• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Catatan Mingguan Men Coblong: Sampah

Men Coblong by Men Coblong
25 August 2019
in Berita Utama, Esai
0
0

MEN COBLONG mengatur napasnya dalam-dalam.

Sejak terserang hipertensi di usia 45 tahun, dunia terasa runtuh. Bayangan kerepotan dan penyakit-penyakit cabang-cabannya menggerayangi sulur-sulur urat yang saling terkait di otaknya.

Untuk menenangkan diri Men Coblong terpaksa memutus seluruh media sosial yang dimilikinya. Sesekali puasa medsos juga penting untuk mengatur ritme hidupnya yang terasa sedikit goyah.

Sejak aktif di media sosial Men Coblong jadi merasa tidak lagi menjadi diri sendiri. Klik Facebook, terhampar beragam kesuksesan orang-orang di dalamnya. Ada teman semasa SD yang jahatnya minta ampun, ternyata jadi seorang desainer sukses. Ada teman SMP yang “geblek” akut jadi pejabat tinggi yang mengatur seluruh kehidupan orang banyak. Dan, yang paling menyebalkan, banyak orang-orang yang “menyebalkan” justru jadi orang.

“Jadi selama ini kamu tidak menganggap dirimu orang?” Tanya sahabat Men Coblong tersinggung. Matanya yang kecil karena disapu eyeshadow dengan benar agar hasilnya terlihat flawless. Membuat Men Coblong harus membesarkan bola matanya, sungguh menjelma jadi cantik, tepatnya mirip artis film dan TV. Salah!

Sahabatnya menjelma seperti perempuan-perempuan di majalah perempuan, yang biasanya memamerkan beragam produk-produk kecantikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Majalah yang tanpa sadar membius dan “mewajibkan” perempuan-perempuan untuk belanja, belanja, dan belanja.

Serius, teman satu bangku di SMP ini terlihat justru makin tua makin cantik.

“Kamu itu kebanyakan iri dan dengki. Melihat orang sukses berpikir. Dan merasa orang itu tidak pantas menduduki jabatan yang mampu diraihnya.”

“Bukan begitu, aku hanya heran. Kadang hidup itu kok tidak adil. Yang kerja keras sejak bayi nasibnya biasa-biasa saja.” Men Coblong bersikeras menunjukkan pada sahabatnya itu, tidak memiliki rasa iri dan dengki. Padahal jauh di lubuk hati Men Coblong pertanyaan-pertanyaan di hati dan pikirannya itulah yang membuatnya selalu ingin marah. Marah yang sesungguhnya.

Padahal jika sering marah-marah dan menyimpannya di kotak hatinya, bisa dibayangkan jika tumpukan “sampah” itu bisa meletus, luber bak tsunami apa jadinya tubuh Men Coblong yang tidak lagi muda seperti dulu.

“Kemarahan itu bisa diajag dialog, diatur, dan ditata,” sahut sahabatnya lagi. Kemarahan kok ditata? Men Coblong terdiam, membayangkan ketika dunia runtuh karena vonis hipertensi, padahal hidup toh tidak harus diisi dengan rasa iri dan dengki yang terus dipupuk dan membuat tubuh makin demam dengki, sehingga setiap melihat orang berhasil rasanya selalu ingin didepak dari hidup Men Coblong.

Namun, bagi Men Coblong kemarahahannya saat ini sudah terkikis , sedikit demi sedikit. Usia yang terus beranjak mendekati 53 bukan usia yang harus dihabiskan dengan perasaan-perasaan tidak penting. Terlebih iri dan dengki dengan kecantikan, kekayaan, keberhasilan, dan beragam pencapaian-pencapaian yang didapat orang-orang yang dikenal Men Coblong.

Belakangan ini Men Coblong sadar, beragam onak dan ruang-ruang tidak penting itu harus dikikis, karena itu semacam hibah yang akan membuat Men Coblong melewati masa tua dijamin nelangsa. Karena kesehatan yang baik itu dimulai dari pikiran-pikiran. Men Coblong mencoba paham, tubuhnya sudah tidak lagi bisa menampung beragam hal-hal berat, ekterior dan interior yang tidak penting harus dikikis dari sulur-sulur lubang otaknya. Tentu Men Coblong tidak mau sakit, sekali pun sudah memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Badan Pemeriksa Keuangan BPK tengah memeriksa pengendapan dana Kapitasi untuk program JKN sebesar Rp 2,4 triliun. Bayangkan dana sebesar itu tidak terserap sejak tiga tahun lalu. Dana Kapitasi itu dibayarkan setiap bulan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta klinik. Padahal satu kabupaten atau kota memiliki saldo dana Rp 30 miliar.

Dana kesehatan saja diperlakukan seperti itu, bagaimana Men Coblong tega membiarkan tubuhnya sakit? Terus tidak percaya dengan fasilitas kesehatan pemerintah? Kalau tidak percaya mau berobat ke mana? Ke luar negeri? Pakai duit siapa?

Sudah diberi solusi untuk memudahkan berobat hasilnya seperti ini? Coba siapa yang mesti disalahkan? Rakyat lagi yang sudah pontang-panting menyisihkan dana untuk tertib bayar iuran kesehatan mereka?

Men Coblong menarik napas, menggelindingkan bola amarahnya
keluar melalui hidung kiri dan hidung kanan.

N melaporkan pihak puskesmas ke Polsek Penjaringan pada 15 Agustus 2019. Dalam laporan bernomor 940/K/VIII/2019/SEK.PENJ, pihak puskesmas dilaporkan atas tuduhan Pasal 8 UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Seorang ibu hamil berinisial N (24) mengalami muntah-muntah hingga perutnya kesakitan setelah diduga mengonsumsi vitamin kedaluwarsa yang diberikan oleh puskesmas di Jakarta Utara. Atas kejadian ini, N melaporkan pihak puskesmas ke polisi.

Kali ini bukan otak Men Coblong yang sakit, kali ini perutnya melilit seperti ingin melahirkan. Kalau sudah seperti ini apa Men Coblong tidak boleh marah? Atau sedikit saja: memaki! [b]

kampungbet
Tags: esaiMedia Sosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Men Coblong

Men Coblong

Men Coblong — Mantan buruh pers koran lokal. Ibu seorang anak lelaki.

Related Posts

Herbalova, Pendokumentasian Tanaman Obat dari Imaji Anak-anak

Mengapa Laki-Laki Lebih Mudah Menangis karena Sepakbola daripada Cinta?

4 January 2026
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

8 December 2025
Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

13 August 2024
Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar

Publisher Rights, Apakah Memastikan Jurnalisme Berkualitas?

22 February 2024
Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar

Citra Diri, Jualan, dan Medsos

20 May 2021
Next Post
Tips Perjalanan Ngeteng Jakarta-Denpasar

Tips Perjalanan Ngeteng Jakarta-Denpasar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia