• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, August 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Renungan tentang Kekalahan saat Galungan

Made Ady Aprianta Parma by Made Ady Aprianta Parma
10 September 2016
in Berita Utama, Budaya
0
0
Penjor merupakan simbol dari Naga Basukih untuk mensyukuri kemakmuran dan kesejahteraan. Foto Made Ady Apriyanta.
Penjor merupakan simbol dari Naga Basukih untuk mensyukuri kemakmuran dan kesejahteraan. Foto Made Ady Apriyanta.

Mungkin ada yang hanya senyum-senyum kecil. 

Atau mungkin ada pula orang yang tersinggung melihat penjor yang saya buat pada Galungan dan Kuningan tahun ini. Bahkan sempat ada pula yang menganggap penjor ini sebagai sebuah penistaan terhadap agama Hindu.

Wow… Saya tidak menyangka akan ada yang menganggap penjor yang saya buat ini sebagai bentuk penistaan terhadap agama dan kebudayaan Bali.

Tidak ada maksud melecehkan atau menghina apa dan siapa pun di balik pembuatan penjor ini.

Ini murni karena keanehan yang saya rasakan ketika Hari Raya Galungan dan hari raya lainnya tiba. Melihat keluarga saya sendiri harus berutang demi “meyadnya”. Menggadaikan harta benda untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan dalam setiap upacara.

Padahal yang saya ketahui tentang esensi hari raya adalah hari untuk bersuka cita. Bukan hari untuk memikirkan bagaimana cara membayar utang atau di mana mencari uang untuk memperingati sebuah hari raya.

Orang Bali terkenal dengan kebudayaannya. Ya, tentu.

Siapa yang tak kenal budaya Bali? Saat Hari Raya Galungan masyarakat hindu Bali diwajibkan membuat penjor sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena hasil bumi yang mereka nikmati selama enam bulan belakangan karena kalau dikaitkan dengan musim panen.

Masalah Besar
Bali dulu memiliki dua kali musim panen sebelum masuknya Revolusi Hijau dengan bibit yang katanya unggul dan pestisidanya yang membuat panen menjadi tiga atau empat bulan sekali.

Menurut saya sendiri kebudayaan tak sekadar atau semata tentang keindahan, tapi juga tentang pesan dan fenomena sosial yang sedang terjadi.

Menurut artikel yang pernah saya baca, penjor merupakan simbol dari Naga Basukih. Sedangkan Basukih berarti kemakmuran dan kesejahteraan. Hal itu digambarkan dalam ornamen ada di penjor itu sendiri. Misalnya, pala bungkah, pala gantung dan padi sebagai hasil bumi.

Di balik ingar bingar filosofi galungan, kemenangan dharma melawan adharma, Bali dihadapi dengan masalah yang sangat besar. Hilangnya lahan pertanian, alih fungsi lahan yang menyebabkan merosotnya nilai tawar masyarakat Bali atas ruang hidupnya sendiri.

Zaman terus berganti dan berkembang. Sawah ladang kini sudah berganti menjadi ruko, toserba, hotel, vila dan akomodasi pariwisata lainnya. Alih fungsi lahan demi kepentingan pembangunan. Eksploitasi terhadap alam Bali. Privatisasi ruang hidup.

Akibatnya terasa manusia Bali begitu terasing di tempat kelahirannya sendiri. Seperti makna lagu berjudul “Krisis Pangan” oleh Made Mawut & The Stomp.

Pembangunan hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Tidak pernah memperhatikan pembentukan mental dan karakter manusia. Maka, masyarakat Bali kini diposisikan untuk menjadi masyarakat yang konsumtif dengan menghilangnya ribuan hektar lahan produktif di Bali.

Apa-apa kini serba beli. Mulai dari beras, garam bahkan janur dan berbagai keperluan upacara yang digunakan untuk ber-yadnya.

Menghibur Belaka
Pertanyaan yang kini timbul adalah, hasil bumi apa yang kini masih dimiliki oleh Bali? Apa yang bisa dijadikan ornamen penjor sebagai simbol mensyukuri kemakmuran dan kesejahteraan atas hasil bumi Bali?

Apa sesungguhnya makna di balik Galungan ini? Apakah sesederhana itu filosofi Galungan? Tidakkah makna Galungan ini cuma untuk menghibur belaka? Agar masyarakat Bali tidak kritis, tidak menuntut, manut dan menerima apa saja yang telah dan akan terjadi.

Toh sudah menang, apa lagi yang harus digelisahkan oleh pemenang? Seperti jargon sapta pesona ala pemeritah di Bali. Aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Ya, yang terakhir sangat lucu kalau ditambahkan dengan kata “tinggal”. Hehehe..

Tetapi kita perlu kembali berkaca pada realita. Adakah masyarakat sekarang menjadi pemenang? Menghadapi persaingan di bidang ekonomi, sosial, dll?

Ah.. sudah saatnya Galungan diberi makna yang lebih luas, tidak semata dalam pemahaman kemenangan dharma atas adharma saja.

Selamat hari raya Galungan dan Kuningan. [b]

Tags: AgamaBaliBudayaOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Ady Aprianta Parma

Made Ady Aprianta Parma

Pemuda banjar. Guru yang senang belajar.

Related Posts

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Next Post
Mengenal Sukreni Gadis Bali di Festival Lovina

Mengenal Sukreni Gadis Bali di Festival Lovina

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

21 August 2026
Krisis Iklim dan Naiknya Pengeluaran di Denpasar

Krisis Iklim dan Naiknya Pengeluaran di Denpasar

21 August 2026
sewa kantor jakarta pusat

Menerka Kepentingan Pusat Finansial Internasional di Bali

20 August 2026
KJW Desa Adat Guliang Kangin, Desa Penuh Sejarah

KJW Desa Adat Guliang Kangin, Desa Penuh Sejarah

20 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia