• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, February 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Denpasar Nyepi tanpa ogoh-ogoh

Swastinah Atmodjo by Swastinah Atmodjo
28 February 2009
in Kabar Baru
0
11

Oleh Swastinah Atmodjo

Paruman (musyawarah) Majelis Madya Desa Pakraman Denpasar memutuskan untuk meniadakan pembuatan ogoh-ogoh baik dalam skala kecil maupun besar, pada perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1931, 26 Maret mendatang.

Ketua Majelis Madya Desa Pekraman Denpasar I Made Karim, beberapa waktu lalu mengatakan, paruman sudah dilaksanakan akhir Januari lalu di Peguyangan Kangin, Denpasar Utara. Intinya, kata dia, para bendesa pakraman yang merupakan pimpinan desa pakraman menyepakati ditiadakannya ogoh-ogoh untuk menjaga ketertiban pelaksanaan tapa brata penyepian yang waktunya berimpitan dengan pesta demokrasi.

“Bukannya kami membatasi kreativitas anak muda untuk membuat ogoh-ogoh. Tapi ini demi kepentingan yang lebih besar, utamanya untuk mengeliminir kemungkinan pelanggaran ketertiban masyarakat yang menyebabkan terganggungnya esensi perayaan Nyepi,” urai Karim, yang ditemui di Kantor Walikota Denpasar.

Diakui bahwa pada malam pengerupukan seringkali terjadi aksi mabuk-mabukan. Pihaknya mengkhawatirkan dampak negative itu akan meluas, terlebih semakin dekatnya dengan hari pemilihan, 9 April.

Sudah dipastikan, kata dia, “Nuansa politik akan kian memanas dengan semakin dekatnya waktu pemilihan. Jangan sampai, perayaan keagamaan nantinya justru ternodai oleh persoalan politik.”

Dijelaskan Karim, pada setiap perayaan Nyepi, umat Hindu di Bali selama 24 jam dianjurkan melaksanakan tapa brata penyepian yang mana tidak diperkenankan bepergian (amati lelungan), bekerja (amati karya), dan tanpa menyalakan lampu (amati geni). Pada malam menjelang pelaksanaan Nyepi atau yang disebut Pengerupukan, biasanya dilakukan upacara Tawur Kesanga, dilanjutkan dengan pawai dan pembakaran ogoh-ogoh (patung raksasa) sebagai perlambang keburukan atau kejahatan.

Menurut Karim, selama ini antar sekaa teruna (organisasi kepemudaan di tiap banjar) di Denpasar seolah berlomba mengkreasi ogoh-ogoh, baik dari sisi wujud, bahan, hingga ukuran. “Ini merupakan ajang kreasi yang tak ternilai dan spontan dari masyarakat. Termasuk biaya, yang rata-rata menghabiskan jutaan rupiah untuk setiap ogoh-ogoh, juga terkumpul secara swadaya.”

Selain itu, lanjut Karim momen pawai ogoh-ogoh selalu menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Katanya, “Untuk itu kami mohon maaf, bila tahun ini di Denpasar meniadakan momen berkesan tersebut.”

Selebihnya Karim berujar, untuk pelaksanaan  pengerupukan di masing-masing rumah tangga tetap berlangsung seperti biasa, menyesuaikan adat dan kebiasaan desa pakeraman setempat.

Bila nantinya ditemukan sekelompok warga tetap membuat ogoh-ogoh, dikatakan Karim menjadi tanggung jawab Bendesa adat setempat untuk menindaknya. Toh, pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi hasil paruman kepada seluruh sekaa teruma melalui para kelian banjar.

Menindaklanjuti hal itu, kata Kabag Humas dan Protokol Kota Denpasar I Made Erwin Suryadarma, walikota sangat mendukung. Bahkan, Pemkot juga sudah membuat surat edaran berisi hasil paruman tersebut ke seluruh Kepala Desa dan Lurah se-Denpasar. [b]

Tags: AgamaBudaya
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Swastinah Atmodjo

Swastinah Atmodjo

Swastinah Atmodjo. Menulis lepas untuk The Jakarta Post dan pernah bekerja sebagai wartawan tetap di majalah Trust, majalah wanita Lisa, majalah Elite, harian Nusa, dan beberapa media lain. Sekarang jadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dan tinggal di Sanglah, Denpasar Barat.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

22 July 2024
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

23 October 2023
Next Post

Kerusakan Lingkungan Bali Mengkhawatirkan

Comments 11

  1. I Ngurah Suryawan says:
    17 years ago

    Pasti ada aja ogoh-ogoh, ndak mungkin dihilangin cuma dengan paruman desa pakraman…

