• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, June 23, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Kundangan Memilah Sampah

Sri Junantari by Sri Junantari
23 June 2026
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Jumat, 12 Juni 2026 saya menghadiri undangan mecaru di rumah kakak ibu saya di kawasan Denpasar Utara. Upacara dimulai pukul 2 siang yang diawali dengan menata banten (sesajen) di pelinggih, halaman rumah, hingga di area pintu masuk rumah. Banten-banten dengan jajanan yang semuanya berbungkus plastik ini dibeli dari seorang serati (seseorang yang memiliki keahlian, baik dari segi etika maupun kemampuan dalam membuat perlengkapan banten). 

Menurut penuturan serati, Ia membeli jajanan berbungkus plastik ini dari pedagang langganannya di pasar yang juga sudah memperoleh berbungkus plastik dari produsen lain. Bisa jadi penggunaan jajan berupa ciki-cikian jadi pilihan utama serati yang harus menyiapkan banten beberapa hari sebelum upacara, apa lagi ketika pesanan banten sedang membludak, selain harganya yang relatif lebih terjangkau dan dapat disimpan lama.

Sekitar pukul 5 sore, seluruh prosesi mecaru telah usai yang ditutup dengan sembahyang bersama. Sambil menunggu dupa habis terbakar, sang empunya rumah menyuguhkan kami makan malam hidangan babi khas Bali dengan ingka beralaskan kertas minyak. 

Sambil menikmati makanan bibi saya bercerita bahwa sebenarnya keluarganya telah merencanakan akan mecaru sejak lama. “Okane kel mecaru di Gumgrege, pas to keweh gati ngutang sampah. Truk sampahe di banjar sing teke. Jani mecaru men Agustus TPA Suwunge kel metutup kone, nyan bin kewehan ngutang luhu. Mumpung jadi truke nu teke nyemak luhu di banjar,” cerita Ketut Rumiati bersemangat dalam bahasa Bali yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi: kami sebenarnya berencana akan mecaru pada Buda Kliwon Gumbreg (13 Mei 2026). Hanya saja kala itu fasilitas truk pengangkut sampah di banjar tak kunjung datang. Sehingga kami kesulitan membuang sampah. Sekarang mecaru karena pas Agustus nanti TPA Suwung ditutup, takutnya lebih susah lagi menemukan tempat membuang sampah banten caru.

Kami para anak muda yang hadir lantas memberitahukan bahwa Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat Dialog dengan Menteri Lingkungan Hidup pada Selasa 9 Juni 2026 sudah menyatakan bahwa TPA Suwung tidak ditutup. Yang ditutup adalah proses pembuangan sampah yang open dumping. Namun, di tingkat masyarakat masih muncul berbagai narasi yang membuat sebagian orang tetap khawatir terhadap perubahan sistem pengelolaan sampah. Obrolan 14 orang ini kemudian berlanjut pada biaya yang harus dikeluarkan ketika harus berlangganan jasa pengangkutan sampah terpilah dari swakelola. 

Saya berhenti mengikuti percakapan itu karena harus membuang sampah. Ketika saya hendak membuang sampah di tempat sampah di luar rumah, sepupu saya yang bernama Komang Suardana – yang punya rumah, lantas mengarahkan saya untuk membuang sampah di tempat sampah di depan dapur. 

“Pilah kan ne Mang, adi mecampur ye sampahe,” kata saya kebingungan melihat sampah di dua tempat sampah yang tercampur. Dengan sigap sepupu saya lantas memilah sampah di kedua tempat sampah itu.

“Dije ne kutang katik satene Mang, nak residu ye ne,” tanya saya yang artinya tusuk sate harus dibuang di mana ya kan masuk residu. 

“Ing ade residu-residuan ne mbok Luh, adane organik jak anorganik gen. Jang gen di organik,” jawab Komang kepada saya yang artinya tidak ada tempat sampah residu hanya ada organik dan anorganik, masukkan saja tusuk sate itu di tempat sampah organik. 

Saya menganggukkan kepala lantas mengikuti arahan tersebut. Saya menyadari bahwa aturan pemilahan sampah rupanya berbeda-beda di setiap tempat. Di rumah saya, tusuk sate biasanya dipisahkan karena sulit dikomposkan dan berpotensi melukai petugas sampah. Sementara di rumah Komang, sistem pengelolaan sampah hanya mengenal kategori organik dan anorganik. Perbedaan ini membuat saya berpikir bahwa pemahaman dan praktik pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih beragam dan belum sepenuhnya seragam.

Setelah makan, kami lantas ngeluarang banten caru. Dalam praktik yang dijelaskan jero mangku, banten caru harus dibawa keluar rumah dan ditempatkan di arah barat dari rumah. Paman dan sepupu saya yang berenam orang itu dengan sigap menanam beberapa banten di tanah yang sudah dilubangi sebelumnya di tiga tempat berbeda. Sayangnya, banten yang ditanam masih memuat jajanan berbungkus plastik. Ironis rasanya ketika bagian dari banten yang umumnya berbahan alami kini turut membawa material plastik sekali pakai yang sulit terurai di tanah. 

