• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Komunitas Nitirupa Usung Masalah Lingkungan

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
2 June 2016
in Agenda
0
0
Karya Pande Alit Wijaya Suta.
Karya Pande Alit Wijaya Suta.

Seniman pun menyikapi kerusakan lingkungan.

Komunitas Nitirupa menyampaikan sikap melalui karya rupa dalam pameran seni bertajuk Nitibumi di Bentara Budaya Bali (BBB). Mereka berharap pameran ini menjadi ruang penyadaran untuk selalu ingat menjaga harmoni kehidupan di bumi.

Ada 12 seniman anggota Komunitas Nitirupa. Mereka adalah Wayan Redika, Made Wiradana, Made Supena, Loka Suara, Teja Astawa, Imam Nurofiq, Galung Wiratmaja, Nyoman Sujana Kenyem, Made Gunwan, Uuk Paramahita, I Putu Bambang Juliarta dan Pande Alit Wijaya Suta.

Ke-12 seniman ini menampilkan 24 karya dengan berbagai ragam konsep, gaya, dan penyajian. Ada pula dua karya seni trimatra karya Nyoman Sujana Kenyem dan Imam Nurofiq.

Secara bebas mereka mengusung problematik lingkungan mulai dari galian C, tata ruang, perambahan hutan, alih fungsi lahan, ketidakharmonisan skala-niskala, politik kebijakan, hingga isu terkini tolak reklamasi Teluk Benoa. Karya-karya ini menjadi semacam ‘petisi sunyi’ seniman terhadap kerusakan lingkungan yang mendera berbagai wilayah.

Redika, koordinator Komunitas Nitirupa mengatakan, selain untuk mendorong kreativitas perupaan, mereka juga ingin mendukung para pegiat yang telah lama berjuang untuk lingkungan.

“Kami sekaligus ingin menggelitik para pemangku kebijakan untuk serius menangani keberlangsungan lingkunganbagi generasi mendatang melalui regulasi yang tegas dan memihak rakyat,” kata Redika.

Dalam upacara pembukaan yang dibuka pecinta dan kolektor seni Zainal Tayeb, Komunitas Nitirupa berkolaborasi dengan penari kontemporer Jasmine Okuno dan Dibal Ranuh serta band MANU untuk merespons tema pameran.

Sebuah komposisi musik dan tari pun disuguhkan dalam pembukaan, Jumat, 3 Juni 2016, pukul 18.30 wita di Bentara Budaya Bali, Jl Bypass Ida Bagus Mantra, Ketewel, Gianyar.

Karya UUK Paramahita.
Karya UUK Paramahita.

Kurator I Wayan Seriyoga Parta mengatakan interpretasi atas judul pameran Nitibumi berlatarkan pada refleksi atas kondisi bumi tempat manusia dan berbagai entitas kehidupan bersandar tumbuh dan berdinamika. Persoalan alam berupa kerusakan, bencana, juga tidak dapat dilepaskan dari ulah serta perilaku, ambisi dan keserakahan manusia.

Sederet pertanyaan pun seolah mengemuka: Bagaimana jadinya ketika sebuah tema, terlebih lagi tema besar yang menyangkut alam dan manusia di dalamnya, diterjemahkan dalam karya yang bersifat subjektif? Bagaimana kolerasi antara karya satu seniman dengan yang laindalam konstelasi representasi bersama di dalam pameran?

Komunitas Nitirupa menerjemahkan kegelisahan terhadap persoalan alam dan lingkungan itu melalui karya seni rupa. Mereka membuat tafsir terhadap persoalan-persoalan terkait tema melalui persepsinya masing-masing yang diwujudkan dalam bentuk intepretasi rupa.

Para seniman bersiasat melalui eksplorasi rupa dengan memanfaatkan elemen-elemen yang diambil dari realitas sekitar diolah secara bebas.

Yoga menambahkan, alih-alih membincangkan isi dan makna atau bahkan konteks dari karya dalam pameran ini, pembahasan lebih memilih membicarakan perihal pertanyaan bagaimana seniman mengungkapkan ide dan pemikirannya mengenai tema dalam wujud rupa. Dalam proses perwujudan tersebut, seniman sesungguhnya tengah mengupayakannya melalui langkah strategis yang berdimensi ”politis”.

Politik representasi yang diupayakan seniman dalam bentuk representasi karya, lanjut Yoga, jelas memiliki tujuan yakni membagikan penghayatan subjektif dari pandangan dunianya kepada subjek-subjek yang lain. Ia berharap pesan pameran ini bisa menyentuh ke khalayak luas.

“Setidaknya menumbuhkan harapan bersama, diawali melalui mata, kemudian menyentuh rasa, dan pada akhirnya juga menyentuh logika pikiran,” katanya.

Warih Wisatsana dari BBB mengatakan karya-karya dalam pameran ini tidak semata bersitegang dengan capaian estetik atau melulu menghadirkan gagasan hingga terbebani oleh timbunan pesan, melainkan semacam upaya sublimasi atau upaya perenungan. Kita juga dapat meresapi bagaimana tema disikapi dan dikritisi, serta sekaligus upaya masing-masing kreator untuk menemukan satu kesegaran visual, terbebas dari kungkungan pengulangan bentuk masing-masing.

“Wujud kepedulian dan sikap kritis mereka tidak tergelincir menjadi semacam pernyataan verbal, gugatan heroik permukaan, atau luapan ekspresi provokatif. Jauh dari nada agitatif, karya-karya mereka mengejutkan kita justru karena sebagian tampil mengedepankan deformasi bentuk; berlapis rupa dan makna,” katanya.

Terkait pameran ini, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, pada Minggu, 5 Juni 2016 pukul 18.30 wita akan digelar Diskusi Nitibumi yang menghadirkan narasumber kurator I Wayan Seriyoga Parta dan penekun sastra & kebudayaan Wayan Westa. [b]

Tags: Bentara Budaya BaliKomunitasSeni Rupa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

27 December 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Aksi Bali Mengkritisi Kebijakan Bias Gender dan Tolak RUU TNI

Gerakan Kesadaran Neurodiversitas untuk Keberagaman dan Melawan Stigma

21 June 2025
Sehabis Manis Manis

Sehabis Manis Manis

2 March 2024
Gemuruh di Bali Utara: Hulutara, Irama Utara, Beluluk (Bagian 1)

Gemuruh di Bali Utara: Hulutara, Irama Utara, Beluluk (Bagian 1)

4 September 2023
Menyambut Kelinci Air di Benoa

Menyambut Kelinci Air di Benoa

24 January 2023
Next Post
Legenda, Tuak Manis yang Tak Memabukkan

Legenda, Tuak Manis yang Tak Memabukkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia