• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Denpasar, Pada Mulanya Sebuah Taman

I Made Sujaya by I Made Sujaya
27 February 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Sejarah
0
2

Pasar di Bali Tempo Doeloe

Menengok Denpasar dua seperempat abad silam.

Setelah 20 tahun merayakan hari ulang tahun dengan tonggak peresmian sebagai Kotamadya pada 27 Februari 1992, mulai tahun 2013 ini Denpasar merayakan hari jadi dengan mengambil tonggak pendirian Puri Denpasar tahun 1788. Itu sebabnya, perayaan HUT Kota Denpasar tahun ini ditandai sebagai hari jadi ke-225.

Penetapan tahun 1788 sebagai tonggak pendirian Kota Denpasar ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 tahun 2012 tentang Hari Jadi Kota Denpasar. Seperti apa sebetulnya Denpasar dua seperempat abad lalu?

Berikut sekelumit sejarah berdirinya kota Denpasar.

Pada mulanya adalah sebuah taman. Tapi, ini bukan sekadar taman. Ini taman kesayangan Raja Badung Kyai Jambe Ksatrya yang beristana di Puri Jambe Ksatrya di Pasar Satria sekarang hingga ke utara. Taman ini dilengkapi dengan tempat peraduan yang diperuntukkan khusus bagi tamu-tamu yang datang dari luar Badung.

“Kalau dibandingkan dengan sekarang, taman itu semacam villa peristirahatanlah,” kata AA Ngurah Putra Darmanuraga, tokoh Puri Pemecutan yang juga penekun sejarah.

Sang Raja dikenal suka bermain adu ayam. Pada masa itu, raja kerap mengundang raja-raja lain di Bali untuk bermain adu ayam. Raja-raja undangan itulah yang kerap ditempatkan di taman sang Raja.

“Taman itu diserahkan pengelolaannya kepada I Gusti Ngurah Made Pemecutan dari Puri Kaler Pemecutan atau Puri Kaler Kawan,” kata Damranuraga.

Taman itu terletak di sebelah utara pasar, tepatnya di rumah jabatan Gubernur Bali sekarang (Jaya Sabha). Awalnya pasar terletak di lapangan Puputan Badung sekarang, tapi pada zaman Belanda pasar itu dipindah ke dekat Tukad Badung sehingga dikenal sebagai Pasar Badung.

Karena terletak di utara pasar, taman itu diberi nama Taman Denpasar. Kata den dalam bahasa Bali memang berarti ‘utara’. Banyak daerah di Bali yang diawali dengan kata den yang menunjuk makna utara, seperti Denbukit (nama lain Buleleng yang berlokadi di sebelah utara gunung/bukit).

Pada tahun 1779 terjadi konflik antara Kyai Jambe Ksatrya dengan I Gusti Ngurah Rai. Padahal, I Gusti Ngurah Rai tak lain orang kepercayaan Kyai Jambe Ksatrya, terutama dalam hal permainan aduan ayam. Konflik ini berujung pada terbunuhnya Kyai Jambe Ksatrya.

Pascaterbunuhnya Kyai Jambe Ksatrya, kekuasaan dilimpahkan kepada I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Pelimpahan kekuasaan kepada I Gusti Ngurah Made Pemecutan menandai berakhirnya kekuasaan Puri Jambe Ksatrya. Pasalnya, I Gusti Ngurah Made Pemecutan mendirikan istana baru di Taman Denpasar. Istana baru itulah dinamai Puri Denpasar. I Gusti Ngurah Made Pemecutan pun dinobatkan sebagai Raja Denpasar I.

Kompromi
“Puri Denpasar inilah yang di-pelaspas pada tahun 1788. Dalam tradisi Bali, upacara pemelaspas adalah bentuk peresmian sebuah tempat,” kata Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud yang juga Ketua Tim Peneliti Sejarah Kota Denpasar, AA Bagus Wirawan.

Itu sebabnya, tim peneliti merekomendasikan tahun 1788 sebagai tonggak kelahiran Kota Denpasar. Alasannya, ketika sebuah puri berdiri, itu berarti munculnya sebuah kota. Pasalnya, pada masa kerajaan puri menjadi pusat pemerintahan.

Selain itu, puri juga menjadi pusat budaya serta pusat perekonomian masyarakat karena di dekat puri berdiri alun-alun serta pasar.

“Sebelumnya nama Denpasar memang sudah muncul, tapi belum sebagai kota. Begitu dijadikan puri, saat itulah Denpasar itu berubah menjadi sebuah kota,” kata Wirawan.

Lantas, kapan tanggal dan bulan pendirian Kota Denpasar? Menurut Darmanuraga, merunut pada Raja Bandana Purana disebutkan Puri Denpasar dipelaspas pada hari Tumpek Landep, 1 Februari 1788. Tumpek Landep memang menjadi hari petoyan, wedalan atau patirtaan di Pemerajan Agung Puri Denpasar. Jika merujuk pada kalender 2200 tahun karya IB Suparta Ardana, pada tahun 1788 ada dua hari Tumpek Landep yakni 5 April 1788 dan 1 November 1788.

“Ada kemungkinan bulan Februari itu salah kutip. Yang benar mungkin 1 November 1788,” kata Darmanuraga.

Tapi, tim peneliti bersama Pemkot Denpasar dan DPRD Denpasar memutuskan tetap menggunakan tanggal 27 Februari sebagai hari jadi, tetapi tonggak tahun diambil 1788. Wirawan menyatakan hal itu sebagai bentuk kompromi sejarah. Tanggal 27 Februari tetap dipilih karena didasari pertimbangan masyarakat Denpasar sudah terbiasa merayakan hari jadi kotanya pada tanggal itu. Tapi, untuk kepentingan membangun kesadaran sejarah, tahun 1788 dipilih sebagai momentum tahun pendirian Kota Denpasar.

“Kompromi sejarah itu biasa. Tidak hanya Denpasar, penetapan hari jadi kota-kota lainnya di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya dan lainnya juga berdasarkan kesepakatan dengan memperhatikan aspek-aspek historis,” tandas Wirawan. [b]

Tulisan disalin dari blog Made Sujaya. Foto dari Tropen Museum.

Tags: DenpasarSejarah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan dan penulis buku. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ruang Baca di Tengah Menjamurnya Konsep Book Cafe

Menyelami Masa Lalu Melalui Fiksi Sejarah

25 October 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Next Post
Ogoh-ogoh, Simbol Bhuta Kala Menjelang Nyepi

Bahaya Raksasa dalam Styrofoam (Baca : Gabus)

Comments 2

  1. kabeh nusa (@kabeh_nusa) says:
    13 years ago

    sgt bermanfaat menambah pengetahuan……….

    Reply
  2. lodegen says:
    13 years ago

    btw knapa pemkot skrang gencar membuat patung2 zaman puri ya? memang ada program revitalisasi sejarah tapi ada ga kaitannya dg pembangunan kota saat ini misalnya konteks lingkungan, tata ruang dll. krn di tiap sudut kota sdh ada patung pahlawan skrng ditambah lg patung2 simbol perlawanan raja-raja. semangat kota sangat “peperangan” pdhl perang kini kan pd sampah, malas, dll. sekadar keheranan

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia