• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Cokelat Buatan Petani Perempuan di Banjar Moding

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
4 November 2020
in Kabar Baru, Sosial
0
0
Pembuatan cokelat di Rumah Coklat CK di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gladis Desyani Putri

Candikusuma tidak pernah mengecewakan, dari keunikan maupun pemandangannya.

Sekilas desa di Bali bagian barat ini tampak seperti ladang gersang yang memprihatinkan, penduduk pasif yang membosankan, dan tidak punya daya tarik khusus. Namun, apabila menjelajah lebih jauh, maka hamparan luas tanaman kakao akan ditemukan di Banjar Moding, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana.

Keunikan tidak serta merta tentang fenomena-fenomena aneh semacam supranatural yang sering diekspos media masa kini. Namun, kerja keras dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki juga termasuk keunikan ketika masyarakat lebih senang berada di zona nyaman, khususnya di Banjar Moding.

Kakao merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis. Cokelat kegemaran generasi milenial dihasilkan dari buah berbentuk oval ini. Terlihat kecil dan kotor, tetapi jika diolah dengan baik maka hasil yang dihasilkan pun tidak akan mengecewakan.

Salah satu hasil inovasi warga yang begitu luar biasa yakni produk cokelat olahan Rumah Cokelat “Ck”.

Cerita dimulai dari Program Inovasi Desa yang bertujuan untuk menonjolkan potensi masing-masing desa di Jembrana. Hal ini juga menjadi ajang untuk mengetahui lebih jauh hal-hal kecil yang kadang terlewat, tetapi kadang menjadi sesuatu yang menarik dari desa itu sendiri.

Di bawah asuhan Ni Sayu Ketut Suartini, kelompok wanita tani di desa ini pun merintis usaha dengan modal tekad serta usaha pada Desember 2019. Mereka mampu mendirikan rumah cokelat. Ni Sayu Ketut Suartini, ibu dua orang anak ini menjalankan peran ganda, sebagai seorang ibu dari dua orang anak, sekaligus ‘ibu’ dari rumah cokelat.

Sayu Ketut mengatakan Rumah Cokelat “CK” mengambil filosofi dari bahasa Bali sekaligus nama Desa Candikusuma. Apabila “CK” dibaca dengan aksen Inggris maka akan menjadi ‘siki’ yang dalam pengucapan orang Bali bermakna satu. Selain itu, CK juga mempunyai kepanjangan Candikusuma. Ibaratnya adalah rumah cokelat pertama di Candikusuma.

Ni Sayu Ketut Suartini, Ketua Kelompok Wanita Tani Kusuma Sari, menunjukkan cokelat hasil olahannya. Foto Anton Muhajir.

Sama seperti sebuah rumah yang menjadi tempat bernaung pemiliknya, maka rumah cokelat ini pun dimaksudkan supaya bisa memberikan tempat berteduh bagi petani kakao di daerah Candikusuma. “Kita sudah punya potensi yang luar biasa, jika tidak dimanfaatkan maka tidak akan berguna,” kata ibu Sayu optimis.

“Candikusuma kebetulan punya kakao, tapi anak-anak malah membeli cokelat buatan luar. Daripada terus hidup konsumtif, kenapa tidak mencoba untuk menjadi produktif?” Sayu menerangkan dengan senyum sumringah. Wajahnya menyiratkan rasa bangga sekaligus haru saat mengucapkannya.

Membangun sesuatu dari nol dan menjadi yang pertama bukanlah perkara mudah. Berkat berbagai dukungan salah satunya dari mantan kepala desa (perbekel), I Wayan Bagiayasa, serta peran perempuan Banjar Moding, kakao akhirnya mampu diolah menjadi cokelat. Ibu Sayu pun turut mengungkapkan bahwa awalnya tidak mengerti dan tidak tahu menau bagaimana cara mengolah biji kakao.

Pelatihan-pelatihan tentang cara mengolah biji kakao fermentasi sampai menjadi cokelat diikuti oleh Sayu beserta dengan ibu-ibu rumah tangga di Banjar Moding, pada November 2019. Pelatihan ini dilaksanakan dua kali: dari desa, dan dari Bank Indonesia.

Rumah Cokelat dapat bekerja sama dengan Bank Indonesia berkat kontribusi dari Sayu dan I Wayan Bagiayasa. Tanpa disangka, Bank Indonesia ternyata memiliki Program Hulu dan Hilir yang selaras dengan tujuan dari pendirian rumah cokelat. Hingga akhirnya di bulan Desember 2019 berdirilah Rumah Cokelat “CK”, tempat bernaung kakao milik Desa Candikusuma.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, baik dari awal usaha dirintis sampai berjalan hingga saat ini, tetapi keyakinan dan tekad dari penduduk Banjar Moding menjadi landasan utama rumah cokelat bisa menjadi seperti sekarang. Pemasaran sempat terhalang karena wabah COVID-19, penjualan menurun, dan jarak dibatasi tidak membuat semangat ibu Sayu berserta kawan-kawan menurun. Beberapa platform belanja daring pun menjadi sarana pemasaran di masa pandemi.

Berdasarkan sudut pandang saya sebagai orang di luar Desa Candikusuma, kegigihan penduduk dan tekadnya membuat saya terharu dan jengah. Mengajarkan saya bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan apa-apa, hanya menambah beban dalam diri. Sebaliknya, yang harus dilakukan adalah berbuat sesuatu.

Jelajahi kawasan sekitar, berpikir kritis, pantang menyerah, dan pintar membangun relasilah yang seharusnya digencarkan. Terutama di masa pandemi, berdiam di zona nyaman dan bermalas-malasan bukanlah jalan keluar. Seperti representasi ibu Sayu yang seolah mengatakan, “Ini tentang kemauan dan tekad, dibarengi kerja keras. Tidak ada yang mustahil, bahkan untuk kawasan agak terpencil dan jauh dari kota seperti Banjar Moding ini.” [b]

Keterangan: artikel ini dibuat dari hasil kelas jurnalisme warga di Banjar Moding Kaja, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya pada 23-24 Oktober 2020.

kampungbet
Tags: CokelatJembranaPertanian
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

UMKM Terseok-Seok Hadapi Penataan di Pantai Sanur

Inilah Proyek Investasi Daerah Bali

23 August 2025
Refleksi Kebun Kolektif bagi Gerakan Petani

Refleksi Kebun Kolektif bagi Gerakan Petani

12 August 2025
Menimbang Program Ecobrick di Sekolah Jembrana

Menimbang Program Ecobrick di Sekolah Jembrana

13 June 2025
Cerita Rasa

Cerita Rasa Festival: Rintisan Festival Desa di Jembrana

6 August 2022
Memperbaiki Kesalahan Masa Lalu pada Hutan Yehembang Kauh

Memperbaiki Kesalahan Masa Lalu pada Hutan Yehembang Kauh

19 April 2021
Susur Hutan dan Sungai Bersama BASE Bali

Susur Hutan dan Sungai Bersama BASE Bali

16 April 2021
Next Post
Karut Marut Mendata Maut

Menangani COVID-19, dari Awam Sampai Berkawan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

matan AI

Penghancuran Kemandirian Desa-desa di Bali

29 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

28 May 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia