
Hawa panas pesisir Seraya menguap ke udara, memantulkan laut biru bagai kaca yang membentang. Puluhan jukung nelayan mangkal di tepi pantai berpasir hitam siang itu. Sayangnya, angin November belum menjanjikan hasil yang pasti bagi para nelayan.
Rasibawa (36) selaku ketua Kelompok Nelayan Segara Lestari Indah, menceritakan sudah lebih dari satu minggu terakhir para nelayan tidak mendapat tangkapan ikan yang memuaskan. Menurut penuturannya, faktor cuaca dan iklim yang tidak menentu menjadi penyebabnya. “Kalau dibilang setiap hari, itu tergantung situasi juga. Sekarang cuaca memang bagus, tapi justru ikan tidak ada. Sudah lebih dari seminggu kami hampir tidak dapat tangkapan,” jelas Rasibawa.
Bagi nelayan, cuaca cerah bukan jaminan rezeki. Justru pada hari-hari ketika laut tampak paling jinak, jaring bisa kembali hanya membawa angin kosong. Sebagai sosok yang menggantungkan kehidupan pada hasil laut, ketidakpastian merupakan kenyataan yang harus dijalani oleh mereka.
Tak hanya itu, masalah lain di laut adalah kehilangan jaring karena terbawa kapal-kapal besar yang melewati jalur nelayan mencari ikan. Selain itu, tak mudah membeli bahan bakar minyak bersubsidi untuk nelayan, sehingga biaya melaut meningkat. Hal-hal itulah yang menjadi salah satu motivasi untuk menguatkan kelompok dan mencari solusi dengan berbagai pihak.
Rasibawa menggambarkan situasi tersebut dengan gamblang. “Kalau diam diri dulu, ya karena sekali melaut itu biaya transportasinya besar. BBM saja bisa sampai 10 liter, kadang lebih,” ujarnya. Dengan harga bensin yang ia sebut berada di kisaran Rp15.000 per liter, modal melaut menjadi beban yang tidak bisa dianggap kecil. “Dan itu pun masih tergantung cuaca. Kalau angin kencang, kami enggak berani melawan. Ya terpaksa diam,” tambahnya.
Ketidakpastian semakin terasa ketika berbicara mengenai hasil tangkapan per bulan. Ketika ditanya kapan terakhir kali kelompoknya mendapatkan tangkapan besar, Rasibawa menyebut bulan Oktober sebagai momen terakhir ketika mereka merasa sedikit lega, dengan rata-rata hasil tangkapan berkisar 4.000-5.000 ekor. “Kalau bulan terakhir banyaklah ada puluhan,” ujarnya.
Ironisnya, bahkan ketika hasil laut sedang melimpah, para nelayan tidak serta-merta lega. Harga ikan kerap anjlok tiba-tiba, membuat jerih payah seharian penuh tak sebanding dengan nilai yang dibawa pulang. Di saat seperti itu, nelayan terkadang menghadapi dilema antara memaksakan melaut, atau memilih menepi demi menahan kerugian.
Di tengah ketidakpastian laut dan naik turunnya harga ikan, persoalan lain yang tak kalah mendesak mulai muncul ketika berkurangnya jumlah anggota nelayan karena usia dan masalah kesehatan. Banyak nelayan yang dulunya aktif kini mulai menepi, tidak lagi kuat melawan gelombang atau mengangkat jaring sepanjang hari.

Kondisi inilah yang kemudian memicu kebutuhan untuk bergerak. Hal tersebut mempelopori sebuah pertemuan penting di Banjar Tukad Tiis pada 8 November 2025. Pada kesempatan itu, Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) mengajak perwakilan dari lima kelompok nelayan yang masih bertahan di wilayah tersebut untuk bersatu membentuk satu organisasi besar yang lebih kuat. Pertemuan itu dihadiri puluhan nelayan dari masing-masing kelompok, perwakilan MDPI, I Made Pertu selaku Perbekel Desa Seraya Timur, serta Made Salin selaku Bendesa Adat Seraya.
Secara definisi, bendega tidak hanya merujuk pada nelayan, namun mencerminkan komunitas tradisional yang menjalankan peran adat, sosial, ekonomi, dan spiritual berdasarkan prinsip Tri Hita Karana (harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan). Di sana, tercermin keselarasan hidup masyarakat pesisir dan budaya masyarakat Bali yang patut dilestarikan.
Dengan mengusung tema “Penguatan Institusi Lokal Bendega sebagai Lembaga Adat Masyarakat Pesisir Banjar Tukad Tiis Seraya Timur, Karangasem – Bali,” pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali peran Bendega yang selama ini mulai meredup. Tujuannya untuk memperkuat kelembagaan nelayan yang bernaung di Pura Segara Ida Bagus Bebotoh, agar tata kelola melaut dapat berjalan lebih terorganisir serta kekuatan kelembagaan yang jelas.
Hal ini dilakukan bersamaan dengan upaya MDPI dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali untuk meninjau kembali peran bendega di wilayah pesisir timur Bali, yang selama ini dinilai belum muncul atau bahkan cenderung terlupakan.
“Peran dari Bendega yang selama ini sepertinya dalam kelembagaan di sini masih belum muncul. Bukan belum muncul lagi, tapi semacam terlupakan ya. Tidak terangkat bahwa ada nih kelompok-kelompok nelayan semacam itu,” ujar Nilam Ratna selaku perwakilan MDPI. Melalui inisiatif ini, MDPI berharap dapat memperkuat kembali eksistensi Bendega yang tidak hanya memiliki nilai sosial dan budaya, namun juga mendukung konsep perikanan berkelanjutan.
Dalam forum ini, MDPI mengusulkan pentingnya menyusun aturan atau awig-awig yang menjadi dasar operasional organisasi, agar kegiatan nelayan dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan.
Berbicara tentang kelompok nelayan, sebetulnya telah ada sejak lama dan telah turun-temurun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. “Kalau kelompok kan sebetulnya kan banyak ya, sudah lama. Ya turun-temurun lah. Nah, kata Bendega ini kan termasuk baru dihidupkan lagi,” ujar I Made Pertu selaku Perbekel Desa Seraya Timur.
Ia menambahkan bahwa melalui upaya revitalisasi, mereka berusaha mengembalikan nama lembaga tersebut menjadi Bendega, sebagaimana sebutan aslinya di masa lampau. Sejak awal, istilah Bendega memang digunakan untuk menyebut kelompok yang berfokus pada kegiatan menangkap ikan di laut.
Made Pertu juga menyampaikan bahwa saat ini sedang dilakukan proses pembentukan kembali kepengurusan Bendega, yang nantinya akan disahkan secara resmi. Dalam proses tersebut, akan ada pula tim terpadu yang akan merumuskan awig-awig atau peraturan adat, sehingga struktur kelembagaannya menjadi lebih kuat dibandingkan kelompok nelayan sebelumnya.

Setelah melalui diskusi panjang, pada 8 November 2025, puluhan figur nelayan yang hadir di Balai Banjar Tukad Tiis, menjadi saksi momen yang akan menjadi babak baru bagi perjalanan mereka. Kepengurusan baru Bendega Pura Segara Ida Bagus Bebotoh, resmi ditetapkan dan dilantik. Melalui Bendega ini, MDPI berencana menguatkan kapasitas lembaga tradisional adat Bali ini, baik secara de jure (memperoleh legalitas dari negara) dan de facto (diakui masyarakat).
Sangkepan (rapat) yang dihadiri lebih dari 60 orang nelayan dari sekitar 80 anggotanya ini juga dihadiri Jro Bendesa Adat Seraya, Made Salin. Dengan Bahasa Bali khas Seraya, ketua terpilih untuk lima tahun ke depan secara musyawarah mufakat adalah I Ketut Rasibawa yang sebelumnya merupakan ketua Kelompok Nelayan Segara Lestari Indah. Dua ketua lain adalah I Made Dira dan I Kadek Budiyasa.
Ke depan, Rasibawa menjelaskan bahwa Bendega Ida Bagus Bebotoh akan terus memperkuat aspek spiritual dan budaya pesisir melalui pelaksanaan upacara-upacara adat yang telah menjadi tradisi turun-temurun. Ia menuturkan siklus empat tahunan upacara Pakelem sebagai wujud syukur kepada laut. “Dari pengalaman saya sebelumnya, 4 tahun sekali kami mengadakan Pakelem. Upacara Pakelem itu upacara yang besar bagi Bendega,” tutur Rasibawa mengenai rencana kegiatan Bendega ke depan.
Kembalinya Bendega di Pesisir Timur Seraya, dengan lahirnya lembaga Bendega Ida Bagus Bebotoh adalah sebuah ikhtiar untuk menyalakan kembali denyut pesisir Seraya. Para nelayan tidak lagi berdiri sendiri menghadapi ketidakpastian, tetapi berjalan dalam satu ikatan yang sama untuk mewujudkan masa depan yang berkelanjutan.