Kami para perempuan membantu ngelungsur banten yang bukan caru termasuk ngeluarang beberapa bagian dari banten caru yang tidak cukup masuk lubang ke depan rumah. Di sanalah para saudara saya mulai berdebat lagi. Apakah tidak apa kalau bantennya ditaruh begitu saja di luar rumah? Bagaimana jika hujan dan sampahnya terbawa turun ke jalanan depan rumah tetangga? Bagaimana jika para anjing membuatnya berserakan?

“Nah luarang gen, suud to kel wadahin yang plastik sampah, kel pilah yang paling a jam gen pragat,” sesumbar Komang Suardana mengakhiri perdebatan kami.

Seusai membawa semua banten, ibu saya yang melihat Komang Suardana membuka plastik pembungkus jajan satu persatu berkomentar, “bin dan suud men keto carane milah, Mang. Jeg jaje ane mebungkus plastik to lenang gen Mang, ngudiang to bukak seke besik,” 

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya, kapan akan selesai memilah kalau kamu harus membuka bungkus plastik di jajan, sebaiknya jajan bungkus plastiknya dipisahkan saja dari awal tidak perlu dibuka satu per satu. 

Ucapan ibu saya disepakati oleh saudara-saudara yang lain. Katanya nanti bisa diberikan ke petugas sampah pasti diterima karena berisi ciki-cikian. Saudara yang lain berpendapat jajanan itu bisa juga diberikan kepada tetangga yang memelihara babi sebagai pakan ternak. 

Begitulah hasil negosiasi petang itu tentang cara paling praktis untuk memilah sampah banten caru dalam situasi kami saat itu yang serba terbatas kala itu, bukan sebagai ketentuan atau solusi umum. Sementara para lelaki melanjutkan aktivitas memasak di dapur dan mengurus listrik yang padam, kami para perempuan membantu Komang meneruskan pekerjaan memilah banten caru. 

Ada yang bertugas mengambil material organik hingga jajan berbungkus plastik. Keponakan saya dengan setengah hati berusaha mengeluarkan telur pecah dari plastik pembungkusnya yang mulai beraroma tidak sedap. Tentu saja dilengkapi dengan histeria berusaha agar pakaiannya tidak terkena percikan telur itu. Entah sejak kapan telur di segehan mulai dibungkus plastik, barangkali itu bertujuan untuk mencegah pecah dalam perjalanan. Saya pun berpikir apakah masih ada cara lain agar telur tetap utuh tanpa harus dibungkus plastik, misalnya dengan tetap menggunakan wadah alaminya sebelum diletakkan di atas segehan.

Beberapa orang yang lewat di depan rumah berkomentar, “mih nak milah sampah selesai mebanten,”. Ada juga yang bertanya ada kegiatan apa sampai segitu ramainya orang yang milah sampah.

“Ne be madan Tri Hita Karana, Mbok,” ungkap Komang Suardana yang dalam bahasa Indonesia berarti inilah namanya Tri Hita Karana soal pemilahan sampah untuk banten seusai mecaru.

Inilah pertama kalinya kami kundangan memilah sampah. Pekerjaan memilah sampah seusai persembahyangan ini muncul bukan karena adanya banten itu sendiri, melainkan karena material plastik yang kini masuk ke dalam banten. Dulu, sebelum tahun 2010an, ketika komponen banten masih berbahan alami, pengelolaannya jauh lebih sederhana. Sampian dari banten-banten yang berbahan janur dengan jajanan tanpa plastik sekali pakai biasanya dapat dikembalikan ke alam atau dikelola sebagai sampah organik. 

Jika saja banten-banten hari ini tidak dipenuhi jajanan berbungkus plastik dan ciki-cikian, mungkin kami tidak perlu menghabiskan waktu untuk memilah sampah seusai mecaru. Samar-samar dalam ingatan saya, dahulu ketika kundangan kami hanya sibuk mencuci peralatan makan, tetapi hari itu kami kundangan memilah sampah.

Kontradiktif memang. Padahal banten caru ini kita haturkan dengan tujuan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam serta menetralisir energi negatif (Bhuta Kala) agar lingkungan tetap suci dan damai malah memuat material pencemar lingkungan. Kalau kita tilik secara sekala banten yang kita haturkan tetapi tidak dilungsur ini adalah persembahan untuk para binatang malah dibungkus plastik sedangkan para binatang akan kesulitan untuk membukanya. Padahal sejak 2019, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali  bersama Majelis Utama Desa Pakraman telah menganjurkan pelarangan penggunaan kantong plastik untuk membungkus tirta dan banten ketika sembahyang ke pura. 

Aneh tapi nyata kini waktu mengadakan upacara tak hanya melihat dewasa ayu, tetapi juga memperhitungkan aspek ketersediaan pelayanan pengangkutan sampah. Ini menunjukkan persoalan sampah tidak lagi berada di luar ruang ritual, tetapi sudah masuk ke dalam pertimbangan spiritual dan sosial keluarga saya.

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sri Junantari

Sri Junantari

Relawan merangkap guru matematika yang menulis untuk bercerita.

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Upaya Generasi Muda Tamblingan Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

22 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

19 June 2026

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Next Post
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Kundangan Memilah Sampah

Kundangan Memilah Sampah

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Upaya Generasi Muda Tamblingan Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

22 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia