
“Laki-laki bebas memilih pasangan, sedangkan perempuan sangat dibatasi”
Putu Oka Sukanta dalam Mega Hitam Pulau Kayangan
Apa yang hilang dari cerita-cerita peristiwa 1965 – 1998? Saya rasa kisah para perempuan yang ditinggalkan, dikucilkan dari masyarakat, dan perempuan yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.
Banyak buku yang membahas tentang tokoh utama peristiwa tersebut. Namun, berbeda dengan Putu Oka Sukanta yang menuliskan kisah-kisah mereka yang ditinggalkan.
Mata Harumi merupakan buku kumpulan cerpen Putu Oka Sukanta, seorang sastrawan, penulis, wartawan, serta aktivis kesehatan dan kemanusiaan. Ia pernah ditahan dalam pemerintah Orde Baru tahun 1966 – 1976 di Jakarta dan Tangerang karena terlibat dalam organisasi Lekra. Beragam pengalaman tersebut membuat cerpen-cerpen di buku ini terasa lebih hidup.
Penjelasan yang rinci dalam setiap situasi membuat saya merasa terlibat dalam buku ini. Tulisannya yang khas terpancar di setiap diksi yang ia pilih dalam tiap cerpen. Cerpen-cerpen Putu Oka Sukanta dalam buku ini tidak hanya mengisahkan di balik peristiwa Orde Lama hingga Orde Baru, tetapi juga kisah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Made Jepun
Tulisan berjudul Made Jepun mengisahkan cerita tragis di Desa Dangin Tangsi. Operasi pembersihan berupa penangkapan dan pembantaian massal terjadi di desa tersebut. Nyoman Sari merupakan satu di antara sekian perempuan yang dituduh bagian dari Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Akibatnya, ia dan keluarganya ditahan.
Kisah ini bukan tentang Nyoman Sari yang ditahan, melainkan tentang Made Jepun, anak Nyoman Sari yang saat itu ditinggal sendirian di rumah ketika orang tuanya ditahan. Peristiwa naas menyebabkan trauma pada Made Jepun. Pelecehan dan kekerasan seksual dialami Made Jepun. Pelakunya adalah seorang pegawai di tangsi polisi dengan iming-iming pembebasan.
Trauma Made Jepun seolah bisa saya rasakan. Membacanya membuat jiwa lelah, merasakan penderitaan Made Jepun yang tak tertolong. Penanganan gangguan stres pasca trauma saat itu tidak mumpuni. Satu-satunya pertolongan hanya dukun dan memasrahkan diri pada Tuhan.
Tulisan Made Jepun dapat memicu trauma bagi pembaca, terutama bagi yang memiliki pengalaman serupa atau rentan secara psikologis. Ada baiknya pertimbangkan dulu sebelum membacanya.
Bulan di Atas Bukit Girang
Bulan Di Atas Bukit Girang merupakan tulisan di buku ini yang paling menarik perhatian saya. Menceritakan perjalanan Pidarta dan Cisca, aktivis HIV/AIDS yang bertemu ODHA dan pekerja seks.
Pada cerita awal, Pidarta dan temannya menemui langsung pekerja seks di Bukit Girang. Di sana ia bertemu Inang, salah satu pekerja seks asal Subang. Kepada Inang, Pidarta mengaku sebagai teman. Ia bertanya kepada Inang tentang pekerjaannya.
Tanpa menghakimi, Pidarta mengenalkan kondom, alat kontrasepsi yang digunakan ketika berhubungan seksual. Gunanya untuk mengurangi risiko HIV/AIDS, penyakit menular seksual yang berpotensi tinggi terjadi pada pekerja seks. Pertemuan Inang dengan Pidarta membuatnya memikirkan kembali keluarganya di kampung dan risiko pekerjaannya.
Di sela-sela perjalanannya, Pidarta membuka kaset berisi rekaman suara Cisca yang menceritakan pertemuannya dengan ODHA. Ia membantu orang-orang yang kemungkinan tertular HIV/AIDS. Takut-takut, beberapa orang melakukan tes darah, antara tidak punya biaya atau takut mendengar hasilnya.
Cisca juga mendekati orang-orang di sekitar ODHA. Meyakinkan bahwa mereka tidak akan tertular HIV/AIDS hanya dengan bermain dan bersentuhan.
Akhir cerita juga mengisahkan perjuangan pendamping ODHA. Begitu berat hari-hari mereka mendampingi orang terkasih. Menyaksikan tubuh yang perlahan kurus dan lemas, berharap mereka tidak mati duluan.
Bulan di Atas Bukit Girang menjadi refleksi bahwa HIV/AIDS dapat terjadi pada siapa saja. Virus ini tidak hanya terjadi pada pekerja seks, semua orang rentan terhadapnya. Masih banyak juga orang yang tidak menyadari bagaimana penularan HIV/AIDS, akibatnya ODHA dikucilkan dan tersingkir dari masyarakat.
Mega Hitam Pulau Kayangan
Tulisan ini mungkin yang paling dekat dengan saya. Ida Ayu Ketut Sumartini yang mengharapkan lahir dengan nama Ketut Sumartini. Kasta Ida Ayu bagai rantai yang menahannya menggapai kebebasan.
Sumartini menjalin kasih dengan lelaki jabe, begitu sebutan yang diberikan oleh keluarganya kepada Nyoman Astawa. Jarak antara mereka terhalang kasta. Keluarga Sumartini menentang keras hubungan Sumartini dengan Astawa, alasannya adalah merendahkan martabat keluarga.
Keluarganya menduga-duga Astawa melakukan guna-guna pada Sumartini. Bahkan, beberapa kali keluarganya melakukan black magic pada Sumartini, harap-harap perempuan itu akan kehilangan rasa pada kekasihnya. Mulai dari sesajen di bawah tempat tidurnya, bungkusan kain putih yang saya duga sejenis kasa, hingga gelang.
“Pakaian adat yang diwariskan oleh kastaku ini sudah sempit buat badanku yang mekar. Kalau dipaksakan ia akan robek dan tubuh saya tidak tertutup olehnya,” ucap Sumartini pada ibunya.
Kisah-kisah Sumartini kerap saya dengar pada perempuan-perempuan Bali. Kasta menjadi penghalang mereka ketika menjalin hubungan. Keluarga menjadi pihak yang paling menentang keras, katanya mencoreng nama baik keluarga. Di Bali, laki-laki dapat memilih perempuan mana pun, sedangkan perempuan harus mempertimbangkan derajat keluarganya. Hal yang tidak masuk akal, tetapi praktiknya masih ada hingga sekarang.
sangkarbet kampungbet

![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)







