Ironi Habis Jual Sawah lalu Beli Beras

not-for-sale
Instalasi seni Not for Sale di Tegallalang, Ubud karya Gede Sayur. Foto Anton Muhajir.

Ini ibarat sebuah pukulan atas perubahan prilaku. 

Tantangan begitu terasa di Ubud, Gianyar yang menjadikan wisata sebagai identitas utama. Desa internasional yang sejuk di tengah Bali ini mendunia melalui karya seni, ritual upacara keagamaan yang indah “mewah” serta keindahan alam.

Kemasyhuran Ubud sampai membuat Elizabeth Gilbert menulis kisah inspriratifnya dalam buku “Eat Pray Love”. Bahkan, aktris sekaliber Julia Roberts pun melaksanakan shooting film dengan judul yang sama, menguatkan citra Ubud sebagai sebuah desa yang penuh aura spiritual.

Kelas meditasi dan yoga pun semakin menjamur di Ubud. Menjadikan Ubud sebagai desa bagi mereka yang kesulitan menemukan diri mereka sendiri dan berharap menemukannya di Ubud. Padahal, tidak usah sebegitunya juga datang jauh-jauh dari Eropa ke Ubud untuk menemukan kesadaran diri. Cukup duduk di toilet dengan sebatang rokok, nanti juga akan ketemu kesadaran akan si diri itu.

Citra ini membawa sebuah fakta ketika lahan persawahan di Ubud berubah menjadi penuh sesak oleh vila, hotel dan restoran (organik). Tidak hanya lahan, perilaku penghuninya juga berubah. Mereka lebih suka menjual delapan jam waktu mereka untuk melayani industri ini daripada bercengkrama dengan sawah.

Apakah ini salah? Tidak ada yang salah ketika benar adalah milik kerumunan. Delapan jam untuk menghasilkan uang. Lalu uang itu yang akan digunakan untuk membeli beras yang sebenarnya bisa mereka hasilkan sendiri.

Hidup hari ini tidak hanya butuh beras. Tepat sekali jika hendak hidup hari ini. Tetapi, bukankah kita tidak hidup untuk hari ini saja? Masih ada besok dan lusa. Jika setiap harinya kita harus membelanjakan Rp 10.000 untuk beras, apa keberlangsungan dalam kemandirian bisa terwujud yang adalah hidup dalam ketergantungan akan produsen beras?

Pengingkaran bisa saja dilakukan dengan berdalih bahwa Bali tergantung pada pariwisata. Nyatanya ketergantungan akan pariwisata dikarenakan pariwisata memberikan uang untuk membeli beras yang sebenarnya berpuluh-puluh tahun lalu bisa dihasilkan sendiri.

Setiap hari harga beras bisa terus naik. Begitu juga dengan harga hasil pertanian lainnya. Gaji pegawai akan naik setiap tahun tetapi harga hasil pertanian bisa naik setiap hari. Tergantung konspirasi pedagang dan tengkulaknya, bukan petani. Lalu apa yang bisa dilakukan selain mengeluh sambil tetap membeli? Yang lebih mengerikan adalah tanpa disadari rasa kepemilikan atas lahan yang membuat seseorang berhak menjual atau mengubah sawah menjadi vila akan melempar anak-cucu ke dasar lembah ketergantungan.

Tentu hal ini sah untuk hidup hari ini jika hidup bisa berhenti di hari ini saja. Sayangnya bukankah hidup tidak bisa berhenti di hari ini.

Hidup di Bali tidak hanya hari ini. Masyarakat percaya dengan reinkarnasi (kelahiran kembali). Selain itu mereka rela mencari sentana untuk memastikan keberlangsungan garis keturunan mereka. Bukankah hal yang lucu ketika garis keturunan dipelihara tetapi kemandirian atas sawah sebagai lahan pertanian diabaikan?

Ibaratnya keberlangsungan keturunan terus dijaga tetapi periuk nasi dijual untuk kloset. Generasi selanjutnya sebagai keturunan akan melaksanakan upacara dengan kebingungan di mana harus mencari padi, beras, kelapa, janur dan daun. Mau datang ke villa lalu bilang hallo mister saya mau minta janur untuk bikin sesajen setiap hari, atau bilang ke HRD untuk memasukkan tunjangan upacara sehingga gaji per bulan bisa lebih tinggi.

Gede Sayur dengan instalasi Not for Sale di belakang galerinya. Foto Anton Muhajir.
Gede Sayur dengan instalasi Not for Sale dengan latar belakang persawahan di Ubud. Foto Anton Muhajir.

Not for Sale

Kaya berlimpah uang dan kehormatan menjadi tujuan hidup hari ini. Walaupun itu diperoleh dengan cara menjual tanah, menjual kemandirian generasi nanti atas sumber makanan, kemandirian masa depan untuk keberlangsungan upacara keagamaan.

Sebuah sawah di Desa Junjungan, di utara pusat Ubud, memajang instalasi besar #NOT FOR SALE. Kalau ingin melihat tulisan dengan benar lihatlah pada musim metekap. Pemilik sawah, seorang seniman, membuat kalimat tersebut. Sepengetahuan saya tulisan ini sudah tiga kali berganti bentuk instalasinya.

Dari beberapa media dan hastag yang dibuat, kalimat instalasi ini merupakan pertahanan terakhir dari serbuah alih fungsi lahan, The Last Defense.

Suatu sore di Sanur, setelah seharian di dalam bungker berpendingin ruangan, kami duduk di meja restoran dari sebuah hotel. Kalau tidak karena undangan gratisan, saya tidak akan duduk di restoran dan mengetahui kenapa mereka banting tulang mengumpulkan uang untuk mereka habiskan di tempat seperti ini.

Dari obrolan singkat itu saya mengetahui NOT FOR SALE tidak hanya sebuah perlawanan akibat serbuan investor yang ingin membeli atau mengontrak tanah di wilayah desanya. Dia juga sebagai pernyataan bahwa kita tetap butuh bahan makanan dari sawah. Bahwa uang tidak bisa langsung dimakan. Walau punya banyak uang tetap saja untuk makan harus membeli beras.

NOT FOR SALE tidak hanya pertahanan terakhir, tetapi menjadi pisau yang mengiris kesadaran yang terlupakan oleh ajaran dari Dewa baru bernama industri pariwisata.

Sebuah komando balik kanan maju jalan telah diserukan. Para pemuda-pemudi pun membalikan badan mereka dari sawah. Melangkah masuk ke ruangan-ruangan dingin hotel atau vila. Menggunakan delapan jam mereka untuk tersenyum ke setiap turis yang datang. Tersenyum menunggu sambil menawarkan jasa massage di depan spa pada setiap turis yang lewat atau meneriakkan “Transport, Sir!” pada setiap turis yang berjalan kaki, hanya karena rupiah lebih cepat masuk kantong dari pada menjadi petani yang penuh lumpur.

Dan setiap rupiah itu akan bereka belanjakan untuk beras, sayur, bunga dan sarana sesajen yang bisa mereka hasilkan dari sawah sebelum sawah menjadi vila atau hotel. Mengingkari sawah hanya karena sawah tidak bisa menghasilkan uang tunai.

Perubahan perilaku ini jauh lebih berbahaya dari pada alih fungsi lahan. Jika mereka masih menjaga perilaku sederhana sebagai petani, tentu mereka akan menjaga sawah dan tidak menjualnya. Perilaku yang ingin berlari mengejar segala kemewahan yang menawarkan citra kesenangan di permukaan hari ini lalu menenggelamkan pada kedukaan menjadi konsumen besok hari.

Ada harapan dalam NOT FOR SALE, harapan untuk kembali pada kenyataan kita bukan binatang pengerat yang bisa langsung ngemil uang kertas sambil nonton televisi, atau menjadikannya uang goreng spesial dengan telur mata sapi. Mengembalikan bahwa manusia adalah makhluk organik, yang membutuhkan makanan organik. Organik di sini tidak seistimewa organik yang dijual restoran yang menyasar orang-orang yang paranoid pada pestisida tetapi masih pakai sabun dan sampo pabrikan. Bahwa kenyataan masih makan nasi, singkong, sayuran dan semua bahan makanan hidup di atas tanah, belum memakan kertas atau ngerokoti besi.

Lalu di mana letak spiritual jika ternyata masyarakat lokal sendiri telah lalai menjaga hal paling dasar, sawah sebagai sumber keberlangsungan hidup generasi yang akan datang? Hal menjadi semakin menyesakkan ketika di sebuah siang yang terik, seorang pemangku dengan bangga menceritakan bagaimana vilanya, yang awalnya adalah sawah, telah disewa selama lima tahun dengan harga sewa Rp 80 juta per tahun.

Miris ketika orang tua, secara umur dan status sosial, harusnya menjaga dan menurunkan sebuah nilai yang lebih bermanfaat tetapi malah terjebak dalam materi.

Sejujurnya saya bisa jadi adalah orang yang akan diuntungkan ketika sawah di Ubud habis. Sebab, saya bisa menyuplai beras dan hasil pertanian lain ke mereka dengan harga mahal tentunya. Belum lagi kebutuhan mereka akan janur, kelapa atau enau, dan bambu sebagai sarana upacara.

Lihatlah bagaimana upacara yang dilakukan di Ubud yang selalu besar-besaran dan sangat nyeni.

Jadi para remaja, pemuda dan pemudi, silakan balikkan badan dari sawah. Bergembiralah walau dalam hati ketika mendengar kabar tanah kalian akan dijual atau dikontrakkan selama 25 atau 50 tahun untuk sebuah vila atau hotel karena itu artinya kalian akan mendapatkan rumah baru, pura keluarga baru, mobil baru dan motor baru.

Lalu, setelah itu kebingungan karena setiap hari harus membeli beras, bunga dan janur untuk ritual dan perut yang terus menuntut setiap hari. Juga anak cucu yang bisa jadi adalah buyut atau cicit dahulunya akan berkata, “Kalau saja sawah yang dulu masih tersisa, sekarang ndak usah bingung nyari makan”.

Saya jadi teringat sebuah gambar yang dikirim seorang teman. Gambar yang memperlihatkan bagaimana seseorang menebang pohon apel miliknya untuk membuat sebuah patung yang kemudian dipujanya untuk memohon sebuah apel.

Ya seperti itu yang terjadi sawah dijual atau ditinggalkan untuk mencari uang yang akan digunakan untuk membeli beras yang dihasilkan dari sawah. [b]