Perempuan Korban Napza Kampanye #IndonesiaTanpaStigma


Menari zumba untuk melawan stiga pada perempuan korban napza. Foto Pertiwi.

Kisah para perempuan korban napza melawan stigma.

Dua perempuan pemberani menyampaikan pengalamannya menjadi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan pecandu narkoba. Ibu Desi dan Andini membuat warga di Lapangan Kapten Mudita, Bangli, Bali terdiam dan menyimak cerita mereka.

Keduanya bercerita tentang kisah menghadapi masa-masa sulit dan kini bekerja untuk pemberdayaan teman-temannya.

Rumah Cemara mengadakan kegiatan kampanye #IndonesiaTanpaStigma secara serentak di enam kota Besar di Bandung, Medan, Denpasar, Tangerang, Bengkulu, dan Mataram. Untuk di Bali, Perempuan Tangguh Inspirasi Wahana Imbas Napza (Pertiwi) sebagai pelaksana kegiatan kampanye yang diadakan oleh Rumah Cemara di Bali.

“Saya melakukan konseling untuk kecanduan, dikasih edukasi dan lainnya, membuka pikiran saya sehingga saya hidup dalam pemulihan sehingga saat ini,” ujar Andini, perempuan muda asal Bangli ini.

Sementara Ibu Desi tertular HIV dari suaminya. Ia pernah mengalami pengucilan namun tetap bertahan dan kini menjadi konselor bagi warga yang tes HIV.

Pertiwi mengampanyekan Indonesia Tanpa Stigma ini dengan cara unik, menari bersama warga dalam Bali Zumba pada Minggu pagi, 17 Februari 2019 di Lapangan Kapten Mudita Bangli Jl. Lettu Kanten, Kawan, Bangli. Mereka bekerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) penanggulangan HIV/AIDS di Bali, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Bangli, dan sejumlah lembaga sosial lainnya.

Pertiwi adalah komunitas Perempuan Pengguna Napza dan pasangan pengguna Napza di Bali yang didirikan karena kebutuhan akan perlunya perhatian khusus bagi pasangan dan perempuan pengguna Napza. Untuk dapat mengakses layanan terkait dengan HIV & AIDS, IMS, rumah pemulihan dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM).

Meskipun baru didirikan pada 1 November 2019, Pertiwi hadir untuk dapat mengakomodir hak sebagai warga negara Indonesia melalui pendekatan pemberdayaan perempuan dan advokasi. Sebagai awal membangun mimpi dimulai dengan berjejaring bersama lembaga dan pemangku kebijakan yang telah lebih dulu menjadi bagian dari kerja kemanusiaan di bidang HIV, Napza dan HAM di Bali, khususnya kota Denpasar.

Astrid Adriana Wulandari Rejonta, Koordinator acara Bali Zumba mengatakan keterlibatan Pertiwi dalam kegiatan kampanye #IndonesiaTanpaStigma untuk membantu menyuarakan pesan dan mimpi Bali yang lebih baik dan lebih sehat bagi perempuan pengguna Napza serta perempuan pasangan pengguna Napza.

Warga memberikan tanda tangan dukungan melawan stigma pada perempuan korban napza. Foto Pertiwi.

Kesempatan ini akan menjadi terobosan Pertiwi dan mitranya untuk mengajak masyarakat mengikis prasangka yang selama ini dibebankan pada perempuan pengguna Napza (stigma).

Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali dan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan Bali (LBH APIK Bali) juga hadir memberi informasi pentingnya perlindungan dan pemberdayaan perempuan di isu ini.

Komedian dan Selebgram terkenal Bali, Puja Astawa, membawakan games dan quiz dengan pertanyaan seputar mitos yang berkembang di masyarakat tentang HIV/AIDS dan korban Napza. Ia senang bisa terlibat di acara ini dan mengetahui banyak informasi yang benar.

Pada puncak acara, peserta kegiatan kampanye memberikan pernyataan dengan cara meneriakkan #IndonesiaTanpaStigma dan #BaliTanpaStigma. Memberikan tanda tangan dan pesan kampanye pada spanduk yang disediakan.

“Prasangka buruk lebih membunuh dibanding kecanduan dan virus itu sendiri. Bersama kita mengikis prasangka untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Yayuk Fatmawati, Koordinator Pertiwi. [b]