
Berbagai daerah di Indonesia saat ini tengah menghadapi dampak dari perubahan iklim. Masing-masing daerah memiliki tantangan tersendiri dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk Bali. Ekonomi Bali berpusat pada pariwisata, kearifan lokal dan budayanya pun masih sangat kental.
Dalam menghadapi perubahan iklim, Pemerintah Provinsi Bali menargetkan Bali Net Zero Emission atau Bali Emisi Nol Bersih pada tahun 2045, lima tahun lebih awal dibanding target nasional. Nol emisi artinya jumlah total gas kaca yang dilepaskan ke udara seimbang dengan jumlah yang diserap atau dihilangkan dari atmosfer.
Ketua CORE Udayana, Dayu Giriantari, menyebutkan penyumbang emisi terbesar saat ini di Bali adalah sektor energi, diikuti oleh sektor transportasi. Berdasarkan kajian yang dilakukan terkait potensi Bali emisi nol bersih, Dayu menjelaskan bahwa tidak mungkin 2045 akan nol emisi dari sisi pembangkit energi.
“Karena namanya pembangkitan itu pasti, terutama masih ada pembangkit-pembangkit termal, walaupun itu berbahan bakar nabati, tapi masih ada emisi,” ujar Dayu dalam Media Briefing Pekan Iklim Bali 2025. Meski begitu, Dayu menjelaskan perlu dilakukan upaya-upaya penggunaan energi bersih, seperti pemanfaatan tenaga surya sebagai tenaga listrik.
Saat ini, sumber energi terbesar di Bali adalah energi fosil. Salah satunya adalah batubara yang ada di Bali Utara. Ada pula energi dari diesel dan gas. Dayu menyatakan bahwa transisi energi tidak semudah membalikkan telapak tangan. “Namanya bertransisi kan bertahap,” imbuhnya.
Pembangkit energi terbesar Bali terdapat di Gilimanuk, tetapi sumber terbesarnya berada di Jawa. Maka, ketika sumber energi di Pulau Jawa terjadi gangguan seperti bulan Mei lalu, Pulau Bali juga terdampak.
Setiap pemerintah daerah memiliki tantangan yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk transisi energi. Koalisi Bali Emisi Nol Bersih bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali akan menyelenggarakan Pekan Iklim Bali, tepatnya pada 25-30 Agustus 2025. Acara ini mengambil topik Kepemimpinan Daerah untuk Aksi Iklim yang Lebih Ambisius.
Sebagaimana topik yang diambil, Pekan Iklim Bali menjadi ruang pertemuan bagi potensi, tantangan, dan cara masing-masing daerah untuk mencapai target atau ambisi iklim. “Dan kemudian saling bertukar catatan lah gitu ya, membandingkan catatan dari masing-masing daerah,” ungkap Nirarta Samadhi, Country Director WRI Indonesia.
Pekan Iklim Bali terbagi menjadi beberapa rangkaian acara. Acara pertama pada 25 Agustus 2025 merupakan Forum Nasional. Forum ini menghadirkan dua pemimpin daerah, yaitu Wayan Koster sebagai Gubernur Bali dan Mahyeldi Ansharullah sebagai Gubernur Sumatera Barat. Hadir pula pemerintah nasional dari Menteri Lingkungan Hidup dan Wakil Menteri Dalam Negeri, serta beberapa praktisi.
Dalam Forum Nasional akan terjadi dialog antara dua pemerintah daerah, yaitu Gubernur Bali dan Gubernur Sumatera Barat. Dua daerah ini memiliki kultur yang sangat berbeda.”Yang satu basisnya ekonomi pariwisata, yang satu basisnya adalah pertanian. Yang satu punya tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi, yang satu tingkat pertumbuhan ekonominya relatif biasa-biasa saja,” jelas Nirarta. Forum tersebut menjadi ruang pertemuan yang dapat memunculkan perbedaan dan inovasi solusi dari kedua daerah.
Selain Forum Nasional berupa dialog, ada pula Jelajah Inovasi Iklim pada 26-27 Agustus. Dalam Jelajah Inovasi, peserta diajak berkunjung dan berinteraksi langsung ke beragam lokasi inovasi solusi iklim berbasis komunitas di Bali. Pada tanggal 28 Agustus terdapat Forum Investasi Iklim untuk menelusuri potensi pendanaan solusi iklim yang berkelanjutan. Acara ditutup dengan Pasar Rakyat di Pantai Segara Ayu yang menghadirkan Robi Navicula.
Made Dwi, perwakilan Pemprov Bali menyampaikan bahwa acara tersebut sejalan dengan visi Pemprov Bali saat ini. “Kami berharap kehadiran stakeholders dan sinergitas dengan berbagai pemangku kepentingan, ke depan Bali bukan saja menjadi daerah terdepan dalam pencapaian zero net emission carbon, tapi juga selalu belajar dari daerah lain untuk menjadi lebih baik,” ujar Dwi.
Pekan Iklim Bali diadakan pertama kali di Indonesia. Beberapa kegiatan membutuhkan biaya pendaftaran, tetapi ada juga acara yang bisa diikuti dengan gratis. Info selengkapnya tentang Pekan Iklim Bali dapat diakses di sini.
bandungpafi sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet kampungbet legianbet










