• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

[Foto] Memotret Petani Rumput Laut Nusa Penida

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
5 January 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosial, Travel
0
0

Oleh Agung Parameswara

Rumput laut tulang punggung kehidupan warga Nusa Penida.

Hampir 80 pesen penduduk pulau yang masuk di Kabupaten Klungkung, Bali ini menjadi petani di laut yang bergantung pada pasang surut air laut. Pulau yang terdiri dari batu kapur dan bukit gersang itu, tidak menyediakan banyak alternatif untuk lahan pertanian yang sangat tergantung pada kesuburan tanah dan curah hujan yang cukup.

Berawal pada tahun 1984, saat seorang pengusaha dari Surabaya membawa pengaruh rumput laut untuk dicoba dikembangkan di Pulau Nusa Lembongan, tepatnya di Desa Jungut Batu, di seberang Nusa Penida. Setelah panen pertama di Nusa Lembongan berhasil, kabar tentang bagaimana kesuksesan rumput laut menyebar cepat di antara warga desa. Dalam kurun waktu kurang dari empat bulan, seluruh pesisir laut nusa penida sepanjang 30 km dipenuhi oleh petani rumpu laut.

Jenis Rumput laut yang populer di Nusa Penida adalah dari jenis spinosum (eucheuma spinosum) dan jenis katoni (eucheuma cottoni). Spinosum biasanya digunakan sebagai bahan makanan di Cina sedangkan katoni diolah menjadi tepung untuk industri yang berbeda seperti kosmetik, obat-obatan, dan makanan.

Proses mereka bertani berawal ketika air laut surut, mereka bekerja di laut untuk menanam atau memotong rumput laut. Tidak ada waktu persis seperti ketika air laut surut. Tergantung pada musim, hal ini bisa terjadi di pagi hari, siang hari dalam panas terik, sore hari, atau di tengah malam yang dingin.

Pekerjaan ini mengharuskan mereka untuk berendam di air setiap hari. Biasanya, rumput laut tidak langsung dijual begitu mereka dipotong, tetapi dikeringkan terlebih dahulu sebelum dijual.

Rumput laut yang menjadi komoditas ekspor dan diminati dunia tidak serta merta mengubah nasib mereka. Harga yang minim yang ditetapkan oleh distributor membuat kehidupan mereka tidak berubah hampir 40 tahun semenjak rumput laut pertama kali populer di Nusa Penida.

Para petani menjual rumput laut kering kepada distributor yang akan mengirimkannya ke Surabaya untuk diproses lebih lanjut sebelum diekspor. Distributor menetapkan harga Rp 3.000 – Rp 4.500 per kilogram untuk jenis Spinosum, tergantung pada kualitas, dan Rp 7.200 per kilogram untuk Jenis katoni.

Foto-foto ini diambil menggunakan smartphone iPhone5, aplikasi Hipstamatic. [b]

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_12

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_11

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_10

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_09

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_08

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_07

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_06

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_05

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_04

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_03

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_02

AgungParameswara_MelaliNyegaraGunung_01

Tags: KlungkungRumput LautSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Menolak Reklamasi, Merebut Masa Depan

Menolak Reklamasi, Merebut Masa Depan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia