• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Bali Perlu Metode Baru Rehab Pecandu

Anton Muhajir by Anton Muhajir
30 July 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosial
0
0
rehab-morning-session
Sejumlah pecandu dan mantan pecandu narkoba mengikuti sesi penguatan diri di Yakeba. Foto Anton Muhajir.

Lima tahun terakhir, sabu-sabu makin banyak menyerbu Bali.

Namun, Bali justru belum menyiapkan tempat rehabilitasi bagi pecandu sabu-sabu. Pelaksana rehabilitasi pun mendesak perlunya metode baru rehabilitasi.

Saat ini, di Bali terdapat beberapa tempat rehab yang dikelola pemerintah ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tempat rehabilitasi yang dikelola pemerintah misalnya Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Bangli. Adapun tempat rehabilitasi milik LSM antara lain Yayasan Kasih Kita (Yakita) dan Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba) di Denpasar.

Namun, ketiga tempat rehabilitasi tersebut hanya fokus pada pengguna narkoba suntik atau injecting drug users (IDU). Pecandu narkoba jenis sabu-sabu yang terus meningkat dan mengalahkan jumlah IDU, justru belum memiliki satu tempat rehab khusus.

Yakita yang mengelola tempat rehabilitasi di Renon, misalnya, hanya fokus pada IDU. Saat ini ada tiga residen sedang direhab. “Kami belum menerima pecandu sabu-sabu karena metode rehabilitasinya berbeda,” kata Dudi Rohadi, Manajer Yakita.

Menurut Dudi pecandu sabu-sabu memiliki dual diagnosis, yaitu mental dan fisik. Hal ini berbeda dengan pecandu heroin yang pada umumnya lebih pada fisik. Penanganan pecandu sabu-sabu harus melibatkan dokter jiwa atau psikiater.

“Kalau pada IDU, kami bisa terapkan isolasi agar mereka bisa sembuh. Kalau pecandu sabu-sabu tidak bisa,” kata Dudi.

Pada pecandu sabu-sabu, lanjut Dudi, kecanduan secara mental bahkan bisa menyebabkan kegilaan jika terapinya tidak tepat.

Hal senada dikatakan Adi Mantara, Direktur Yakeba yang juga mengelola tempat rehab di kantor mereka sejak sekitar 1999. “Kami terpaksa menolak pecandu sabu-sabu yang mau rehab di sini karena kami belum siap,” kata Mantara.

Yakeba termasuk salah satu perintis rehabilitasi narkoba di Bali. Sejak berdiri pada 1999, kantor mereka menjadi tempat rehabilitasi bagi pecandu narkoba suntik di Bali dan sekitarnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini Yakeba tidak meneria pecandu sabu-sabu. “Metode rehab untuk pecandu sabu-sabu berbeda dengan metode untuk IDU,” kata Mantara yang juga mantan IDU.

Menurut Mantara, Yakeba biasanya melakukan asessment untuk melihat gejala pecandu yang akan rehab di tempat mereka. Pada umumnya ada yang murni IDU, namun ada juga yang menggunakan keduanya, sabu-sabu dan heroin. “Jika kecanduannya pada sabu-sabu lebih parah, kami tidak akan terima,” ujarnya.

Untuk itu, Mantara menuturkan, biasanya mereka menyarankan pecandu sabu-sabu untuk ikut rehabilitasi di Lido, Bogor, Jawa Barat yang dikelola Badan Narkotika Nasional (BNN).

Belum adanya tempat rehabilitasi bagi pecandu sabu-sabu di Bali ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksana rehab ataupun pecandu itu sendiri. Padahal, berdasarkan data BNN, jumlah kasus sabu-sabu memang makin dominan di Bali.

Sejak 2009 jumlah kasus narkoba jenis sabu-sabu ini terus meningkat yaitu 101 kasus pada 2009, 213 kasus (2010), dan 268 kasus (2011). Kasus sabu-sabu ini paling banyak dibandingkan kasus lain seperti ganja yaitu 82 kasus (2009), 41 kasus (2010), dan 51 kasus (2011) atau kasus heroin 8 kasus (2009), 12 kasus (2010), dan 7 kasus (2011).

Yusuf Rey Noldi, Konselor Adiksi BNN Provinsi Bali mengatakan, makin banyaknya pengguna sabu-sabu di Bali memang terjadi lima tahun terakhir. “Kalau kita lihat di lapangan, pemakai IDU hanya orang-orang lama. Sudah tidak ada pemakai heroin baru lagi,” ujarnya.

Ada beberapa penyebab maraknya sabu-sabu di Bali ini. Pertama karena Bali memang menjadi tempat transit sekaligus penjualan narkoba internasional sejak dulu. Kedua karena kuatnya perang terhadap heroin di wilayah-wilayah produksi seperti di Segitiga Emas. Dampaknya, produksi heroin juga berkurang.

Penyebab ketiga, cara produksi sabu-sabu lebih mudah karena bisa dibuat di rumah. Keempat, seiring peningkatan jumlah kelas menengah, pembelian sabu-sabu memang meningkat. Padahal, harga sabu-sabu justru lebih mahal.

Menurut informasi di lapangan, harga sabu-sabu per pakt 0,2 gram sekitar Rp 700.000. Bandingkan heroin yang “hanya” Rp 500.000. [b]

Tags: BaliKesehatanNarkoba
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Maka, Menulislah dan Menjadi Abadi

Maka, Menulislah dan Menjadi Abadi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia