JRX Tak Harus Kere untuk Bersuara Melawan

JRX di distro miliknya, RMBL. Foto Anton Muhajir.

Salam hohahohe, Mas Elki..

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena tulisan panjenengan telah menemani saya menyeruput kopi saset di trotoar pinggir jalan Legian, Kuta sembari menunggu tamu yang masih sarapan di restouran hotel. Tulisan panjenengan juga telah membuat saya, sebagai tamatan Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali (Unud) dan skrup kecil kapitalisme yang masih percaya bisa ikut membantu mengubah dunia dengan jempol, merasa perlu membalas surat terbuka panjenengan.

Jika mas boleh menganalogikan JRX sebagai anak bandel yang pikun, atas cara berpikir panjenengan di surat terbuka untuk JRX, izinkan juga saya menganalogikan panjenengan seperti guru Pendidikan Moral Pancasila di hari perkawinanmu, di ranjang tempat kau bercumbu, ia tidak senang, mendapati istrimu tak lagi perawan.

Eh, maaf, saya malah melipir ke lirik lagu Melancholic Bitch yang menemani saya menulis ini.

Maksud saya, ketika mas mengajari JRX dan membandingkan cara ia berlaku mentah-mentah dengan Pramoedya Ananta Toer, jelas itu terlalu moralistik. Pram dan JRX lahir di masa berbeda dan tentu dengan kaitan-kaitan yang berbeda.

Jadi, cara berpikir mas mengingatkan pada kebanyakan guru saya waktu SD di ujung masa Orde Baru. Masa di mana ketika kita memiliki cara pandang berbeda, guru itu seringkali menyalahkan kita berdasarkan standar yang menurutnya ideal.

Misalnya ketika guru sejarah mengajar di kelas menyuruh siswa mencatat semua yang dia jelaskan, sementara saya hanya diam dan sesekali mencatat beberapa poin saja, dia akan datang menjewer telinga saya. “Untung kamu saya jewer. Kalau di zaman saya SD, guru akan memukul jari saya dengan penggaris kayu,“ katanya sambil pasang muka galak.

Ketika melihat saya tidak mencatat, dia membandingkan dan menuntut agar saya bersikap sama dengan kakak kelas atau teman sekelas yang menurutnya ideal. Saya dianggap tidak mengharagai ia dan sejarah karena tidak mau mencatat.

Padahal, mencatat beberapa poin saja, bukan dengan mencatat semua penjelasan, adalah metode yang menurut saya baik untuk diri saya agar bisa memahami apa yang dia sampaikan.

Mas Tetap Gagal

Sebelum masuk ke poin inti tulisan di surat terbuka, Mas mengawali tulisan dengan bertanya, “Apakah kamu tahu salah satu orang di dalam buku itu telah menelanjangi lirik Sunset di Tanah Anarki-mu?”

Setelah membaca tulisan panjenengan dengan saksama, saya tidak mendapatkan penjelasan tentang orang yang menelanjangi lirik lagu itu.

Namun, saya coba berpikir lebih baik. Mungkin itu diksi. Kata menelanjangi yang Mas gunakan sama seperti sebelumnya JRX menggunakan kata “fck whore” ketika menegur mba Via Vallen (VV) walau bagi saya diksi mas tetap gagal atau nggak jelas.

Kemudian dengan hanya berbekal isi wawancara Wijaya Herlambang terhadap Pram, panjenengan nampak membabi buta mempermasalahkan pemilihan sikap JRX yang menegur VV yang dianggapnya membawakan lagunya tanpa spirit atau napas dari lagu itu.

Dengan perbandingan apple to apple seenaknya dewe, Mas menuntut agar JRX berlaku seperti Pram yang memberikan cuma-cuma tetralogi Pulau Buru kepada mahasiswa yang datang ke rumahnya untuk diskusi. Dengan begitu JRX baru layak disebut berada di barisan perlawanan.

Panjenengan mempermasalahkan cara JRX menyebarkan gagasan yang menurut panjenengan tidak sama persis dengan bagaimana cara Pram. Lalu, entah apa substansi dan maksudnya, mas membandingkan Dinasti Kuta dengan kehidupan Pram dengan berbagai tekanan di rumah sederhana di Utan Kayu, Jakarta Timur.

Entah apa itu yang mas maksud dengan Dinasti Kuta. Mungkin mas cuma tahu Kuta sebagai surga dunia dari brosur-brosur wisata.

Cara Sendiri

Saya juga pengagum Pram. Juga pilihan cara dia menyebarkan gagasan. Sungguh mulia memang ketika beliau menulis untuk dibaca dan gagasannya tetap hidup. Walau Pram sudah dikubur dan jenazahnya habis dimakan makhluk tanah, saya justru merasa lebih hidup ketika membaca kutipan kutipan Pram. Seperti kutipan yang panjenengan tulis tentang pandangan Pram terhadap karya-karyanya, “Ya, biarkan dia hidup dan mati dengan caranya sendiri.“

Namun, ketika ada seniman memilih cara yang tidak persis sama dalam menyebarkan gagasannya apakah itu sepenuhnya keliru? Ketika berhenti pada acuan Pram menulis untuk dibaca, setahu saya JRX tidak pernah melarang orang mendengarkan lagunya.

Apakah adil membandingkan dua hal pada ruang dan waktu serta kaitan berbeda, yaitu Pram yang memberikan tetralogi Pulau Buru pada mahasiswa yang datang ke rumah untuk berdiskusi dengan JRX menegur mba VV yang penghasilannya ratusan juta dan memiliki penggemar sekian ratus ribu yang terlihat tak acuh pada spirit lagu yang sering dibawakannya?

Bagi saya ketika Pram hidup di masa penuh tekanan sosial politik dan ekonomi memiliki pandangan membiarkan karyanya tersebar kemudian hidup dan mati dengan caranya sendiri ialah pilihan paling baik. Ketika JRX bisa memilih karyanya hidup dan tumbuh dengan spirit yang dia inginkan, tentu bukan sesuatu yang jahat kan?

Toh dengan cara caranya itu JRX juga sering bersua tentang kejahatan 1965 dan isu lingkungan lain di panggung. Kalau mas menganggap ia tidak paham dengan isi buku yang dia perlihatkan hanya karena gagal menjadi Pram, itu sungguh naif. Karena JRX juga mengisi sebuah lagu di album Prison Song (Nyanyian yang Dibungkam). Bersama musisi lain, dia menyebarkan semangat lagu itu dengan sungguh-sungguh. Tanpa dibayar dan banyak risiko tentunya.

Hal lain yang pernah dilakukan Pram adalah dia menegur balik Goenawan Muhammad (GM) saat GM menasehatinya agar Pram bisa memaafkan seperti Nelson Mandela. “Saya bukan Mandela dan saya tidak akan menjadi Mandela” kata Pram. Pram ingin menjadi dirinya sendiri, bukan orang lain.

Poinnya, panjenengan jangan memaksa JRX menjadi Pram.

Kemudian entah karena terburu-buru ingin nimbrung atau ingin menyerang JRX secara personal, panjenengan menuduh JRX berpandangan bahwa yang boleh menyanyikan lagunya hanya orang-orang tertentu di lingkaran tertentu karena menegur mba VV. Padahal, secara jelas dan gamblang, saya melihat menegur mba VV di medsos ialah agar mba VV tidak hanya menggunakan lagunya untuk hal-hal komersil, tanpa spirit dan menggaburkan pesan di lagu itu.

Karena, jelas dalam pesan dari teguran JRX dan Superman is Dead (SID), lagu itu lahir dengan tanggung jawab dan keberpihakan.

Apakah untuk memenuhi itu mba via harus keluar dari koplo dan menjadi punk? Tentu saja tidak. Saya yakin banyak orang tidak sedangkal panjenengan yang memaksa orang harus hidup dan menyebarkan gagasan dengan cara persis sama sesuai standar panjenengan.

Superman is Dead turut suarakan selamatkan Pulau Menjangan. Sumber Facebook.

Ruh yang Berbeda

Saya paham kalau punk dan koplo memiliki ruh yang berbeda. Namun, akan sangat memanusiakan kalau VV dengan panggung dan massa yang dia miliki mau mencari tahu dan menyampaikan pesan lagu itu. Tentang menolak lupa akan ketidakadilan, kejahatan 1965, Munir, kekerasan terhadap perempuan, Wiji Thukul, Marsinah, petani Kendeng atau apa saja yang menyangkut lingkungan dan masyarakatnya.

Kemudian seperti orang yang mengawali gosipnya dengan kalimat ”Sebenarnya saya nggak suka gosipin oang ya, tapi bla bla bla..”, panjenengan memulai dengan narasi kehidupan Pram tapi dia masih menyebarkan gagasannya dan rela memberikan buku pada orang secara cuma-cuma tanpa sepengetahuan istri beliau karena hanya dari itu beliau hidup.

Lalu, panjenengan ngelindur tentang copyright, mengatakan tidak mempermasalahkan bisnis JRX tapi dengan pasti menggunakan itu untuk mempermasalahkan JRX yang ada di citra perlawanan. Menuduh lirik JRX anti kemapanan tapi JRX hidup mapan, menjual isu untuk kaos dan pomade. Hal paling menjengkelkan, panjenengan menuduh ruang untuk musisi di Twice Bar sebagai jualan dan kerakusan yang harus ditekan.

Saya tidak paham apa ukuran kemapanan yang panjenengan maksud? Apakah dengan narasi itu panjenengan sedang membikin standar kalau orang di jalan perlawanan harus memiliki kehidupan kere atau berakhir dibunuh dan dihilangkan? Apakah yang boleh dan layak hidup mapan hanya para politisi atau pengusaha yang samasekali tidak acuh terhadap isu sosial?

Jika iya, maka jangan heran akan selalu hadir orang tua yang takut anaknya menjadi kritis. Kita sebagai masyarakat akan lebih cenderung hidup ngarep dan nerimo demi kehidupan yang layak dan tidak kere.

Nyinyir pada Buruh

Lalu tentang Pram. Apakah panjenengan yakin Pram sepenuhnya memilih untuk hidup seperti itu? Apa panjenengan merasa wajar Pram dan mereka yang berjuang untuk kemanusiaan harus hidup kere?

Bagi saya orang-orang seperti Pram seharusnya memiliki kehidupan yang baik, mendapatkan panggung lebih besar tanpa melacur. Dengan begitu mereka bisa berbicara lebih lantang tentang kemanusiaan.

Bagi saya panjenengan tidak ada bedanya dengan kelas menengah yang nyinyir terhadap buruh yang demo dan bersuara pada hari buruh mengendarai motor ninja. Panjenengan hanya berhenti di titik itu. Tanpa mau tahu bagaimana proses yang ia lalui mendapatkan kuasa itu. Dan itu tidak ada salahnya selama bukan itu bukan hasil kejahatan.

Saya juga bukan orang yang merasa pas memakai kaos RMBL atau Pomade di usaha JRX. Namun, sekalipun itu bukan hal sempurna, saya melihat itu sesuatu yang hadir memberi pesan. Seperti bagaimana panjenengan melihat ruang untuk band lokal sebagai sebuah kegiatan jualan semata dan kerakusan yang harus ditekan.

Secara terang benderang panjenengan telah menuduh band yang main di Twice Bar ialah bagian dari komoditas barang jualan dan kerakusan JRX. Jika itu barang dagangan semata, lalu kenapa pub dan bar-bar besar di jejeran Kuta tidak melakukan itu? Tidak memberikan ruang secara gamblang kepada band lokal seperti kerakusan JRX di Twice Bar.

Jika dengan segala dalih dan standar yang diciptakan, panjenengan termasuk salah satu dari sekian orang yang ingin JRX turun panggung atau harus kere dulu baru boleh naik panggung dan bersuara.

Maka saya ialah jejeran dari ratusan ribu mungkin lebih orang yang menginginkan JRX tetap ada di atas panggung. Bersuara tentang hal-hal yang tidak banya orang di level JRX berani suarakan.

Jika panjenengan berkhotbah orang yang tidak sesuai dengan standar panjenengan lebih baik menyanyi di kamar mandi atau menyanyi sekadar menyanyi, panjenengan tidak lebih dari tamatan sastra tengik yang memelihara fasisme dan anarko di kepala. [b]