    Reply
  2. NGURAH says:
    17 years ago

    gimana kalau galungan juga nggak boleh mepatung/motong babi karena bagi sebagian kalangan makan daging babi adalah haram….ada-ada saja. ini namanya politik sudah menjajah ranah adat dan tradisi

    Reply
  3. made says:
    17 years ago

    ado-ado gen, ogoh-ogoh to kan sube tradisi, gara-gara pemilu masak rela ditiadakan????
    len gara-gara to ditiadakan yang sengterimo…..!di lampong tetep ado ogoh-ogoh!!!
    jani kembali pada niat kita, mungkiun dengan tidak menerima uang/sumbangan dari caleg yang berlebihan sudah dapat dikatakan tidak menyalah artikan tradisi kita.

    Reply
  4. MadeAdi (Tabanan) says:
    17 years ago

    adah ne… k*l*t san berfikir…
    kata kiasannya seperti ini.. “membunuh tikus dengan membakar lumbung-nya”…
    yang salah bukan ogoh-ogohnya.. tapi oknumnya…

    “tolong para politikus di desa-desa yang ndeso ndeso, sudahlah jangan menjerumuskan budaya bali ke dalam keterpurukan kepunahan. ulah kamu-kamu ini yang bikin ogoh-ogoh menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan”

    memang sempat di desa saya ada kasus seperti itu.. ceritanya begini:
    oleh salah seorang wakil rakyat itu, seorang pemuda disuruh untuk ikut mengusung ogoh-ogoh di salah satu sisi ‘sanan’ ogoh-ogoh (kayu usungan), pemuda itu diberi perintah agar ketika arak-arakan ogoh-ogoh itu sampai di depan rumah rivalnya agar ogoh-ogoh itu digoyangkan biar rusuh….. (ini ni yang bikin gedg basang)…

    wuih.. bingung….. kemerosotan moral… Budaya dikalahkan Politik….

    Reply
  5. ananda dimitri says:
    17 years ago

    Berhubung Nyepi tanpa ogoh-ogoh, saya ramaikan dengan satu buah Puisi.

    NYEPI SUNSET KUTA

    Jajar garis pantai : gedung-gedung mati
    Pasir mati – semua manusia lenyap
    Ombak besar pecah hampa suara
    Matahari nyelup merayap diam-diam

    Kuta terhisap ke maharuang mahasenyap
    Perut hening menelan utuh… leburlah hai
    Dalam kesatuan Jagat Raya … leburlah
    Esok dicipta kembali…. Puahh…..

    http://www.anandadimitri.blogspot.com

    Reply
  6. ananda dimitri says:
    17 years ago

    Berhubung Nyepi tanpa ogoh-ogoh, saya ramaikan dengan satu buah Puisi yang sepi.

    NYEPI SUNSET KUTA

    Jajar garis pantai : gedung-gedung mati
    Pasir mati – semua manusia lenyap
    Ombak besar pecah hampa suara
    Matahari nyelup merayap diam-diam

    Kuta terhisap ke maharuang mahasenyap
    Perut hening menelan utuh… leburlah hai
    Dalam kesatuan Jagat Raya … leburlah
    Esok dicipta kembali…. Puahh…..

    http://www.anandadimitri.blogspot.com

    Reply
  7. ananda dimitri says:
    17 years ago

    yah demikianlah adanya saat ini. coba kita nikmati saja.

    Reply
  8. Gus de says:
    17 years ago

    POLITIK TOO PEMBODOHAN.. malu-maluin, masak politik dicampur adukkan dengan adat..
    klo emang orangnya ga bener, meskipun dilarang pasti tetep ada konflik.
    buktinya pawai ogoh2 di KUTA yng dikemas dalam sebuah perlombaan berjalan lancar tanpa konflik..mohon dicontoh..

    Reply
  9. tuu jeb ing says:
    17 years ago

    intinya perbaiki moral individunya, jangan menyalahkan BUDAYA & TRADISI brow….

    Reply
  10. Juragan bugil says:
    16 years ago

    Kalau kita meng”agama”kan tradisi, maka kita tidak akan dapat melaksanakan nilai-nilai agama(moral)dengan baik, yang benar adalah kita harus mentradisikan agama.

    Reply
  11. Ayu Cahyani Mahayekti says:
    14 years ago

    ad” saja! Ogoh ogoh kn udh tradisi

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia