• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, June 23, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Jadi Pemimpin di Indonesia Mesti “Ndableg”

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
4 February 2009
in Kabar Baru, Opini
0
0

Oleh I Nyoman Winata

“Bli Jadi pemimpin di Indonesia itu harus Ndablek ya?” Begitu kata istri saya saat makan siang beberapa hari lalu. Saya berdua sedang menikmati makan siang sambil menonton berita ditelevisi tentang banjir yang merendam rumah-rumah penduduk di sebuah daerah di Indonesia.

Saya tidak menjawab, saya melihat sebentar ke arahnya, lalu kembali mengunyah makan siang sambil menonton gambar di televisi. “Kalau nggak ndablek, pemimpin seperti pak SBY pasti nangis liat rakyatnya harus berjuang melawan banjir” katanya melanjutkan.

Saya masih tetap tidak menjawab, asyik mengunyah tahu bakso goreng, lauk makan siang saya hari ini. “Lha buktinya, Pak Presiden kita asyik-asyik saja tuh kesana-kesini ikuti acara serimonial sambil ketawa-ketawa”, kembali istri saya berkomentar.

“Ya begitulah…” jawab saya singkat, karena tidak tahu mesti menjawab apa.

Baca koran hari ini, berita dari daerah-daerah di Jawa Tengah memang dipenuhi dengan derita. Dua orang tewas ditelan ombak, empat orang tewas tertimbun longosoran, bencana banjir memaksa warga mengungsi. Saya tidak sanggup membaca isi, hanya judul-judul berita saja yang saya tangkap.

Begitulah saat musim hujan mendera, isi berita di koran dan televisi hanya tentang bencana yang dari tahun ketahun tidak beranjak dari banjir dan tanah longsor. Aneh bin ajaib di daerah seperti Jawa Tengah, bencana-bencana itu tidak diantisipasi sama sekali. Pastinya tidak hanya di Jawa Tengah, didaerah lainnya termasuk Denpasar, kota kelahiran saya juga terjadi hal yang sama. Pemerintah pun tidak mampu berbuat banyak, entah mereka sibuk mengerjakan apa. Sibuk mikirkan proyek dan celah untuk korupsi mungkin.

Bencana didaerah tidak pernah habis. Jangan katakan apa yang terjadi di ibu kota Negara bernama Indonesia, bencana banjir sudah menjadi hal biasa yang tidak pernah ada penyelesaiannya. Pemerintah selalu berdalih ini dan itu. mulai dari soal danalah, partisipasi rakyat kuranglah, bla-bla-bla…. Sungguh klise dan tidak masuk akal.

Pertanyaannya adalah, Lantas apa kerja mereka selama ini? Tidakkah seorang presiden menangis melihat rakyatnya susah, dikejar-kejar banjir, meregang nyawa di telan tanah longsor dan tewas dilaut karena kapal yang ditumpangi terbalik. Kita belum bicara berapa korban nyawa harus melayang karena kecelakaan di Jalan Raya dan kereta api lalu pesawat udara. Semua karena ketiadaan sistem yang memadai untuk menjamin keselamatan rakyat.

Kalaupun ada sistem itu hanya dipergunakan alat mencari kekayaan pribadi. Ijin trayek di bisniskan. Keur kendaraan umum juga penuh sogokan sehingga bus tidak laik jalan tetap dikeluarkan ijin trayeknya. Adakah pemimpin negeri ini termasuk Pak Presiden memiliki kepedulian?

DI saat menjelang pemilu, saya merasakan kemuakan yang semakin menjadi-jadi. Muak kepada para pemimpin dan calon pemimpin. Meraka semua Ndableg nya semakin menjadi-jadi. Perang untuk merebut kekuasaan berlangsung seru, seakan-akan hidup mereka hanya untuk itu saja. Pak Presiden dan lawannya sibuk beropini. Iklan ditebar, mengaku-aku paling berhasil dalam mengelola negara dan mengumbar janji tentang perbaikan-perbaikan.

“Saya muak Bli, liat mereka,” kata istri saya suatu saat. Saya tidak perlu bertanya alasan apa. Tetapi istri saya menjawab sendiri, “saya muak karena mereka semua pembohong,” katanya.

Kembali saya hanya bisa diam. “Ya. Begitulah,” jawab saya dalam hati.

Tags: OpiniPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir dan besar Denpasar tahun 1975. Pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Unud sampai wisuda. Di tahun 2013 lulus kuliah di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Bekerja di sebuah Media massa yang berkantor pusat di Bali. Dari akhir tahun 2004 lalu bekerja di Semarang Jawa Tengah. Tidak punya hobi pasti, dulu suka olahraga, sekarang tidak pernah jelas. Rumah di depan Terminal Ubung persis, disebelah rumah makan padang "Minang Ubung".

Related Posts

Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
Next Post

Telatlah Bayar Kau Ku Tahan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Upaya Generasi Muda Tamblingan Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

22 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

19 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia