• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, March 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Merayakan Galungan dalam Keprihatinan

Anton Muhajir by Anton Muhajir
18 March 2009
in Kabar Baru
0
3

Oleh Anton Muhajir

Tidak ada buah-buahan impor di gebogan, rangkaian buah sebagai persembahan dalam upacara Hindu, Kadek Andariani pada Galungan, Rabu (18/3) kali ini. Padahal warga Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Karangasem itu biasanya selalu memilih buah mahal dalam gebogan tersebut. Apel impor merk Guan Juan, jeruk Sunkist, buah pir, serta anggur hijau harus selalu dia sediakan tiap Galungan.

Tahun-tahun sebelumnya, buah mahal jadi pilihan bagi Kadek sebagai bahan dalam gebogan. Namun kali ini tidak. “Cukup pakai buah lokal. Biar misi-misi doen (ada isinya saja),” katanya.

Hal yang sama juga terjadi pada I Gede Bendesa, tetangga Kadek. Biasanya Gede selalu menyajikan buah impor di gebogan saat Galungan dengan lengkap: apel, buah pir, anggur, dan jeruk. Tiap jenis buah dia beli sampai 2 kg meski harga per kilogramnya sampai Rp 20 kg. “Tidak apa-apa mahal kan buat sembahyang,” katanya.

Namun seperti halnya Kadek, Galungan kali Gede juga harus mengganti buah-buah mahal yang selalu ada dalam gebogannya. Kali ini dua pakai buah lokal jeruk, salak, dan buah rambutan. Dua warga Desa Ngis itu mengaku mengganti menu buah impor dengan buah lokal karena alasan yang sama: krisis akibat Koperasi Karangasem Membangun (KKM).

Kadek dan Gede adalah dua dari sekitar 61 ribu korban KKM, koperasi berkantor di Karangasem yang menggunakan Skema Ponzi dalam menjalankan koperasinya. Koperasi ini menjanjikan nasabahnya akan untung sampai 150 persen dalam waktu empat bulan.

Februari lalu, Polda Bali menyatakan KKM telah melakukan penipuan pada warga. Direktur KKM Gede Putu Kertia dan Manajer KKM I Nengah Wijanegara sudah ditetapkan sebagai tersangka dan mengakui kesalahannya.

Setelah pengurusnya ditangkap, uang nasabah KKM tidak kembali. Ini pula yang terjadi pada Kadek dan Gede. “Gara-gara KKM kami jadi kena krisis,” kata Gede.

Gede yang juga guru di salah satu SD Negeri di Karangasem itu menjadi nasabah KKM sejak November tahun lalu. Awalnya dia menginvestasikan uangnya Rp 10 juta. Februari lalu, uangnya sudah kembali jadi Rp 12,5 juta. Namun semua uang itu ditambah dengan tabungannya kembali diinvesitasikan sampai Rp 20 juta.

Istri Gede, Ni Wayan Darni, juga berinvestasi Rp 6,5 juta. Ketika semua uang itu belum kembali, KKM sudah keburu ditutup oleh polisi. Gede pun kehilangan Rp 26,5 juta.

Adapun Kadek kehilangan uang yang lebih sedikit, Rp 5 juta, dibandingkan Gede. Namun, bagi peternak ayam ini, uang tersebut sudah banyak. “Maunya biar bisa  beli motor buat anak, eh, malah duitnya hilang,” ujar Kadek.

Kini mereka harus merayakan Galungan dalam suasana lebih sederhana. Tidak hanya buah impor yang berganti buah lokal, daging babi yang digunakan dalam Penampahan, ritual potong babi sehari menjelang Galungan, pun berkurang.

“Biasanya kami bisa beli sampai dua ratus ribu rupiah. Sekarang kanggoang (cukuplah) seratus ribu gen (saja),” kata Gede..

Begitu pula Kadek. Tiap Galungan dia ikut melakukan nampah, motong babi bersama-sama, dengan tetangga. Satu ekor babi seharga sekitar Rp 1,5 juta itu dibeli bersama oleh 10 orang untuk kemudian dibagi-bagi. “Sekarang cukuplah beli sendiri di pasar. Satu kilo saja buat banten (sesajen),” tambahnya.

Meski demikian, kemeriahan lain yang mengikuti Galungan tetap tidak terpengaruh. Salah satunya tajen yang dilakukan usai sembahyang. Sekitar 500 orang masih memenuhi tempat tajen di Desa Sedahan, Kecamatan Manggis, siang kemarin. Mereka ikut bertaruh atau sekadar menonton sabung ayam khas Bali tersebut.

“Sepertinya tidak ada pengaruh, sih. Krisis tidak krisis tajen jalan terus. Buktinya masih banyak orang,” kata Komang Joker salah satu bebotoh di Sedahan. Menurut Komang ditutupnya KKM tidak berpengaruh pada meriahnya tajen siang. Nilai uang taruhan juga masih seperti biasa, antara Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Joker, misalnya, siang itu kalah taruhan Rp 1 juta. “Namanya juga judi. Kalah menang itu biasa,” katanya santai. [b]

Tags: AgamaBaliBudayaEkonomiKarangasem
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

27 February 2026
Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

18 February 2026
Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

11 February 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Next Post

Tukang Suun Anak Memburu Hari Raya

Comments 3

  1. pushandaka says:
    17 years ago

    Makanya jadi orang jangan serakah. Sekarang, nikmati aja akibatnya. Kanggoang kasih buah busuk di gebogan..

    Reply
  2. Didi says:
    17 years ago

    Sampai sejauh itukah imbasnya?
    Tapi kalo udah menganggap itu sebuah perjudian, mau gimana lagi?
    Judi kadang membutakan…

    Reply
  3. ivan syahputra says:
    17 years ago

    mari kita maafkan orang-orang yang telah menipu kita…orang-orang yang telah berbuat jahat pada kita..

    besarkanlah maaf, besarkanlah cinta dan kasih yang ada dalam hati kita..

    mudah-mudahan kehidupan kita ke depan menjadi lebih baik dan bermakna..

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia