• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, September 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Pameran Layang-Layang Kontemporer Seniman Bali dan Jepang

CushCush Gallery by CushCush Gallery
13 December 2023
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Pameran Wind Forest: Rimba Angin resmi dibuka pada Jumat 1 Desember 2023 di CushCush Gallery, Bali. Pameran ini menghadirkan karya seni layang-layang kontemporer karya Yoh Yasuda dan Kadek Armika terinspirasi dari Pulau Bali. Pameran resmi dibuka oleh Ibu Katsumata Harumi selaku Konsulat Jenderal Jepang di Bali, disertai penampilan seniman, penulis, dan penyair Ni Nyoman Sani dan penari kontemporer I Wayan Juniartha.

Di Bali, seperti banyak daerah lain di Indonesia, bermain layang-layang merupakan aktivitas menyenangkan bagi segala kalangan. Layang-layang tradisional Bali seperti Bebean (layang-layang berbentuk ikan), Janggan (layang-layang berbentuk naga), atau Pecukan (layang-layang berbentuk daun), adalah beberapa jenis layangan terkenal yang bisa ditemui di festival layang-layang setiap tahunnya. Filosofi dan dedikasi di balik pembuatan menjadikan layang-layang bagian dari tradisi pulau Bali yang menarik untuk dikupas lebih dalam.

Seniman asal Jepang Yoh Yasuda tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang budaya layang-layang di Bali, sejak belajar tentang layang-layang Indonesia di tahun 2019. Kecintaannya terhadap layang-layang sebagai salah satu eksplorasi seni terinspirasi dari daerah asal ibunya, Nagasaki, yang terkenal dengan festival layang-layang di Jepang.

Pada bulan Juli 2023 lalu, Yoh datang ke Bali untuk berpartisipasi dalam Bali International Kite Festival, dan bertemu dengan I Kadek Dwi Armika, seorang seniman dan pembuat layang-layang ternama sekaligus penyelenggara festival. Layang-layang kontemporer miliknya diciptakan sebagai pengembangan pengetahuan seputar pembuatan dan budaya layang-layang tradisional Bali, dan ia telah berpartisipasi dalam berbagai festival layang-layang internasional di penjuru dunia. Kreasi layang-layang Kadek Armika dari bahan alami memikat Yoh, dan menjadi awal mula kolaborasi keduanya.

“Saya sudah mengenal layang-layang daun palem dan layang-layang abstrak karya Bli Armika, namun saya pertama kali bertemu langsung dengannya di Bali International Kite Festival pada Juli tahun ini. Layang-layangnya sangat unik dan indah, jadi saya sangat senang bertemu dengannya! Saya langsung paham dengan konsep dan estetika layang-layangnya,” kata Yoh Yasuda.

“Pertama kali saya melihat Yoh dan layang-layangnya, saya terpesona dengan karya seninya. Dia berdiri di sana, seorang wanita cantik asal Jepang yang tertarik bermain layang-layang di bawah terik matahari. Sesuatu yang jarang saya lihat, hal ini menunjukkan bahwa layang-layang bersifat universal untuk semua orang dan usia,” cerita Kadek Armika.

Yoh Yasuda dan Kadek Armika melanjutkan komunikasi mereka, kemudian Yoh kembali ke Bali pada bulan Oktober untuk belajar lebih banyak tentang budaya layang-layang Bali bersama Kadek Armika. Selama enam minggu residensi dan penelitian Yoh di Bali, serta kolaborasi dengan Kadek Armika tersebut menghasilkan pameran Wind Forest: Rimba Angin yang dipamerkan di CushCush Gallery.

Pameran ini mengeksplorasi layang-layang dari segi material dan bentuk. Penggunaan material alami dan bermain dengan angin adalah ajakan untuk lebih dekat dengan alam. Pameran ini juga merupakan bentuk respon terhadap permasalahan lingkungan hidup di Bali saat ini. Keduanya ingin membagikan bahwa layaknya menerbangkan layang-layang, segala sesuatu memerlukan keseimbangan untuk keberlanjutan hidup.

Sebagai rangkaian program publik dari pameran Wind Forest: Rimba Angin, CushCush Gallery berkolaborasi dengan LagiLagi untuk mengadakan program workshop ‘Make YOUR Own Kites’ pada tanggal 2 Desember untuk kalangan usia muda, sebagai cara bagi anak-anak untuk belajar lebih banyak tentang seni dan budaya layang-layang. Workshop ini difasilitasi oleh seniman Yoh Yasuda dan Kadek Armika dan diharapkan akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat.

“CCG sangat senang bisa menjadi venue partner bagi kolaborasi yang penuh makna antara Yoh Yasuda dan Kadek Armika ini. Bersama dengan inisiatif sosial LagiLagi, kami dengan senang hati mempersembahkan lokakarya pembuatan layang-layang untuk anak-anak. Melalui sesi ini, anak-anak tidak hanya berkarya bersama para seniman, namun juga membawa pulang pesan-pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan dan lebih dekat dengan budaya layang-layang lokal yang memiliki makna mendalam baik di Bali maupun Jepang.” Suriawati Qiu, co-founder CCG dan LagiLagi, menambahkan.

Pameran Wind Forest: Rimba Angin dibuka dari Senin hingga Jumat, pukul 09:00 – 17:00, Sabtu – Minggu pukul 10:00 – 17:00 dan ditutup pada hari libur nasional. Periode pameran 2 – 22 Desember 2023, tiket masuk gratis dan terbuka untuk umum.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pameran, silakan kunjungi Instagram CushCush Gallery (@cushcushgallery_bali) atau hubungi kami di: info@cushcushgallery.com

kampungbet
Tags: layang-layang balisiaran pers
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
CushCush Gallery

CushCush Gallery

Related Posts

Okamaha Meluncurkan Album Sunset Economy

Okamaha Meluncurkan Album Sunset Economy

20 September 2026
Warga Pemaron Adukan Pemerintah atas Pencemaran PLTD Pemaron

Warga Pemaron Adukan Pemerintah atas Pencemaran PLTD Pemaron

16 September 2026
Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

10 September 2026
Transisi Energi Mesti Diikuti Pemanfaatan PLTS Atap dan Menghentikan Pembangkit Gas

Transisi Energi Mesti Diikuti Pemanfaatan PLTS Atap dan Menghentikan Pembangkit Gas

9 September 2026
Badan Registrasi Wilayah Adat Minta Pemda Mempercepat Pengakuan Wilayah Adat

Badan Registrasi Wilayah Adat Minta Pemda Mempercepat Pengakuan Wilayah Adat

11 August 2026
Ratusan Petani Kakao Jembrana Mampu Mengolah Biji agar jadi Cokelat Premium

Ratusan Petani Kakao Jembrana Mampu Mengolah Biji agar jadi Cokelat Premium

4 August 2026
Next Post
Pelatihan Gratis untuk Perempuan di Ranah Pariwisata

Pelatihan Gratis untuk Perempuan di Ranah Pariwisata

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Mencari Gas Elpiji 3Kg di Kota Denpasar Serasa Berburu Barang Selundupan

Mencari Gas Elpiji 3Kg di Kota Denpasar Serasa Berburu Barang Selundupan

28 September 2026
Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

28 September 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Ada Dapur Raksasa di Bawah Danau-danau di Bedugul

27 September 2026
Ketangguhan Bencana Libatkan Desa hingga Difabel

Ketangguhan Bencana Libatkan Desa hingga Difabel

26 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia