• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Relief Bebitra, Situs Sejarah Tersembunyi di Gianyar

feni_darmayanti by feni_darmayanti
17 August 2023
in Budaya, Kabar Baru, Sejarah
0
0

Kabupaten Gianyar kerap kali dijuluki sebagai “Kota Seni” dikarenakan banyaknya UMKM dan potensi industri kerajinan yang ada di Gianyar. Masing-masing daerah di kabupaten ini memiliki potensi pengembangan kesenian dan kebudayaan, salah satunya di Kelurahan Bitera. Jarak Kelurahan Bitera dengan pusat Kota Gianyar adalah 1 Km. Dengan jarak tempuh yang kurang lebih memakan waktu 10 menit dan berada di jalan kabupaten, menjadikan Kelurahan Bitera wilayah strategis.

Salah satu objek cagar budaya yang ada dan wajib dikunjungi di Kelurahan Bitera yaitu objek budaya Relief Bebitra. Istilah relief pada dasarnya mengacu pada pahatan yang memiliki bentuk serta gambar yang berbeda di antara permukaan rata sekitarnya. Perwujudan relief sebagai sebuah karya pahat tiga dimensi yang dapat dipandang dari arah depan maupun samping menjadi peninggalan sejarah yang sering disebut sebagai lukisan timbul.

Menilik pada sejarahnya, Relief Bebitra merupakan sebuah peninggalan dari Desa Peling yang merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Bitera. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kelian Pengempon Pura Bukit Puncak Sari Bitera, dijelaskan bahwa hal ini bermula dari kepemimpinan Mas Pahit dan patihnya yang bernama Wedang Serawah yang berasal dari Desa Peling.

Singkat cerita, terjadi pengkhianatan antara istri Mas Pahit dengan Wedang Serawah yang menyebabkan awal mula kehancuran Desa Peling. Imbas dari hal tersebut menyebabkan terbentuknya desa baru yang dipimpin oleh I Dewa Gede Kesiman. Setelah penunjukkan I Dewa Gede Kesiman sebagai pemimpin baru, terjadi suatu pertemuan yang akhirnya melahirkan sebuah nama desa baru yang disebut dengan Desa Bebitra.

Nama tersebut dipenggal menjadi dua kata yaitu bibit memiliki arti benih dan tera yang berarti mengatur atau menolong. Seiring dengan berjalannya waktu, penyebutan Desa Bebitra berubah menjadi Desa Bitera hingga saat ini. Namun, pengempon Pura Bukit Puncak Sari ini juga menambahkan bahwa belum ada bukti dan sumber konkret yang menyatakan secara jelas terkait asal usul, sejarah, serta arti yang tersirat dalam Relief Bebitra ini.

Relief Bebitra memiliki keterkaitan erat dengan Pura Bukit Puncak Sari yang terletak tidak jauh di atas lokasi relief. Relief Bebitra memiliki fungsi religi, dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat penyucian atau pesiraman Ida Sesuhunan Pura Bukit Puncak Sari. Pada pelaksanaan pujawali purnama ke empat dan purnama ke sepuluh, Relief Bebitra difungsikan dalam kegiatan keagamaan, utamanya pada upacara “ngingsah” atau “nyangling”.

Air dari pancoran Relief Bebitra digunakan untuk membersihkan sarana upakara yang akan dipakai pada upacara pujawali di Pura Bukit Puncak Sari. Pada situs Relief Bebitra terdapat satu pancoran yang keluar dari mulut Garuda yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai sumber rejeki. Unsur keagamaannya juga nampak pada bentuk pahatan yang berupa filosofi binatang yang sangat disucikan dalam Agama Hindu, seperti Singa sebagai manifestasi penjaga dialam Dewa Wisnu, Lembu sebagai wahana atau kendaraan Dewa Siwa, sedangkan Anjing sebagai perantara orang yang telah meninggal.

Karena kental dengan unsur-unsur religi, maka kesucian dari Relief Bebitra ini sangat dijaga oleh masyarakat setempat. Terdapat beberapa pantangan yang perlu diperhatikan oleh pengunjung di antaranya, dilarang mencuci tangan pada pancoran dan tidak diperkenankan mengambil air secara sembarang tanpa proses yadnya.  Hal ini menjadi catatan pula bagi wisatawan atau seseorang yang hendak mengunjungi relief ini agar senantiasa menjaga tutur kata, pikiran, dan perbuatan saat berada di situs Relief Bebitra ini. Selain itu, bagi pengunjung yang sedang datang bulan atau “leteh” juga tidak diperbolehkan untuk memasuki area relief.

Bagi yang ingin mengunjungi objek wisata Relief Bebitra ini, berikut adalah deskripsi lokasi yang akan mempermudah aksebilitas menuju lokasi Relief Bebitra. Objek Relief Bebitra berada di Lingkungan Roban, Kelurahan Bitera, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Dari Kota Denpasar menuju ke arah timur dengan jarak kurang lebih 25 kilometer serta jika dari pusat Kota Gianyar hanya berjarak kurang lebih 2,5 kilometer, Apabila ingin menuju ke cagar budaya ini, pertama pengunjung harus menuju Lingkungan Roban.

Pada Lingkungan Roban terdapat sebuah pasar yang bernama Pasar Desa Bitera. Dari pasar Desa Bitera, pengunjung dapat beranjak menuju ke arah selatan hingga ke lokasi Pura Bukit Pucak Sari Bitera. Dari lokasi pura tersebut, pengunjung tidak perlu memasuki kawasan pura, namun berbelok ke arah timur melalui jalan setapak kecil yang hanya bisa dilewati oleh sepeda motor dan pejalan kaki. Pengunjung juga akan melewati area persawahan di mana sepanjang perjalanan sudah terdapat penunjuk arah ke lokasi Relief Bebitra.

kampungbet
Tags: BaliBudayaDesa Bitera GianyarRelief Bebitra
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
feni_darmayanti

feni_darmayanti

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Next Post
Aktivis Lingkungan Minta Revitalisasi Pasar Negara tidak Gusur Pedagang

Aktivis Lingkungan Minta Revitalisasi Pasar Negara tidak Gusur Pedagang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia