• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, March 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Realitas Sosial Budaya Patriarki dalam Mata Harumi oleh Putu Oka Sukanta

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
1 July 2025
in Buku, Kabar Baru, Politik
0
0

“Laki-laki bebas memilih pasangan, sedangkan perempuan sangat dibatasi”

Putu Oka Sukanta dalam Mega Hitam Pulau Kayangan

Apa yang hilang dari cerita-cerita peristiwa 1965 – 1998? Saya rasa kisah para perempuan yang ditinggalkan, dikucilkan dari masyarakat, dan perempuan yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.

Banyak buku yang membahas tentang tokoh utama peristiwa tersebut. Namun, berbeda dengan Putu Oka Sukanta yang menuliskan kisah-kisah mereka yang ditinggalkan.

Mata Harumi merupakan buku kumpulan cerpen Putu Oka Sukanta, seorang sastrawan, penulis, wartawan, serta aktivis kesehatan dan kemanusiaan. Ia pernah ditahan dalam pemerintah Orde Baru tahun 1966 – 1976 di Jakarta dan Tangerang karena terlibat dalam organisasi Lekra. Beragam pengalaman tersebut membuat cerpen-cerpen di buku ini terasa lebih hidup.

Penjelasan yang rinci dalam setiap situasi membuat saya merasa terlibat dalam buku ini. Tulisannya yang khas terpancar di setiap diksi yang ia pilih dalam tiap cerpen. Cerpen-cerpen Putu Oka Sukanta dalam buku ini tidak hanya mengisahkan di balik peristiwa Orde Lama hingga Orde Baru, tetapi juga kisah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Made Jepun

Tulisan berjudul Made Jepun mengisahkan cerita tragis di Desa Dangin Tangsi. Operasi pembersihan berupa penangkapan dan pembantaian massal terjadi di desa tersebut. Nyoman Sari merupakan satu di antara sekian perempuan yang dituduh bagian dari Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Akibatnya, ia dan keluarganya ditahan.

Kisah ini bukan tentang Nyoman Sari yang ditahan, melainkan tentang Made Jepun, anak Nyoman Sari yang saat itu ditinggal sendirian di rumah ketika orang tuanya ditahan. Peristiwa naas menyebabkan trauma pada Made Jepun. Pelecehan dan kekerasan seksual dialami Made Jepun. Pelakunya adalah seorang pegawai di tangsi polisi dengan iming-iming pembebasan.

Trauma Made Jepun seolah bisa saya rasakan. Membacanya membuat jiwa lelah, merasakan penderitaan Made Jepun yang tak tertolong. Penanganan gangguan stres pasca trauma saat itu tidak mumpuni. Satu-satunya pertolongan hanya dukun dan memasrahkan diri pada Tuhan.

Tulisan Made Jepun dapat memicu trauma bagi pembaca, terutama bagi yang memiliki pengalaman serupa atau rentan secara psikologis. Ada baiknya pertimbangkan dulu sebelum membacanya.

Bulan di Atas Bukit Girang

Bulan Di Atas Bukit Girang merupakan tulisan di buku ini yang paling menarik perhatian saya. Menceritakan perjalanan Pidarta dan Cisca, aktivis HIV/AIDS yang bertemu ODHA dan pekerja seks.

Pada cerita awal, Pidarta dan temannya menemui langsung pekerja seks di Bukit Girang. Di sana ia bertemu Inang, salah satu pekerja seks asal Subang. Kepada Inang, Pidarta mengaku sebagai teman. Ia bertanya kepada Inang tentang pekerjaannya. 

Tanpa menghakimi, Pidarta mengenalkan kondom, alat kontrasepsi yang digunakan ketika berhubungan seksual. Gunanya untuk mengurangi risiko HIV/AIDS, penyakit menular seksual yang berpotensi tinggi terjadi pada pekerja seks. Pertemuan Inang dengan Pidarta membuatnya memikirkan kembali keluarganya di kampung dan risiko pekerjaannya.

Di sela-sela perjalanannya, Pidarta membuka kaset berisi rekaman suara Cisca yang menceritakan pertemuannya dengan ODHA. Ia membantu orang-orang yang kemungkinan tertular HIV/AIDS. Takut-takut, beberapa orang melakukan tes darah, antara tidak punya biaya atau takut mendengar hasilnya.

Cisca juga mendekati orang-orang di sekitar ODHA. Meyakinkan bahwa mereka tidak akan tertular HIV/AIDS hanya dengan bermain dan bersentuhan.

Akhir cerita juga mengisahkan perjuangan pendamping ODHA. Begitu berat hari-hari mereka mendampingi orang terkasih. Menyaksikan tubuh yang perlahan kurus dan lemas, berharap mereka tidak mati duluan.

Bulan di Atas Bukit Girang menjadi refleksi bahwa HIV/AIDS dapat terjadi pada siapa saja. Virus ini tidak hanya terjadi pada pekerja seks, semua orang rentan terhadapnya. Masih banyak juga orang yang tidak menyadari bagaimana penularan HIV/AIDS, akibatnya ODHA dikucilkan dan tersingkir dari masyarakat.

Mega Hitam Pulau Kayangan

Tulisan ini mungkin yang paling dekat dengan saya. Ida Ayu Ketut Sumartini yang mengharapkan lahir dengan nama Ketut Sumartini. Kasta Ida Ayu bagai rantai yang menahannya menggapai kebebasan.

Sumartini menjalin kasih dengan lelaki jabe, begitu sebutan yang diberikan oleh keluarganya kepada Nyoman Astawa. Jarak antara mereka terhalang kasta. Keluarga Sumartini menentang keras hubungan Sumartini dengan Astawa, alasannya adalah merendahkan martabat keluarga.

Keluarganya menduga-duga Astawa melakukan guna-guna pada Sumartini. Bahkan, beberapa kali keluarganya melakukan black magic pada Sumartini, harap-harap perempuan itu akan kehilangan rasa pada kekasihnya. Mulai dari sesajen di bawah tempat tidurnya, bungkusan kain putih yang saya duga sejenis kasa, hingga gelang.

“Pakaian adat yang diwariskan oleh kastaku ini sudah sempit buat badanku yang mekar. Kalau dipaksakan ia akan robek dan tubuh saya tidak tertutup olehnya,” ucap Sumartini pada ibunya.

Kisah-kisah Sumartini kerap saya dengar pada perempuan-perempuan Bali. Kasta menjadi penghalang mereka ketika menjalin hubungan. Keluarga menjadi pihak yang paling menentang keras, katanya mencoreng nama baik keluarga. Di Bali, laki-laki dapat memilih perempuan mana pun, sedangkan perempuan harus mempertimbangkan derajat keluarganya. Hal yang tidak masuk akal, tetapi praktiknya masih ada hingga sekarang.

sangkarbet kampungbet
Tags: 1998budaya patriarkigerwanikekerasan di baliorde baruulasan buku
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Penciptaan Ancaman di Pulau Para Jagoan

14 June 2025
Masalah Pribadi Berujung Pencemaran Nama Baik

Kugiring Perempuan Muda ke Penjara Bukan untuk Membalas Dendam

4 October 2024
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Keresahan dan Ketakutan di Bali Masa Kini

10 June 2024
Akademisi Muda Bali: Saatnya Melawan untuk Merawat Kehidupan

Akademisi Muda Bali: Saatnya Melawan untuk Merawat Kehidupan

24 May 2024
Next Post
Apakah Larangan Produksi AMDK di Bawah 1 Liter akan Efektif?

Wajah Pariwisata Bali dan Krisis Lingkungan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia