• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Kedai Kopi Aboe Talib dan Saksi Sejarah

Rama Paramahamsa by Rama Paramahamsa
22 June 2023
in Kabar Baru, Kuliner
1
0

Ketika hari menjelang petang, pasar Gajah Mada, Tabanan mulai disesaki masyarakat. Di dalam pasar tersebut, tersedia banyak hal: kedai makanan, penjual mainan, hingga bengkel motor Honda. Tepat di depan pasar tersebut, terpampang tulisan “M. Aboe Talib”. Uniknya, sepanjang 10 meter ke barat dari kedai tersebut, anak muda berkumpul saling melempar cerita, entah masalah percintaan yang gagal karena kasta atau sekadar menertawakan diri di tengah kehidupan kapitalisme tiada tara.

Lima tahun sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, kedai kopi M. Aboe Talib telah berdiri di Tabanan, Bali. Mulanya, M. Aboe Talib menjual nasi campur sebagai hidangan utama dan kopi sebagai minumnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, M. Aboe Talib memutuskan untuk menjual kopi sebagai hidangan utama mereka.

Berumur lebih tua dari bangsa ini, M. Aboe Talib nyatanya masih dapat bertahan di berbagai persoalan ekonomi di negeri ini. Dilansir dari Tribun Bali, melalui penuturan Tri Waluyo, generasi ketiga kedai ini, M. Aboe Talib dahulunya kerap menjadi tempat para pejabat negara dan pekerja di zaman Belanda nongkrong, Bahkan, pada era-era 80 hingga 90-an, kedai kopi M. Aboe Talib kerap menjadi tempat nongkrong bagi pensiunan TNI, Polri, dan Pegawai Negeri Sipil.

Kedai kopi ini tidak perlu diragukan lagi. Di Tabanan, kedai kopi ini bisa menjual 150 hingga 200 gelas dalam satu hari atau sekitar 5 hingga 10 kilogram bubuk kopi Robusta dihabiskan per harinya.

Dari Tabanan ke Denpasar Berusaha Menjaga Cita Rasa

Tidak hanya di Tabanan, nama M. Aboe Talib telah terdengar hingga ke Denpasar. Terbukti, setidaknya M. Aboe Talib telah membuka tiga cabang, yang masing-masing dipegang oleh generasi ke-empat keluarga M. Aboe Talib.

“Yang buka pertama kali M. Aboe Talib tahun 1940, setelah itu M. Aboe Talib punya anak yang namanya M. Soepomo. Anaknya itu punya anak, ibu saya, mekumpyang jadinya. Kalau saya nerusin, berarti saya generasi keempat,” ujar Hima seorang keturunan langsung dari M. Aboe Talib yang meneruskan bisnis keluarganya di Jalan Kecubung, Denpasar.

Di tengah gempuran coffee shop populer di Denpasar, terbukti bahwa M. Aboe Talib masih dapat bertahan hingga sekarang, bahkan berhasil melewati masa-masa pandemi. Hal yang membuat Aboe Talib masih bertahan hingga sekarang, nyatanya adalah khasnya cita rasa kopi yang mereka sajikan.

“Saya di Denpasar cukup susah untuk bersaing dengan coffee shop yang lain karena mungkin di sini coffee shop lebih beraneka ragam. Jadi di situ mungkin motivasi saya untuk mencoba menonjolkan ciri khas saya, yaitu kopi saring itu,” ujar pria tersebut.

Nyatanya, dalam menjaga bangunan kokoh M. Aboe Talib, kedai kopi tersebut memiliki kepatuhan yang baik dalam menjaga cita rasa kopi saring mereka. Bahkan, M. Aboe Talib masih menggunakan cara-cara tradisional dalam memproduksi kopi, yaitu tanpa mesin. Uniknya, proses produksi kopi tetap dilakukan secara terpusat di Tabanan sehingga tidak menghilangkan cita rasa khas dari kopi M. Aboe Talib.

“Tetep dari pusat, dari Tabanan nanti di supply dari Tabanan. Produksinya ada tempat sendiri,” ujarnya. Keluarga ini memiliki kebun dan pabrik kopi sendiri.

Sadar akan persaingan yang semakin ketat di Denpasar, Hima memiliki caranya sendiri dalam menarik konsumen untuk datang ke M. Aboe Talib. Kedai kopi yang terletak di Jalan Kecubung, Denpasar itu kerap mengajak konsumen-konsumennya untuk nonton bareng pertandingan sepak bola.

“Nah caranya saya mungkin lebih berinteraksi dengan konsumen, misalnya ada yang dateng, saya ajak ngobrol. Cara promosinya dan cara bertahan selama tiga tahun itu mungkin dengan cara seperti itu karena jarang banget untuk promosi di media sosial,” tungkasnya menjelaskan usaha yang ia lakukan untuk dapat mempertahankan bisnis keluarganya.

Berbeda dengan M. Aboe Talib Tabanan yang dapat menjual hingga 150 gelas dalam satu hari, setidaknya M. Aboe Talib Kecubung dapat menjual sekitar 20-30 gelas kopi. Hima menyadari bahwa persaingan antar coffee shop di Denpasar juga menjadi faktor hal tersebut terjadi. Akan tetapi, Hima tetap mensyukuri hal tersebut.

“Namanya dunia kan ya, jani di beduur nyanan ngidang di beten. Makanya kita nggak ngerasa kita punya nama besar. Tetap merendah aja. Nggak ada yang bisa disombongkan,” tutup pria itu.

kampungbet

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Rama Paramahamsa

Rama Paramahamsa

Manusia biasa dengan hidup biasa-biasa saja.

Related Posts

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
kataraga gamelan kontemporer bali

Kataraga Meramu Bambu, Besi, dan Pipa Menciptakan Resonansi Baru Musik Bali

6 February 2026
matan AI

Ba(ng)li Sold?

5 February 2026
Next Post
Menyusuri Bilah-bilah Peradaban Mount Fuji

Menyusuri Bilah-bilah Peradaban Mount Fuji

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia