingan pembangunan. Eksploitasi terhadap alam Bali. Privatisasi ruang hidup.

Akibatnya terasa manusia Bali begitu terasing di tempat kelahirannya sendiri. Seperti makna lagu berjudul “Krisis Pangan” oleh Made Mawut & The Stomp.

Pembangunan hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Tidak pernah memperhatikan pembentukan mental dan karakter manusia. Maka, masyarakat Bali kini diposisikan untuk menjadi masyarakat yang konsumtif dengan menghilangnya ribuan hektar lahan produktif di Bali.

Apa-apa kini serba beli. Mulai dari beras, garam bahkan janur dan berbagai keperluan upacara yang digunakan untuk ber-yadnya.

Menghibur Belaka
Pertanyaan yang kini timbul adalah, hasil bumi apa yang kini masih dimiliki oleh Bali? Apa yang bisa dijadikan ornamen penjor sebagai simbol mensyukuri kemakmuran dan kesejahteraan atas hasil bumi Bali?

Apa sesungguhnya makna di balik Galungan ini? Apakah sesederhana itu filosofi Galungan? Tidakkah makna Galungan ini cuma untuk menghibur belaka? Agar masyarakat Bali tidak kritis, tidak menuntut, manut dan menerima apa saja yang telah dan akan terjadi.

Toh sudah menang, apa lagi yang harus digelisahkan oleh pemenang? Seperti jargon sapta pesona ala pemeritah di Bali. Aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Ya, yang terakhir sangat lucu kalau ditambahkan dengan kata “tinggal”. Hehehe..

Tetapi kita perlu kembali berkaca pada realita. Adakah masyarakat sekarang menjadi pemenang? Menghadapi persaingan di bidang ekonomi, sosial, dll?

Ah.. sudah saatnya Galungan diberi makna yang lebih luas, tidak semata dalam pemahaman kemenangan dharma atas adharma saja.

Selamat hari raya Galungan dan Kuningan. [b]

Tags: AgamaBaliBudayaOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Ady Aprianta Parma

Made Ady Aprianta Parma

Pemuda banjar. Guru yang senang belajar.

Related Posts

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Next Post
Mengenal Sukreni Gadis Bali di Festival Lovina

Mengenal Sukreni Gadis Bali di Festival Lovina

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lagu “Selaras” Hadirkan Pelita di Tengah Gulita Hari Anak Nasional

Lagu “Selaras” Hadirkan Pelita di Tengah Gulita Hari Anak Nasional

25 July 2026
Festival 100 Tahun Rarud Batur

Festival 100 Tahun Rarud Batur

24 July 2026
Majelis Hakim Mempertanyakan Surat Keterangan Mahasiswa Tomy

Selain Intimidasi, Fakta Persidangan Tomy Membuktikan Alasan Aksi sebagai bagian dari Kritik Warga

24 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia