• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Menanti Detik-detik Punahnya Bahasa Bali

Osila by Osila
17 May 2013
in Budaya, Kabar Baru, Opini, Sosial
0
4
ilustrasi bahasa Bali mulai ditinggalkan oleh Generasi Muda   ilustrasi : Osila
Ilustrasi bahasa Bali mulai ditinggalkan oleh Generasi Muda. Ilustrasi : Osila

Bahasa Ibu akan menjadi bahasa asing di kemudian hari.

Penyebabnya karena semakin banyak generasi muda Bali tidak lagi menggunakan Bahasa Bali sebagai media berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan sering ditengarai paling dekat berkerabat dengan bahasa Jawa. Namun, hal ini tidaklah demikian. Bahasa Bali paling dekat dengan bahasa Sasak dan beberapa bahasa di pulau Sumbawa bagian barat. Kemiripannya dengan bahasa Jawa hanya karena pengaruh kosakata atas bahasa Jawa karena aktivitas kolonisasi Jawa pada masa lampau, terutama pada abad ke-14 Masehi. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi. Bahkan dalam keluarga Austronesia, secara fonologis bahasa Bali lebih mirip bahasa Melayu daripada bahasa Jawa.

sebuah ilustrasi tentang detik-detik kepunahan ilustrasi : Osila
Detik-Detik Kepunahan Bahasa Bali ilustrasi : Osila

Layaknya Bahasa Inggris yang mempunyai Grammar, Bahasa Bali juga memiliki sor singgih atau tingkatan bahasa yaitu bahasa Bali Kesamen (biasa) dan Bahasa Bali Alus. Bahasa Bali Kesamen digunakan saat berkomunikasi dengan teman akrab, teman seumuran dan status sosial yang sederajat.

Bahasa Bali Alus digunakan pada saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, jabatan lebih tinggi, serta pada saat moment tertentu misalnya sangkep atau pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang kebanyakan(jaba) dengan berkasta lebih tinggi serta orang yang patut dihormati.

Nah, yang membuat generasi muda enggan untuk berbahasa Bali adalah, adanya sor singgih bahasa ini.

Kenapa dengan adanya sor singgih bahasa mereka jadi enggan? Iya karena mereka tidak bisa bahasa Alus yang mesti mereka gunakan, meskipun tahu bahasa Alusnya tapi mereka masih takut salah, apalagi kalau sedang berbicara dengan atasan atau di saat berbicara di pesangkepan.

Jadi, dari pada salah lebih baik menggunakan Bahasa Indonesia yang unniversal.

Terlebih dengan adanya empat tingkatan bahasa lagi dalam Bahasa Bali Alus yaitu: Alus Sor, Alus Madia, Alus Mider, dan Alus Singgih. “Ini akan semakin membuat generasi muda enggan berbahasa Bali,” ungkap Dewa Yogantara seorang guru Bahasa Bali dan pelestari budaya bali di Kabupaten Klungkung.

Alus Sor dan Alus Madia sering digunakan saat bawahan berbicara dengan atasannya, di mana Alus Sor ini digunakan untuk menggambarkan kerendahkan diri si bawahan. Alus Madia digunakan untuk menggambarkan bahwa kedudukan si atasan lebih tinggi dari si lawan bicara yaitu bawahannya.

Contoh, istri dalam Bahasa Bali adalah Kurenan, Somah, dan Rabi. Kalau si bawahan menyebut istrinya dengan sebutan somah, dan kalau si bawahan menyebut istri atasanya adalah dengan kata rabi, karena kata rabi lebih halus dari pada kata somah. Kalau ada orang ketiga yang mendengar percakapan tersebut seharusnya si orang ketiga ini tahu mana atasan dan mana bawahan.

Namun, karena kurang paham tingkatan bahasa Alus dalam Bahasa Bali banyak orang tidak bisa membedakan mana atasan mana bawahan hanya dengan mendengar percakapan mereka.

Itu baru Alus Sor dan Alus Madia, sudahkan Anda bingung? Kalau tidak bingung, jempol buat Anda karena Anda generasi yang akan melestarikan Bahasa Bali. Kalau bingung? Ini yang bahaya, karena Anda calon-calon yang kemungkinan besar akan menyumbang kepunahan Bahasa Bali.

ilustrasi bahasa Bali mulai ditinggalkan oleh Generasi Muda   ilustrasi : Osila
Bahasa Bali mulai ditinggalkan oleh Generasi Muda Bali
ilustrasi : Osila

Oke, ada dua tingkatan bahasa lagi, yaitu Alus Mider dan Alus Singgih. Alus Mider itu bahasa Bali Alus yang digunakan saat merendahkan diri dan menghormati lawan bicara. Bahasa Alus Mider ini bahasa Alus yang khusus, maksudnya khusus di sini adalah ada beberapa kata Kesamen yang hanya memiliki Bahasa Alus cuma satu. Contohnya uang dalah bahasa Bali Kesamennya adalah pipis dan bahasa Alusnya adalah Jinah. Karena cuma satu bahasa alus dari pipis yiatu jinah maka jinah itu adalah bahasa Alus Mider.

Di Bali, Bahasa Alus Singgih lebih sering digunakan saat berkomunikasi dengan sulinggih atau pendeta, serta pejabat tinggi setara bupati dan DPR mungkin president juga kalau si presiden mengerti bahasa Bali. Jadi Alus Singgih adalah bahasa Alus yang digunakan untuk menghormati orang yang kasta dan jabatannya lebih tinggi saat bertutur kata.

Mau berbicara saja harus mengikuti sor-singgih yang mungkin sangat ribet bagi sebagian besar generasi muda Bali saat ini. Tidak bisa dipungkiri lagi kenapa banyak Generasi Muda Bali yang meninggalkan bahasa ibunya dan memilih bahasa lainnya seperti bahasa Indonesia bahkan bahasa gaul atau Alay.

Dari sudut pandang lain, sor singgih bahasa ini merupakan pengkotakan derajat manusia di Bali. Layaknya Kasta yang dulu digunakan untuk memecah persatuan rakyat Bali oleh penjajah. Kemudian timbul pertanyan, kenapa kita harus berbicara dengan tingkatan bahasa yang berbeda? Semua manusia kan sama di mata Tuhan?

“Sopan santun, rasa menghormati dan rendah diri lah jawabanya. Semua manusia memang sama di mata Tuhan, namun rasa saling menghormati, sopan santun dan rendah diri seseorang itu akan terlihat dari caranya berbicara. Cara anak berbicara ke orang tuanya, cara umat berbicara kepada sulinggihnya, cara karyawan berbicara dengan bos-nya,” jawab Dewa Yogantara.

Alangkah baiknya apabila kita bisa berkomunikasi dengan Bahasa Bali Alus dengan semua orang Bali tanpa melihat jabatan ataupun kastanya. Namun bahasa Bali yang unik ini mengajarkan kita untuk rendah diri, hormat dan santut terhadapat lawan bicara. Dengan telah dibukanya Jurusan Bahasa Bali diberbagai Universitas di Bali semoga generasi muda Bali bisa tetap melestarikan budaya Bali terutama bahasa Balinya. [b]

Tags: Bahasa BaliBaliBudayaOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Osila

Osila

pengajar matematika yang suka melali, lakar melali? ajak saya ;)

Related Posts

Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Next Post
Pilgub Berakhir, Keputusan Belum Diambil

Pilgub Berakhir, Keputusan Belum Diambil

Comments 4

  1. I Gede Arya Pardita says:
    13 years ago

    Masalahnya bahasa Bali jarang dipakai dalam ragam formal yang berhubungan dengan modernitas, misalnya pembukaan perusahaan, pengajaran matematika di sekolah, peresmian restoran baru, dan sebagainya. Salah satu alasannya adalah karena kurangnya kosa-kata modern dalam bahasa Bali. Orang Jepang dan Korea, tahu kapasitas lidahnya terbatas, dan ketika mereka menciptakan kosa kata modern, mereka mengambil bahasa Inggris hanya saja dimodifikasi dengan cara pelafalan mereka. Contoh bahasa Jepang (saya pernah tinggal di Tokyo): komyunikeeshon (komunikasi), foowaado (forward — dalam e-mail), intabyuaa (interviewer), intaanshippu (internship), dan sebagainya. Mereka tidak malu dan justru bangga. Apakah tidak sebaiknya bahasa Bali menciptakan kosa kata modern baru sesuai dengan lidah kita? Misalnya: Slobenia (negara Slovenia), grawiti (gravity — gravitasi), kroswok (crosswalk — zebra cross, penyebrangan), dan sebagainya.

    Contoh di atas hanya sebagai ilustrasi saja.

    Maaf, hanya bisa mengomentari tanpa bisa memberikan solusi,

    Reply
  2. yoni says:
    13 years ago

    Saya tidak terlalu suka

    Reply
  3. AYU MARDIANI says:
    13 years ago

    kenapa bahasa bali harus ditinggalkan oleh generasi muda???? padahal kalau bukan kita siapa lagi coba yang akan melestarikan bahasa bali??? sebaiknya kita sebagai generasi muda bali harus melestarikan bahasa bali!!!!!!!!!!!!

    Reply
  4. ick says:
    12 years ago

    gimana mau ajeg bali kalau bahasa bali aja punah???

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

matan AI

Penghancuran Kemandirian Desa-desa di Bali

29 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

28 May 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia