Kisah Mewujudkan Mimpi, Desa yang Berdiri Sendiri

Salah satu gambar unggahan Dicky saat mempersiapkan bahan terbaik untuk perayaan Musim Panen Mnahatfeu di Komunitas Lakoat Kujawas. Ilustrasi: Deny Pratama.

Saat memikirkan ide tulisan tentang desa, saya terngiang-ngiang Ibu saya.

Dia selalu mengatakan pada saya, ia akan bahagia hidup sederhana di desa dengan tanaman-tanaman yang bisa diolahnya jadi makanan. “Ih asyik sekali pasti, Dek. Buat gubuk kecil di kebun juga sudah cukup.”

Ibu hampir tak pernah absen menyebut impiannya ini tiap kali kami menyantap makanan olahannya: jaje timus, kolak, pisang goreng, bolu pandan dengan daun pandan dan kayu suji yang tinggal dipetik di halaman rumah. Saat-saat di rumah dan sering mendengarkan ia bercerita soal mimpinya itu, saya hanya mendengarkan sepintas lalu.

Beberapa tahun kemudian, saat menyaksikan seorang teman, Christian Dicky Senda, memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Taiftob, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur barulah saya paham kesungguhan mimpi Ibu saya. Niat awal melakukan riset di kampung halaman berujung kemantapan hati Dicky untuk tinggal.

Sebelumnya, saya melihat cuitannya di Twitter pada 27 April 2016; Mimpi saat ini. Pulang kampung ke Mollo, Timor, beli tanah, jadi petani kopi, bikin homestay, bikin perpus dan sekolah alam, menulis buku. Kemudian tak lama, Dicky membangun komunitas Lakoat Kujawas di desanya.

Lakoat Kujawas, komunitas dengan konsep social enterprise yang dikembangkan untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya anak-anak muda Mollo. Fokus kegiatannya di bidang literasi, kesenian, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.

Hingga saya menulis ini, saya melihat Lakoat Kujawas terus bertumbuh bersamaan dengan semangat Dicky untuk desa kelahirannya. Saya pikir, mimpinya perlahan-lahan menjadi nyata dan semoga tetap didukung semesta.

Saya bertemu Dicky untuk kali pertama pada 2015, saat kami sama-sama mengikuti Youth Adventure dan Youth Leader Forum yang diselenggarakan oleh Gerakan Mari Berbagi di Cibubur. Setelah itu, sekali pun kami belum pernah bertemu lagi. Kami hanya saling berkabar secara tidak langsung melalui Instagram, tempat di mana saya bisa menyaksikan pergerakan Dicky dan Lakoat Kujawas.

Cerita saya tentang Dicky kali ini juga merupakan hasil amatan saya di media sosial. Semoga kelak ada kesempatan saya mengobrol lebih jauh dengannya.

Sejak 2016, Dicky sangat konsisten mengunggah foto berisi keterangan singkat ataupun panjang prihal aktivitasnya di Lakoat Kujawas. Tentang perpustakaan yang dibangunnya di co-working space Lakoat Kujawas—begitu ia kerap menyebut.

Saya turut senang menyaksikan bahwa semangat Dicky di Lakoat Kujawas menular, kawan-kawannya, komunitas lain turut berkolaborasi dengan menyumbangkan buku untuk perpustakaan ini. Anak-anak Mollo semakin giat membaca.

Dicky juga memberikan apresiasi untuk anak-anak yang paling rajin meminjam buku. Baru-baru ini ia meneritakan tiga anak paling banyak meminjam buku, Dino, Edo Sesfaot dan Dimi Otemusu. Rata-rata meminjam lebih dari 75 buku per tahun.

“Memang angka bukan segalanya. Dino tahun ini lulus dengan nilai bahasa Indonesia terbaik di sekolahnya, pernah diliput Tempo English, dan tulisannya ada di tiga buku terbitan Lakoat Kujawas,” tulis Dicky pada foto yang memperlihatkan ketiga anak ini sedang duduk di teras sambil membawa buku.

Impian di Mollo

Hal-hal yang membuat saya tertarik, sekaligus ngiler, adalah saat Dicky mengunggah makanan khas Mollo dengan bahan-bahan dari kebun Lakoat Kujawas dan petani Mollo. Sekali waktu, saya melihat pisang Deli dan ubi kapuk bakar yang dijual di Pasar Kapan. Saya membayangkan, nagasari dimasak dengan pisang Deli itu atau makan ubi kapuk bakar saat Mollo sedang dingin-dinginnya.

Ada juga jagung bunga atau popcorn, bisa saya rasakan kenikmatannya sambil melumat film-film di Netflix sambil bersantai di hari Minggu. Belum lagi, sambal Lu’at organik produksi Lakoat Kujawas yang terlihat menggoda itu, sungguh benar-benar menggiurkan.

Belum sampai di sana. Ada ubi jalar ketan hitam, singkong rebus dan pisang Luang yang dimakan dengan madu asli Mollo, dan berbagai panganan lokal pengganti nasi seperti bose, ubi, jali, krotok, tewawut, pisang, keladi, sorgum, dan makanan lain yang diolah Dicky dari bahan-bahan organik di kebun Lakoat Kujawas.

Saya membuat daftar sendiri di buku saya berjudul, Impian di Mollo, berisi hal-hal yang ingin saya makan dan ingin saya lakukan ketika kelak saya bisa bertandang ke Lakoat Kujawas.

Dicky tertarik dengan pangan, terutama makanan khas Mollo yang sudah ada sejak zaman nenek moyangnya di sana. Ia pernah menulis impiannya melalui akun Lakoat Kujawas di Facebook. Mimpinya begini; Lagi berpikir untuk menulis buku resep makanan khas Mollo tapi ditulis ala buku sastra. Atau sebaliknya, menulis cerpen atau puisi tapi sebenarnya resep masakan (plus mitos-mitosnya). Selain itu, ia juga jago masak, tak diragukan lagi!

Lewat berbagai makanan yang dihasilkan di Lakoat Kujawas, saya bisa menjamin bahwa masyarakat Mollo tak akan kelaparan dengan berbagai tanaman dan hasil alam yang Mollo suguhkan. Pisang ambon, alpukat, kujawas/guava, kopi Kartika khas Mollo, lakoat/loquat, lemun asam, labu siam, onat lau/daun mint lokal, dan masih banyak lagi warna-warni tanaman yang tumbuh di kebun Lakoat Kujawas.

Nama Lakoat Kujawas sendiri diambil dari dua tanaman yang dekat dengan masa kecil masyarakat Mollo; lakuat dan kujawas. Dua tanaman yang selalu ada dan dekat dengan Mollo.

Ilustrasi Ukke dan aktivitasnya di Circa. Ilustrasi oleh: Deny Pratama

Kenapa Mesti Balik?

Dengan segala hal-hal inspiratif yang saya lihat dari Dicky di Lakuat Kujawas, tiba-tiba saya dialihkan oleh pertanyaan Ukke Kosasih pada Januari lalu. Menurut Diana, kenapa orang-orang mesti pindah dan balik ke kampung?

Pertanyaan ini membuat saya berpikir sejenak. Sebagai penduduk asal Bali yang sudah lima tahun di Bandung dan Jakarta, tentu ini pertanyaan yang memberikan saya ruang untuk berpikir. Pertama, ada kemungkinan sulit untuk melepaskan peluang yang kita dapat di kota. Kedua, teman-teman dan jejaring lebih kuat terbentuk di kota. Pertanyaan ini sungguh membuat saya bimbang.

Hal-hal yang kemudian, pada hari ini, memberi saya kekuatan bahwa kelak saya tetap harus pulang. Mengingat kembali tujuan saya bersekolah sejauh-jauh, setinggi-tingginya—meski tak harus, untuk bekal saya pulang dan bisa menjadi lebih baik buat orang-orang di rumah. Lebih-lebih jika saya bisa melakukan hal yang dilakukan oleh Dicky di kampung saya sendiri, di Bali.

Sedikit cerita, Ukke merupakan pendiri Circa Handmade. Sebuah komunitas dengan konsep serupa yang dilakukan Dicky, social enterprise dengan produk utamanya adalah boneka dengan karakter unik yang dibuat oleh para perempuan di desa Cihanjuang, Bandung.

Berbeda dengan Dicky, Cihanjuang bukan kampung Ukke. Ia memutuskan untuk membentuk Circa atas dasar kesenjangan desa-kota yang dilihatnya, utamanya terkait isu perempuan. Terutama pernikahan dini dan kekerasan domestik yang terjadi dalam rumah tangga.

Pada 2006, ketika kredit mikro banyak diberikan oleh pemerintah untuk pemberdayaan perempuan, Ukke tak berpikir ini cara yang tepat untuk melakukan pemberdayaan perempuan. “Tapi apakah dengan cara itu? Karena ternyata ketika perempuan tidak memiliki self esteem, tidak mempunyai self existence, tidak bisa membayangkan mimpinya apa, uang yang di tangan pun nggak akan jadi apa-apa,” ujarnya melalui pembicaraan di telepon.

Saat wawancara via telepon pada Januari lalu, Ukke menjelaskan Circa dalam sebulan bisa menerima sebanyak 400 boneka. Penjualan bonekanya pun sudah merambah Australia. Namun, apa yang lebih penting dalam pencapaian ini bahwa salah satu dari perempuan yang ada dalam Circa, Wati, sudah bisa melakukan pekerjaan secara mandiri. Beberapa pekerjaan administratif yang dulu dikerjakan oleh Ukke, kini sudah bisa ditangani Wati.

Hal ini membuat Ukke yakin, bahwa tanpa dirinya pun Circa tetap bisa berkembang. Ia juga mengatakan bahwa pencapaian yang membuatnya senang adalah ketika melihat teman-teman Circa sudah bisa membuat inovasi produk, berani mempresentasikan karyanya, dan bisa dengan bangga menghargai hasil karyanya. Buat Ukke hal ini menjadi bagian yang paling penting dalam proses pemberdayaan komunitas.

Cerita panjang tentang Dicky dan sedikit cerita tentang Ukke yang sampaikan dalam tulisan ini membawa saya kembali pada mimpi Ibu saya. Bahwa cerita dari desa yang saya kabarkan ini membuat saya yakin bahwa desa kelak tidak akan menjadi rumah untuk pulang. Desa bisa berdiri sendiri, desa bisa berdaya.

Benar kata Dicky, kelak kita tak perlu lagi pergi ke kota untuk iming-iming pekerjaan di kota. Atau ke luar negeri untuk iming-iming gaji tinggi puluhan juta.

Semoga kelak semakin banyak kabar dari desa yang bisa saya sampaikan. Salam. [b]