• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Mengawinkan Sastra, Seni Rupa dan Kajian Budaya

Astarini Ditha by Astarini Ditha
20 June 2011
in Budaya, Kabar Baru
0
2
Karya seniman perempuan untuk menandingi terbitan ponografi yang dibaca suaminya. Foto Astarini Ditha.

Awalnya adalah tolehan ke papan informasi di Kampus Sastra Unud di Jalan Nias.

Ada satu judul selebaran yang menarik perhatian: New Historicism dalam Sastra dan Kajian Budaya. Judul itu menjadi tema seminar bulanan Program Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud) Bali.

Hardiman dan I Wayan Artika bersanding sebagai pembicara pada Jumat dua hari lalu itu. Wayan Artika namanya saya kenali dari novelnya yang berjudul Incest. Novel ini pernah dibicarakan lantaran sanksi adat yang diterima penulisnya atas isi novel tersebut. Sedangkan Hardiman merupakan staf pengajar Seni Rupa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja juga kurator dan penulis seni rupa. Keduanya bicara mengenai pendekatan sejarah baru dalam karya sastra dan seni rupa.

Berkiblat ke Barat, teori pendekatan baru dalam karya sastra dan seni rupa kali pertama digunakan pada tahun 1982 dalam sebuah pengantar edisi Jurnal Genre oleh Stephen Greenblatt. Dari penjelasan Artika, ide dari pendekatan ini yakni bagaiamana sebuah teks sastra dan teks-teks lain bisa disusuri ideologinya, dan mengungkapkan problem-problem di zaman itu juga.

“Kondisi sosial di zamannya dikonstruksi ke dalam teks-teks ilmiah,” ujarnya sehabis sesi diskusi selesai.

Tidak hanya teks bergenre sastra, teks-teks lain yang sama-sama hidup sezaman ditelusuri dan dicari keterkaitannya. “Apakah itu mirip teori intertekstual dalam istilah teori sastra?” tanya seorang peserta.

Namun dijawabnya, intertekstual itu merupakan metodenya. “Tantangan para peneliti ialah, sejauh mana ia mampu meneliti hubungan teks dan jaman teks itu diciptakan,” katanya.

Pengenalan New Historicism ini dijabarkan Artika di sesi awal. Celakanya saya kehilangan momen saat ia giliran menjelaskan perihal penerapan New Historicism dalam  karya-karya sastra lokal di tanah air. Untung, Hardiman yang bicara dari kaca mata seni rupa cukup memuaskan.

Seni rupa meskipun ilmu yang tua, tapi teori-teorinya bisa dibilang masih muda. Begitu sebut Hardiman. “Teorinya banyak yang meminjam ada dari bahasa, antropologi. Makanya hutangnya banyak,” sebutnya setengah berkelakar. Dalam presentasinya, ditayangkan eksplorasi karya-karya perempuan dengan isu feminisnya menjadi pengait antara bidang obyek dengan sudut pandang analisisnya.

Satu gambar sketsa tubuh perempuan telanjang ditayangkan. “Ini yang membuat seniman perempuan karena alasan untuk menandingi terbitan ponografi yang gemar dibaca suaminya,” jelasnya.

Seni rupa, dalam bentuk simbol visualnya juga bicara soal jiwa jamannya. Seorang penanya kebetulan bertanya soal lukisan Djoko Pekik dan artikel Shindunata yang dimuat Kompas. Menyoal artikel itu, kritik sosial dengan simbolisasi “celeng” dihadirkan Shindunata untuk menyatakan pendapatnya soal negeri ini belakangan.

Simbol binatang dan pemilihan warna, dijelaskan Hardiman identik dengan si pelukis Djoko Pekik yang merupakan seniman Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). “Nafas-nafas Lekranya kerasa, “ sebut Hardiman.

Selesai pertanyaan dijawab, diskusi itu berakhir. Pendekatan New Historicism dalam kajian sastra dan budaya mendapat tempat sama. Sama-sama menjadi paradigma atau kaca mata akademik dalam membedah keberadaan hasil budaya, macam sastra dan seni dan relasinya dengan kondisi sosial zaman.

Satu hal yang belum dibicarakan serius tampaknya, bagaimana memasyarakatkan kesusastraan ini agar tidak melulu hidup dalam eksklusivitasnya. [b]

Tags: BaliDiskusiKajian BudayaKampus
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Astarini Ditha

Astarini Ditha

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Pak Ketut Setia Melakoni Tanpa Gengsi

Pak Ketut Setia Melakoni Tanpa Gengsi

Comments 2

  1. ivan says:
    14 years ago

    Luar biasa kemajuan kajian budaya UNUD… sukses Bang

    Reply
  2. Indonesia Indah says:
    11 years ago

    Saya tertarik dengan postingan anda ini. Ketiganya kental sekali dianggap sebagai kebudayaan di Indonesia ini.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Informasi sastra Indonesia

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia