• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pancasila dalam Belenggu Kapitalisme

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
1 June 2011
in Kabar Baru, Opini
0
0
Kapitalisme dan Pancasila adalah dua kutub yang berbeda. Ilustrasi Internet.

Pancasila tidak lagi sakti tetapi sakit.

Francis Fukuyama dalam bukunya The End Of History and The Last Man menegaskan berjayanya kapitalisme menyusul tumbangnya komunisme di Uni Soviet dan Eropa timur akhir tahun 1980-an. Tidak ada ideologi lainnya yang menandingi, sehingga hanya kapitalisme menjadi satu-satunya kekuatan yang mengatur kehidupan manusia di muka bumi ini.

Tesis Francis Fukuyama ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan kita. Mengapa Pancasila seakan-akan mati suri di negeri ini? Pancasila telah terbelenggu kapitalisme yang merasuk di jiwa, tidak hanya pemimpin tapi juga rakyat negeri ini. Lalu apakah Pancasila masih akan tetap sakti atau malah semakin sakit?

Pancasila lahir dalam kondisi di mana terjadi perang hebat antar dua ideologi besar di dunia ini. Dua kekuatan besar idelogi pada masa itu adalah sosialisme (baik kanan maupun kiri) dan kapitalisme. Bung Karno kemudian dengan sangat cerdas mengambil jalan tengah di antara kedua ideologi tersebut. Beliau melakukan sintesis dari nilai-nilai yang memang dikandung peradaban negeri di nusantara ini.

Lahirlah ideologi Pancasila. Tidak ada satupun pemimpin di dunia ini yang tidak mengakui kehebatan dari pemikiran Bung Karno dengan ideologi Pancasilanya. Semuanya memberi pujian.

Namun, Pancasila kemudian mengalami pergeseran-pergeseran. Yang paling besar terjadi pada masa Orde Baru. Pancasila justru dipergunakan sebagai alat melegitimasi kekuasaan Soeharto. Dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun, Pancasila tidak lebih hanya sebagai simbol yang tak dimaknai dengan jujur oleh pemimpin negeri ini.

Ironisnya, setelah rezim Orde Baru runtuh, Pancasila tidak direvitalisasi melainkan justru lebih banyak diabaikan. Sebagian kalangan mengatakan pengabaian atas Pancasila lahir dari rasa trauma yang mendalam atas rezim Orde Baru.

Namun demikian, trauma atas rezim Orde Baru bukanlah alasan kuat untuk menjelaskan melemahnya kekuatan ideologi Pancasila.

Tak Bertepi
Faktanya, konstitusi Indonesia masih tetap mengakui bahwa Pancasila adalah dasar negara sekaligus sumber dari semua sumber hukum di negeri ini. Akar persoalannya adalah perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia yang kini terbelenggu oleh kekuatan kapitalisme global.

Hingga akhir tahun 1980-an, komunisme sebagai perwujudan dari paham sosialisme masih sangat kuat. Akibatnya kekuatan kapitalisme global sedikit terhambat dalam upayanya merambah keseluruh belahan dunia. Para pemimpin dunia juga masih terbelah dalam dua kutub besar, yaitu blok komunis dan blok kapitalis. Tetapi begitu Uni Soviet jatuh dan Tembok Berlin runtuh, maka kekuatan kapitalisme global merangsek dengan sangat kuat keseluruh belahan dunia. Kapitalisme “mematikan” semua ideologi yang masih ada di dunia ini lalu menjadi satu-satunya pemenang (Francis Fukuyama, 1992)

Para pengusung kapitalisme mendasarkan pemikirannya pada rasionalitas atas semua urusan di muka bumi ini. Karena itulah kapitalisme merambah hingga pembentukan budaya di masyarakat. Depersonalisasi hubungan sosial, spesialisasi ilmu pengetahuan, dan kalkulasi keuntungan adalah ciri umum yang dapat diidentifikasi dalam karakter budaya kapitalisme (Fachrizal H Halim, 1998). Dalam tahap yang lebih lanjut budaya kapitalisme adalah budaya yang mengagungkan keuntungan materi karena tujuan utamanya adalah mengakumulasi modal.

Dengan perkembangan media massa yang didukung kecanggihan teknologi informasi yang mengatasi ruang dan waktu, kapitalisme akhirnya mendorong lahirnya keinginan-keinginan (want) melebihi kebutuhan (need). Manusia dijejali dengan pengaruh-pengaruh bahwa kehidupan ini tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan saja, melainkan juga keinginan-keinginan.

Padahal, dalam pemahaman apapun, keinginan manusia itu ibaratnya seperti lautan samudera tak bertepi. Dalam bahasa sederhannya, kapitalisme adalah ideologi yang membenarkan sifat serakah karena dengan keserakahan itulah kapitalisme hidup. Bahkan ada satu idiom penting bagi penganut kapitalisme adalah “greed is good” (serakah itu baik).

Sulit untuk mengatakan kalau bangsa ini tidak dalam belenggu kapitalisme. Bahkan di negeri ini kapitalisme sudah menjelma menjadi kekuatan liar, tanpa ada sedikit pun nilai-nilai moral sebagai kontrol terutama di kalangan para pemimpinnya. Kerakusan begitu merasuk kedalam benak para pemimpin di negeri ini sehingga keinginan untuk mengeruk keuntungan materi demikian kuat.

Moralitas hanyalah menjadi pemanis bibir (lips service), yang meluncur dari mulut pemimpin ketika masa-masa kampanye.

Celakanya adalah ketika kapitalisme juga merasuk kuat di benak masyarakat. Kehidupan yang dipenuhi pengaruh kenikmatan materi, yang disebar dengan masif oleh media massa, menanamkan sifat-sifat bahwa manusia itu haruslah rakus akan materi. Karena itulah, dalam budaya kapitalisme yang dangkal, kehormatan seseorang hanya ditentukan dari seberapa besar kekayaan yang dimilikinya. Tidak peduli apakah kekayaan itu berasal dari korupsi atau menipu. Asal manusia itu kaya dan rajin menyumbang, pastilah dihormati masyarakat.

Menjadi sangat logis kalau kemudian dalam menentukan pemimpin, rakyat menjatuhkan pilihannya kepada mereka yang rajin menyumbang pembangunan tempat ibadah, memberi  bantuan pembangunan jalan-jalan desa, atau hanya sekadar memberi amplop berisi uang puluhan ribu rupiah saja.

Sakit
Dalam penjelasannya di sidang BPUPKI, Bung Karno dengan lugas menyatakan bahwa jika Kelima Sila Pancasila diperas, hanya ada tiga sila yakni Sosio-nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan.

Kemudian Bung Karno menawarkan satu sila dari perasan ketiga sila tersebut yakni apa yang disebut dengan Negara Gotong Royong. Asas gotong royong merupakan prinsip yang didasarkan rasa kebersamaan, di mana setiap orang bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan (need) bersama pula. Tidak ada kepentingan individu di sana. Apalagi hanya untuk memperkaya diri sendiri guna memenuhi keinginan-keinginan (wants) belaka.

Maka, jika direnungkan dengan mendalam, maka secara prinsip kapitalisme dan Pancasila adalah dua kutub yang berbeda.

Fakta kekinian, negeri ini begitu kuat dibelenggu budaya kapitalis. Pancasila kemudian hanya menjadi simbol tanpa suara, tanpa kekuatan. Pemimpin negeri ini tidak lagi menjadikan Pancasila sebagai paham yang menuntun pola berpikir dan prilaku dalam menjalankan kepemimpinan.

Begitu juga rakyat yang tidak merasakan lagi kesaktian dari Pancasila karena terbuai dalam budaya kapitalis. Pancasila tidak lagi sakti tetapi sakit.

Untuk menyembuhkan Pancasila, maka obat yang paling mujarab adalah memulihkan kembali rasa percaya. Para pemimpin dan rakyat negeri ini harus membangun kembali kepercayaan atas kekuatan Pancasila. Pemimpin dan rakyat melakukannya secara bersama-sama. Tetapi, mungkin beban yang utama tetap di pemimpin karena dengan kondisi yang sekarang, kehidupan ekonomi pemimpin sudah lebih dari cukup.

Yang perlu dikendalikan adalah sifat kerakusannya saja. Kemudian rakyat juga harus secara tulus dan ikhlas memilih pemimpin. Jangan memilih yang hanya memberi bantuan materi tetapi gemar korupsi. Tolaklah sumbangan yang bersumber dari pemimpin yang korup, apalagi sumbangan itu untuk tempat ibadah.

“Membunuh” koruptor adalah jalan menghidupkan kembali kekuatan Pancasila. [b]

Ilustrasi diambil dari sini.

Tags: OpiniPancasilaPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir dan besar Denpasar tahun 1975. Pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Unud sampai wisuda. Di tahun 2013 lulus kuliah di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Bekerja di sebuah Media massa yang berkantor pusat di Bali. Dari akhir tahun 2004 lalu bekerja di Semarang Jawa Tengah. Tidak punya hobi pasti, dulu suka olahraga, sekarang tidak pernah jelas. Rumah di depan Terminal Ubung persis, disebelah rumah makan padang "Minang Ubung".

Related Posts

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Next Post
Berwisata Sambil Bersihkan Sampah Tukad Petanu

Berwisata Sambil Bersihkan Sampah Tukad Petanu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia