• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Perjuangan Made Sudi si Penjual Canang

Anton Muhajir by Anton Muhajir
11 June 2010
in Budaya, Kabar Baru, Sosok
0
0

Teks Mei Rismawati, Ilustrasi Bali Travel Portal

Nasib baik tidak berpihak pada Ni Made Sudi. Ia seorang pedagang canang yang saya temui di perempatan jalan Noja, Denpasar timur pekan lalu. Hari itu dia sedang berjualan canang.

Ia memiliki seorang suami dan dua orang putra. Sambil melihat beberapa kendaraan yang melintas di jalan raya, saya mulai mendekati Made dan menanyakan beberapa hal ringan.

Ia berasal dari Abiansemal, Kabupaten Badung dan tinggal di Noja. Saat saya bertemu dengan Made, ia didampingi putra sulungnya yang bernama Wayan. Wayan selalu membantu ibunya berjualan, karena ia juga tidak memiliki pekerjaan.

Suami Made juga tidak bekerja. Dia tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun sepeda gayung. Jadi, susah bagi suami Made untuk mencari pekerjaan lain, selain menjadi tukang bangunan di dekat rumahnya.

Sebelum bekerja menjadi pedagang canang, Made pernah bekerja di sebuah proyek menjadi seorang tukang bangunan. Selain itu, Made juga pernah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Semua pekerjaan itu ia lakukan dengan penuh suka cita karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan lagi.

Dengan harapan tersisa, ia mencoba untuk bertahan dan berusaha menghidupi keluarganya meskipun dengan keadaan serba kekurangan. Dia memulai pekerjaannya menjadi seorang pedagang canang dengan modal Rp 100.000. Uang bantuan itu diberikan oleh kepala desa kepada warga yang kurang mampu di lingkungannya.

Hingga, akhirnya, Made mampu membuka sebuah kios kecil di perempatan jalan.

Ia memulai pekerjaannya tiap hari mulai pukul tiga pagi. Made memasak nasi dan lauk pauk seadanya untuk keluarganya. Setelah pekerjaan dapur selesai, ia beranjak mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan halaman di rumahnya.

Pukul tujuh pagi ia bersama putra sulungnya membuka kios kecil. Sambil menunggu pelanggan setia yang akan membeli canang, ia duduk-duduk sambil ngobrol bersama putranya. Sore hari ia ke Pasar Badung bersama putranya untuk membeli berbagai perlengkapan untuk membuat canang.

Cerita itu membuat saya tertegun dan larut di dalamnya. Ternyata, seperti itulah kehidupan sehari-hari seorang pedagang canang yang bernama Made.

Dengan pendapatan Rp 30.000 setiap hari, ia selalu cukupkan untuk kebutuhan hidupnya.

“Apa ibu tak pernah bosan bekerja seperti ini selama sembilan tahun?” tanya saya.

“Jika saya bosan dan berhenti dari pekerjaan ini, saya akan makan apa?” jawabnya sambil memperlihatkan wajah sedih. Ia berharap suatu saat pemerintah dapat membantu pedagang kaki lima seperti Made. Ia juga berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik dari pada sekarang.

Itulah obrolan saya bersama seorang pedagang canang yang selalu mensyukuri semua yang telah didapatnya. [b]

Tags: AgamaBaliBudayaDenpasarSosok
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Next Post
Keluarga Korban Bom Bali Merintis Toleransi

Keluarga Korban Bom Bali Merintis Toleransi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Senja Kala Humaniora

14 May 2026
Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia