• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Morbid Monke: Kuintet Monyet Mutan Merilis Anomali Sonik ‘When I Feel Alive’

Saylow by Saylow
22 July 2025
in Gaya Hidup, Kabar Baru, Musik
0
0

Lupakan sejenak formula usang dan prediksi yang aman. Di tengah hiruk pikuk skena musik Bali yang akhir-akhir ini hampir tak pernah tidur, muncul sebuah anomali sonik yang menolak untuk dikategorikan, sebuah entitas yang begitu ganjil hingga terasa seperti hasil eksperimen laboratorium yang lepas kendali.

Mereka adalah Morbid Monke, kuintet monyet mutan yang baru saja melepaskan single debut mereka, “When I Feel Alive,” sebuah deklarasi berani yang menandai babak baru dalam evolusi penciptaan musik mereka. Ini bukan untuk telinga yang lemah, bukan pula untuk mereka yang terpaku pada konvensi. Ini adalah Morbid Monke, dan mereka datang untuk menari di atas reruntuhan ekspektasi.

Sejak terbentuk pada September 2024, Morbid Monke telah menjadi bisikan di antara para penikmat musik bawah tanah, sebuah janji akan sesuatu yang berbeda. Dengan formasi yang terdiri dari Karisma Kele di vokal, Krisna Dwipayana di gitar, Deoka di bass, Dewok di terompet, dan Gerby di drum, mereka adalah perwujudan dari sebuah karnaval lantai disko yang gila, di mana setiap not adalah langkah tari yang tak terduga dan setiap lirik adalah bisikan dari alam bawah sadar.

Mereka adalah perpaduan tribal dan kontemporer, sebuah art/post-punk aneh yang membaurkan eksperimen terompet pseudo-jazz, disonansi psychedelic noise dari colongan lick gitar, dan rapalan vokal yang terasa seperti mantra. Seperti yang diungkapkan Kele, vokalis mereka, dengan nada menggoda, “Aku ingin penonton tuh bouncing, bukan mosh. Makanya musik kami tidak kaku dalam satu genre saja. Aku berani kasih garansi, kalau kamu mau tahu gimana enaknya nge-dance, silakan datang ke live show kami.”

“When I Feel Alive” adalah sebuah ode untuk gairah hidup yang intens, sebuah perayaan kebebasan hibrida yang menjadi orbit otentik lagu itu. Ini adalah tentang melepaskan belenggu kecemasan dan membiarkan euforia warna-warni mengambil alih. Lagu ini, menurut Dewok, sang penulis lirik, adalah cerminan dari proses bonding chemistry mereka sebagai sebuah band.

“Di Bali, kita pasti minum. Teruslah aku bawa wiski setiap kali latihan, kita mabuk bareng, dari sanalah akar Morbid Monke kecemplung total. Cara kami menemukan spirit bareng itulah yang aku tuliskan menjadi lirik.”

Sebuah pengakuan jujur yang menangkap esensi dari sebuah band yang menemukan identitas mereka di antara asap rokok, gelas wiski, dan obrolan ngalor ngidul tentang Beelzebub hingga “moot boob” yang konyol.

Dalam waktu kurang dari setahun, mereka telah memenangkan kompetisi musik yang memberi mereka kesempatan untuk rekaman dengan Robi Navicula, menghasilkan “Dinasti Matahari” yang digubah ulang dan lagu orisinal mereka, “Eight Ball.” Kedua lagu ini kemudian dirilis terbatas sebagai maxi-single Record Store 2025 Edition. Dan ini hanyalah permulaan. Dua single berikutnya telah siap menyusul, sebuah invitasi menuju album penuh.

Jika Anda mencari band punk yang berani, yang tidak takut untuk sumbang namun berjenaka, yang bisa membuat Anda awkward dance selayaknya monyet sawan, maka Morbid Monke adalah hidangan yang tepat untuk Anda. Single “When I Feel Alive” sudah bisa dinikmati di semua DSP mulai 18 Juli 2025.

Morbid Monke, dengan nama yang berasal dari kata Latin “morbidus” (sakit) dan “monke” (monyet), secara harfiah berarti “monyet jenaka yang aneh, ‘penyakitan’ serta ‘mengerikan’.” Visual mereka pun tak kalah unik: monyet bermata satu yang tidak normal dengan bagian tubuh yang berubah-ubah menyerupai makhluk apa saja, sebuah representasi visual dari genre post-punk mereka yang terus berevolusi. Mereka adalah bukti bahwa musik, seperti kehidupan, harus terus bergerak, beradaptasi, dan menolak untuk terikat pada satu bentuk saja. Mereka adalah Morbid Monke, dan mereka akan membuat Anda merasa hidup.

When I Feel Alive (Single)
Released on Spotify via Dirt & Dust Records, 18 July 2025

Instagram : @morbidmonke
Email : morbidmonke@gmail.com
Contact person : +62 813 3731 6113 (Krisna Dwipayana)
Youtube Channel : www.youtube.com/@MorbidMonke
Bandcamp : www.morbidmonke.bandcamp.com
Linktree : https://linktr.ee/morbidmonke

kampungbet kampungbet
Tags: morbid monkemusisi bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Saylow

Saylow

Saylow, putra asli Karangasem tepatnya Dusun Tanahampo. Berlatar belakang ilmu teknologi informasi dan desain, memilih managemen seni dan pertunjukan sebagai jawaban atas kebutuhan kesehatan mental dan menyandarkan kepulan asap dapur dengan melakukan usaha dagang parcel buah rumahan.

Related Posts

“Ogar-ogar Ogoh-ogoh”, Rock, Ritus, dan Wajah Sosial Bali oleh Trabasenja

“Ogar-ogar Ogoh-ogoh”, Rock, Ritus, dan Wajah Sosial Bali oleh Trabasenja

25 March 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
kataraga gamelan kontemporer bali

Kataraga Meramu Bambu, Besi, dan Pipa Menciptakan Resonansi Baru Musik Bali

6 February 2026
Music Celebration 2026: Kolaborasi Komunitas Musik di Bali

Music Celebration 2026: Kolaborasi Komunitas Musik di Bali

24 January 2026
Sumatra Calling: Seruan Darurat Melalui Panggung Amal dari Bali

Sumatra Calling: Seruan Darurat Melalui Panggung Amal dari Bali

11 December 2025
“Move” dari Dumbleed Meretas Rutinitas

“Move” dari Dumbleed Meretas Rutinitas

8 August 2025
Next Post
Pedanda Baka: Hegemoni Kesucian dalam Cermin Fabel, Kajian Kritis Keagamaan

Pedanda Baka: Hegemoni Kesucian dalam Cermin Fabel, Kajian Kritis Keagamaan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia