• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Politik Adu Jangkrik Pilkada Gubernur Bali

Gayatri Mantra by Gayatri Mantra
8 May 2013
in Kabar Baru, Opini, Politik
0
1
Maraknya baliho para cagub Bali justru mengotori wajah kota Denpasar. Foto Anton Muhajir.
Maraknya baliho para cagub Bali justru mengotori wajah kota. Foto Anton Muhajir.

Secara pribadi, pilkada gubernur Bali kali ini cukup menarik.

Bukan karena kandidatnya, melainkan karena pada pemilihan kepala daerah (pilkada) kali ini, posisi masyarakat Buleleng dalam percaturan politik Bali pada posisi yang diperebutkan sekaligus dipertaruhkan.

Karakter masyarakat yang dikenal berwatak keras, bersuara lantang, keras tanpa tedeng aling-aling, to the point, tanpa basa-basi kini suaranya diperebutkan untuk memperkuat “koor” bagi kemenangan para kandidat. Stereotipe ini mirip-mirip orang Batak-lah. Masyarakat Buleleng, tak masalah disebut semacam masyarakat dari ras K9 : buldog (buleleng dogen), pitbull (pemuda intelek Buleleng).

Seruan “Cicing Nani!” (Anjing, Kau!) pun bukan masalah. Itu adalah bentuk bahasa cinta, persahabatan dan solidaritas.

Mengapa orang Buleleng menjadi penting dalam politik pilkada gubernur Bali? Ya, karena suara lantang mereka! Karena mereka begitu tegas meneriakkan sesuatu tanpa selubung.

Namun di sisi lain, suara kasar yang langsung meluncur bebas tanpa selubung dan rahasia ini juga seringkali menjadikan kehadiran orang Buleleng kurng disukai untuk memimpin kaum priyayi yang membutuhkan etika, sopan santun, kelemahlembutan, dan rasa hormat dan tata krama semacam itu. Persoalan karakter budaya yang normatif ternyata bukan persoalan sepele!

Mungkin itu sebabnya koalisi Gubernur dan Wakil Gubernur yang lalu menemui kegagalan. Sehingga, kebutuhan akan kehadiran kaum aristokrat Buleleng dibutuhkan dan kini telah hadir untuk mengimbangi komunikasi bangsawan Denpasar.

Saya berharap komunikasi ini berlangsung baik-baik saja. Semoga koalisi partai dan koalisi puri ini menjadi medan kuasa yang benar-benar solid.

Pilkada kali ini faktanya memang memperebutkan kuasa-kuasa Buleleng dan menyisakan kecemasan karena beredar rumor di masyarakat akan terjadi semacam ‘makar’ jika salah satu kandidat menang. Rumor ini sudah beredar sejak sebulan lalu. Saya tidak cemas dengan rumor ini melainkan, saya cemas dengan politik adu jangkrik yang mungkin terjadi sebagai ekses dari kampanye politik.??Buleleng, diperebutkan bukanlah tanpa alasan.

Buleleng, kota panas yang sewaktu-waktu menjadi magma panas dan repetisi sejarah kekerasan Politik 65 (gestok) yang menghancurkan persaudaraan, solidaritas masyarakat Buleleng hendaknya tidak terjadi karena ‘isu kerusuhan’ dan intimidasi yang mengulik-ngulik kuping kaum muda Buleleng.

Buleleng yang keras, tampak ringkih dan selalu mudah untuk disulut bara-bara politik dan menjadi instrumen penting untuk menekan lawan-lawan politik.

Padahal, siapapun gubernur dan wakil gubernurnya, belum tentu berhasil menurunkan harga minyak, listrik, dan kebutuhan masyarakat. Semuanya tergantung dari sistem politik yang lebih luas. yang penting gunakan hak suara dengan baik untuk memilih dan untuk tidak memilih sesuai dengan asas demokrasi.

Kehancuran kehidupan tidaklah diperlukan untuk kampanye pilkada, sebab kehidupan ini masih panjang dan bermakna.

Harapan saya, Buleleng tetap waspada agar tidak mudah diadu jangkrik dalam pilkada agar tidak lagi terjadi repetisi kekerasan politik yang merenggut seluruh napas kehidupan.

Mari jaga Buleleng tetap damai. [b]

Tags: BulelengOpiniPilgub BaliPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gayatri Mantra

Gayatri Mantra

Dayu Gayatri, mahasiswa S3 Kajian Budaya Universitas Udayana. Selain itu, Gayatri juga penulis cerpen dan pekerja sosial (sukarelawan) untuk penyandang cacat, lansia dan perempuan dan anak-anak. Pekerja sosial ini pernah mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat dasar di Universitas Udayana 16 tahun lalu. Pada tahun 1998, dia mengikuti pelatihan Pengembangan Informasi, Edukasi dan Komunikasi (IEC) di Melbourne Australia. Kini dia aktif menulis untuk terus memperbaharui pengetahuan saya tentang ilmu jurnalistik. "Saya berkeyakinan bahwa ilmu jurnalistik yang akan saya pelajari dapat saya distribusikan dengan kelompok-kelompok yang saya dampingi, seperti kawan-kawan penyandang cacat dan beberapa tahanan di lapas Kerobokan," katanya. Mau tahu cerita-ceritanya, bisa klik http://dayugayatri.wordpress.com/

Related Posts

Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Next Post
Menjelajah ke Air Terjun Sing Sing

Menjelajah ke Air Terjun Sing Sing

Comments 1

  1. Wahyudan says:
    13 years ago

    Masyarakat buleleng sekarang sudah pintar2.. Karena sudah pintar2 mereka juga pasti akan memilih gubernur yang pintar.. Yang belog mah lewat..

    Masyarakat buleleng mentalnya kuat.. Karena mentalnya kuat mereka juga akan memilih gubernur yang pemberani.. Yang ga berani dateng debat mah kelaut aja..

    Apakah sudah to the point?

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia