
Entitas grunge asal Bali, Navicula, yang kritis menyuarakan isu sosial dan lingkungan dalam setiap karyanya, kembali dengan lagu terbaru bertajuk “Berburu Penyihir” yang dirilis pada 20 Agustus 2026.
Berkat konsistensi mereka yang menjadikan musik sebagai medium untuk menyuarakan isu lingkungan, sosial, politik, dan hukum, lagu ini menandai fase baru perjalanan karier musik Navicula sekaligus menjadi pengantar menuju album ke-11 mereka.
Gede Robi, vokalis dan gitaris Navicula, menjelaskan bahwa tema “Berburu Penyihir” terinspirasi dari sejarah kelam perburuan penyihir di Eropa pada zaman dahulu. Saat itu, mereka yang dituduh melakukan praktik sihir dihukum tanpa melalui proses peradilan yang sah dan divonis hanya berdasarkan asumsi serta penggiringan opini publik.
Fenomena ini mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia maupun dunia saat ini, terutama terhadap masyarakat sipil, kalangan intelektual, serta para aktivis yang kritis bersuara melawan kebijakan rezim penguasa—termasuk dalam hal-hal yang berkaitan erat dengan isu sosial dan lingkungan.
“‘Berburu Penyihir’ ini sebenarnya tentang kriminalisasi kepada aktivis. Praktik berburu penyihir di Eropa zaman dulu ternyata berulang di zaman kita sekarang. Bedanya, kalau dulu diculik, tanpa pengadilan, dan dibakar hidup-hidup, kalau sekarang bentuk kriminalisasinya berupa doxing, astroturfing, lewat buzzer, framing, dan social media bullying,” jelasnya.
Di media sosial saat ini, kalangan kritis dan oposisi kerap menjadi sasaran melalui narasi yang dimanipulasi (propaganda, astroturfing, kemarahan palsu), serangan pribadi (doxing, mengumbar aib, cyberbullying), serta framing yang bertujuan untuk mendistraksi masyarakat dari isu yang sebenarnya terjadi.
“Makanya di lagu ini ada lirik: ‘ada banyak masalah yang lebih vital, tapi dia memilih yang gampang viral,’” ungkapnya.
Secara teknis musik, “Berburu Penyihir” dipengaruhi oleh perpaduan nuansa musik psychedelic rock dan tradisional India. Lagu ini direkam sepanjang bulan Februari dan Maret 2026 di Blacksand Studio, Canggu, Bali, dengan metode rekam live secara bersama-sama dalam satu ruangan.
Proses rekaman menggunakan konsol analog tahun 1980-an untuk menghasilkan suara khas yang natural dan klasik. Dari hasil tersebut, kemudian dilakukan penambahan overdub untuk kebutuhan vokal, tekstur, serta instrumen tambahan.
Lagu berdurasi 5 menit 21 detik tersebut ditulis oleh sang vokalis, Gede Robi. “Berburu Penyihir” diharapkan bisa menjadi pengingat agar masyarakat terhindar dari kekacauan informasi, sekaligus menjadi pemantik untuk terus memperjuangkan suara kritis pada isu-isu vital. Dengan demikian, para pendengar diharapkan tidak mudah teralihkan fokusnya dari pokok masalah dan solusi prioritas yang sebenarnya.
“Semoga lagu ini bisa menyihir semua pendengar seperti saat kami pertama kali mendengarkannya di studio,” tutup Navicula dalam siaran persnya.










