• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Penghargaan Rancagé 2009 untuk Tusthi Eddy dan Tinggen

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
5 February 2009
in Buku
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Hadiah Sastera Rancagé 2009 untuk sastera Bali kali ini dianugerahkan pada I Nyoman Tusthi Éddy (Kumpulan sajak “Somah”) dan I Nengah Tinggen, (jasanya pada perkembangan bahasa dan sastera Bali).

Dua sastrawan lawas asal Buleleng dan Karangasem ini tampil terbaik di antara sejumlah karya anak muda Bali lainnya seperti I Gusti Ayu Putu Mahindu Déwi Purbarini, 31 tahun, dengan kumpulan puisi Taji (Taji) dan Ni Kadék Widiasih, 24.

Tusthi Éddy dan Tinggen berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009, berupa piagam dan uang Rp. 5 juta. Rancage adalah penghargaan sastra tahunan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang kini diberikan untuk kali ke-21 bagi penulis Indonesia dalam bahasa ibu, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali.

Nengah Tinggen sejak tahun 1971, menyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali. Sejak itu dia menulis berbagai buku tentang Bali, sebagian besar dalam bahasa Bali. Dia telah menerbitkan lebih dari 40 judul buku termasuk tentang éjaan bahasa Bali, buku kidung dan gaguritan dan buku-buku cerita.

Karyanya banyak digunakan sebagai penunjang pelajaran bahasa dan sastera Bali di sekolah-sekolah. Kini bekerja sebagai guru bahasa dan sastera Bali di SPGN Singaraja dan menjadi dosén luar biasa di STKIP Agama Hindu Singaraja.

Sementara Tusthi Eddy dikenal sangat produktif menulis sejumlah karya sastra dalam Bahasa Bali maupun Indonesia, seperti sajak, prosa, dan esai.

Pada tahun pertama, hadiah “Rancagé” hanya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku unggulan. Tetapi sejak tahun kedua, hadiah untuk karya itu didampingi oléh hadiah untuk jasa, yang diberikan kepada orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara serta mengembangkan bahasa ibunya.

Kumpulan puisi Somah (Suami/Isteri) karya Nyoman Tusthi Éddy dinilai tampil memikat karena keterpaduan yang kuat antara téma, pengucapan dan gaya bahasa. Téma yang diangkat sangat beragam, mulai dari hubungan suami isteri, toko serba ada, korupsi, uang, jam, kulinér, taksi dan pesisir Bali dalam kontéks perkembangan pariwisata. Hampir separo berupa sajak péndék, hanya terdiri dari satu bait, mengambil bentuk syair dan pantun. Dengan puisi péndék itu Nyoman Tusthi Éddy mampu membentangkan gagasan yang cukup luas, memikat dan menyentuh serta utuh.

Perkembangan sastera Bali tahun 2008 menurut Darma Putra cukup menggembirakan, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Meski masih sedikit, ada peningkatan produksi buku yakni sembilan judul pada 2008, sementara tahun 2007 hanya lima judul. Secara khusus ia mengapresiasi karya perempuan Bali yang mulai ramai tahun ini.

“Karya satrawan perempuan Bali saat ini memberikan pérspéktif baru dalam perkembangan téma sastera Bali modéren. Masalah kesetaraan génder dan pengalaman hidup manusia dari pérspéktif perempuan mulai muncul. Sayangnya kemampuan ketiganya dalam menggarap téma dan mengembangkan éstétika belum mantap,” ujar I Nyoman Darma Putra, salah seorang juri, menilai nominator lain seperti AA Sagung Mas Ruscitadéwi, Purbarini, dan Widiasih.

Namun, bagi Tusthi Eddy, perkembangan sastera dan produksi buku sangat lambat di Bali. “Sampai sekarang kami kesulitan mencari penerbit. Saya pesimis pada masa depan sastera Bali kalau terus begini,” keluhnya.

Tusthi mengaku belum menggunakan internet untuk memasarkan karyanya. Ia berharap ada pihak yang membantu sastrawan dalam hal ini.

Pada 1989, Rancage diberikan hanya kepada sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Namun sejak 1997 mulai memberikan penghargaan pada sastra daerah lain. Setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancagé” mengeluarkan 6 hadiah untuk tiga bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa dan Sunda. Di samping itu kadang-kadang memberikan Hadiah “Samsudi” buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.

Tahun ini, “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Sunda adalah Serat Panineungan, Kumpulan sajak Étti RS (terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung) dan Nano S, untuk jasanya dalam bidang karawitan Sunda tradisi.

Sedangkan yang terpilih sebagai karya sastera Jawa adalah Trah, karya Atas S. Danusubroto (terbitan Penerbit Narasi, Yogyakarta) dan Sunarko Budiman di bidang jasa.

“Setelah selama 20 tahun pemberian Hadiah “Rancagé” selalu mendapat tempat dalam pérs, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah baik pusat maupun daérah,” ujar Ajip Rosidi, Ketua yayasan Kebudayaan Rancage. Penerbitan buku bahasa ibu dianggap bukan usaha yang menjanjikan secara komersil. [b]

Artikel ini dipublikasikan di The Jakarta Post

Tags: BukuSosok
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

28 May 2025
Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

1 February 2021
Ketut Ismaya

Mantan Preman dan Suka Dukanya

2 December 2020
Menggunakan Kesenian untuk Mengatasi Krisis Lingkungan

Menggunakan Kesenian untuk Mengatasi Krisis Lingkungan

1 December 2020
Next Post

Acara Seni di TB Togamas Denpasar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia