• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, April 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Pariwisata Medis, Siapkah Kita sebagai Pemandu?

Made Mas Maha Wihardana by Made Mas Maha Wihardana
14 December 2015
in Opini
0
0
medical-tourism
Sumber foto tourism.pps.unud.ac.id

Pada tahun 1999 Organisasi Pariwisata Dunia (World Tourism Organization) bersidang umum di Santiago, Chili. Sidang ini menghasilkan kode etik pariwisata internasional. Sejak itu, semua anggota mengakui berpariwisata sebagai salah satu hak asasi manusia.

Indonesia termasuk di dalamnya pada tahun 1975. Dengan menjadi bagian dari organisasi tersebut, Indonesia diwajibkan untuk membuat peraturan khususnya di bidang pariwisata yang mengacu pada kode etik pariwisata internasional ini. Melalui perkembangan zaman, hal-hal yang menjadi bahan eksploitasi jarahan bisnis pariwisata sudah sampai menyentuh hal paling mendasar. Ya hal itu adalah kesehatan.

Medical tourism atau dalam bahasa Indonesia “pariwisata medis” bukan merupakan barang baru di negara-negara maju. Pariwisata ini memberikan dividen yang tidak kecil dan bahkan menjadi andalan negara maju tertentu seperti Singapura.

Alasan melakukan wisata ini banyak. Selain untuk berlibur juga karena lengkapnya fasilitas rumah sakit yang dituju dan murahnya biaya perawatan. Bahkan ada alasan melakukan upaya kesehatan yang ilegal di negara asal namun legal di negara yang dituju. Misalnya aborsi, euthanasia, dan lain-lain.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh mana kita menjajal kemampuan kita untuk bersaing dalam ilmu kesehatan khususnya dalam kemampuan menggaet “tamu asing” untuk berobat ke negara kita?

Tentu saja kita mampu bersaing. Sayangnya bukan sebagai “guide” tamu untuk berobat, melainkan menjadi turis yang berobat ke negara lain. Menurut data Kementerian Kesehatan, lebih dari 600.000 orang Indonesia berobat keluar negeri setiap tahun. Biasanya pergi berobat ke negara maju terdekat seperti Singapura dan Malaysia.

Banyaknya orang Indonesia yang berobat ke luar negeri difasilitasi oleh perusahaan asuransi seperti AXA dan Admedika. Hal ini menyebabkan PDB yang diterima oleh negara dalam bidang kesehatan cukup rendah hanya sekitar 2,7 persen menurut data World Bank pada tahun 2012 dan perkembangannya relatif stagnan. Sangat kecil ketimbang rata-rata PDB kesehatan negara ASEAN sebesar 3,9 persen.

Tidak adanya peraturan perundang-undangan yang mengakomodir pariwisata ini, memperparah keadaan pariwisata kesehatan di Indonesia.

Fenomena Masyarakat Ekonomi Asean yang semakin mendekat dan diproyeksikan akan berlaku pada akhir 2015, menjadi tantangan tersendiri bagi negara kita untuk bersaing di bidang pariwisata medis. Dengan adanya MEA maka akan terjadi lalu lintas tenaga kerja medis lintas negara.

Hal ini menjadi peluang sekaligus bumerang terhadap pariwisata medis di negara kita apabila tidak dibuatkan peraturan yang mengatur tentang pariwisata medis ini. Ketersediaan infrastruktur, pendidikan kesehatan, investasi di bidang kesehatan, dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan pihak swasta harus terus dikembangkan, agar negara ini bukan menjadi “turis” di negara asing melainkan sebagai “guide” di negara sendiri. [b]

Tags: IndonesiaMedisPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Mas Maha Wihardana

Made Mas Maha Wihardana

Student Faculty of Law Udayana University Bali and volunteer at Legal Aid Organization Bali

Related Posts

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Hati-Hati pada Pentol Korek

Hati-Hati pada Pentol Korek

8 April 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Henbuk, Marketplace Baru Buku Digital

Henbuk, Marketplace Baru Buku Digital

2 January 2022
Kakao Lestari yang Mengubah Hidup Petani

Bali, Berhenti Mendewakan Bule, Kembalilah Bertani

6 February 2021
Sesungguhnya, Tak Semua Pasien WNA sesuai Citranya

Sesungguhnya, Tak Semua Pasien WNA sesuai Citranya

24 January 2021
Next Post
Coco Avant Chanel Penutup Ciné-club 2015

Coco Avant Chanel Penutup Ciné-club 2015

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Kontradiksi Kesadaran Lingkungan di Tengah Ketaatan Spiritual

Kontradiksi Kesadaran Lingkungan di Tengah Ketaatan Spiritual

12 April 2026
Refleksi Melasti: Tradisi dan Budaya Mengalah atas Nama Pariwisata

Refleksi Melasti: Tradisi dan Budaya Mengalah atas Nama Pariwisata

11 April 2026
Majelis Hakim Mempertanyakan Surat Keterangan Mahasiswa Tomy

Majelis Hakim Mempertanyakan Surat Keterangan Mahasiswa Tomy

10 April 2026
Bukan Cuma Maag, Ini 5 Penyakit yang Sering Mengintai Mahasiswa Tingkat Akhir

Bukan Cuma Maag, Ini 5 Penyakit yang Sering Mengintai Mahasiswa Tingkat Akhir

10 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia