• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, July 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Dari Lumpur ke Layar: Bagaimana Banjir Menjadi Konflik Horizontal di Media Sosial

Chandra Manikan by Chandra Manikan
23 September 2025
in Kabar Baru, Opini
0
0
Banjir di Pasar Badung

Banjir bukan hanya bencana alam; ia juga bencana sosial. Ketika air meluap, yang ikut hanyut bukan hanya barang berharga dan kendaraan, tetapi juga rasa saling percaya antarwarga. Bencana yang semestinya menjadi momentum solidaritas justru berubah menjadi pemicu konflik horizontal—masyarakat melawan masyarakat. Lebih ironis lagi, negara seolah memilih diam, membiarkan konflik horizontal antarwarga itu berulang dan bahkan semakin dalam.

Fenomena ini memperlihatkan paradoks pembangunan kita. Secara formal, negara memiliki kewajiban konstitusional melindungi seluruh rakyat dari bencana dan dampaknya. Namun dalam kenyataan, negara justru hadir setengah hati: respons lamban, distribusi bantuan tidak merata, bahkan seakan sengaja membiarkan masyarakat saling menyalahkan. Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh narasi liar di media sosial, memperuncing ketegangan dan memperkuat prasangka antar kelompok.

Media sosial yang mestinya bisa menjadi ruang koordinasi solidaritas berubah menjadi ruang pertarungan narasi. Banjir yang terjadi membawa serta banjir tuduhan: “ini salah etnis tertentu yang tidak peduli lingkungan”, “ini salah pendatang yang menguasai lahan”, atau “ini kesalahan kelompok agama tertentu yang egois”. Algoritma platform memperkuat narasi penuh emosi ini, mendorong konten provokatif lebih cepat viral dibanding pesan solidaritas. Akhirnya, masyarakat terpecah bukan karena banjir itu sendiri, melainkan oleh narasi konflik yang diproduksi dan disebarkan secara digital.

Dalam kondisi ini, negara tidak bisa cuci tangan. Diamnya negara atas konflik horizontal bukanlah netralitas, melainkan bentuk politik ketidakpedulian (politics of neglect). Ketika otoritas membiarkan masyarakat berkonflik, yang lahir bukan solusi, melainkan reproduksi ketidakadilan. Negara seolah menonton dari kejauhan, sementara warga sibuk menyalahkan sesamanya. Inilah yang disebut John Gaventa sebagai kegagalan negara membuka ruang partisipasi yang adil: masyarakat hanya diberi ruang untuk berkonflik, bukan untuk berunding dan menyelesaikan masalah bersama.

Konflik yang terjadi bukan hanya soal banjir, tetapi juga cermin dari persoalan struktural yang lebih dalam: diskriminasi etnis, ketimpangan distribusi sumber daya, dan lemahnya tata kelola lingkungan. Banjir hanyalah pemicu, media sosial hanyalah medium, tetapi akar masalah ada pada absennya negara dalam mengelola ruang publik dan ruang digital secara inklusif.

Masyarakat sebenarnya punya modal solidaritas. Setelah banjir melanda, masyarakat saling membantu dengan bergotong royong membersihkan sampah yang datang akibat banjir, menyalurkan bantuan, atau sekadar berbagi informasi evakuasi. Namun tanpa fasilitasi negara, solidaritas ini kalah oleh politik kebencian. Negara mestinya hadir dengan dua cara: pertama, respons cepat dan adil atas bencana, sehingga tidak ada ruang bagi saling curiga. Kedua, regulasi ruang digital agar media sosial tidak menjadi pabrik disinformasi dan ujaran kebencian, melainkan ruang ko-produksi solusi.

Dalam teori politik pembangunan, pembangunan tidak pernah netral; ia selalu soal siapa yang mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Ketika negara membiarkan konflik antar masyarakat berlarut, maka pembangunan yang dihasilkan hanya melanggengkan ketimpangan dan ketidakpercayaan. Kita akhirnya bukan hanya gagal mengatasi banjir, tetapi juga gagal membangun pondasi kebangsaan yang kokoh.

Konflik sosial yang dipicu banjir ini mestinya membuka mata kita: tanpa negara yang adil, bencana alam mudah berubah menjadi bencana politik. Banjir akan surut, tetapi luka sosial akan terus mengendap jika negara terus memilih diam. Dalam era digital, luka ini semakin cepat diperluas oleh algoritma media sosial.

Karena itu, jalan keluar bukan hanya memperkuat infrastruktur fisik untuk menahan banjir, tetapi juga infrastruktur politik dan sosial: negara yang hadir adil, ruang digital yang sehat, serta masyarakat yang dipersatukan oleh solidaritas, bukan dipisahkan oleh prasangka.

agen judi bola
Tags: banjir di balibencana di balikonflik antarwargaOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Chandra Manikan

Chandra Manikan

Writer and Citizen Scientist | Community-Based Research & Inclusive Collaborative Practice

Related Posts

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

8 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

19 June 2026
Next Post
Banjir Besar Tahun Ini Memicu Kritik Warga akan Tata Kelola Kota dan Sampah

Donasi ASN Bali: Solidaritas atau Koersi?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia