Catatan Mingguan Men Coblong: Sampah

MEN COBLONG mengatur napasnya dalam-dalam.

Sejak terserang hipertensi di usia 45 tahun, dunia terasa runtuh. Bayangan kerepotan dan penyakit-penyakit cabang-cabannya menggerayangi sulur-sulur urat yang saling terkait di otaknya.

Untuk menenangkan diri Men Coblong terpaksa memutus seluruh media sosial yang dimilikinya. Sesekali puasa medsos juga penting untuk mengatur ritme hidupnya yang terasa sedikit goyah.

Sejak aktif di media sosial Men Coblong jadi merasa tidak lagi menjadi diri sendiri. Klik Facebook, terhampar beragam kesuksesan orang-orang di dalamnya. Ada teman semasa SD yang jahatnya minta ampun, ternyata jadi seorang desainer sukses. Ada teman SMP yang “geblek” akut jadi pejabat tinggi yang mengatur seluruh kehidupan orang banyak. Dan, yang paling menyebalkan, banyak orang-orang yang “menyebalkan” justru jadi orang.

“Jadi selama ini kamu tidak menganggap dirimu orang?” Tanya sahabat Men Coblong tersinggung. Matanya yang kecil karena disapu eyeshadow dengan benar agar hasilnya terlihat flawless. Membuat Men Coblong harus membesarkan bola matanya, sungguh menjelma jadi cantik, tepatnya mirip artis film dan TV. Salah!

Sahabatnya menjelma seperti perempuan-perempuan di majalah perempuan, yang biasanya memamerkan beragam produk-produk kecantikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Majalah yang tanpa sadar membius dan “mewajibkan” perempuan-perempuan untuk belanja, belanja, dan belanja.

Serius, teman satu bangku di SMP ini terlihat justru makin tua makin cantik.

“Kamu itu kebanyakan iri dan dengki. Melihat orang sukses berpikir. Dan merasa orang itu tidak pantas menduduki jabatan yang mampu diraihnya.”

“Bukan begitu, aku hanya heran. Kadang hidup itu kok tidak adil. Yang kerja keras sejak bayi nasibnya biasa-biasa saja.” Men Coblong bersikeras menunjukkan pada sahabatnya itu, tidak memiliki rasa iri dan dengki. Padahal jauh di lubuk hati Men Coblong pertanyaan-pertanyaan di hati dan pikirannya itulah yang membuatnya selalu ingin marah. Marah yang sesungguhnya.

Padahal jika sering marah-marah dan menyimpannya di kotak hatinya, bisa dibayangkan jika tumpukan “sampah” itu bisa meletus, luber bak tsunami apa jadinya tubuh Men Coblong yang tidak lagi muda seperti dulu.

“Kemarahan itu bisa diajag dialog, diatur, dan ditata,” sahut sahabatnya lagi. Kemarahan kok ditata? Men Coblong terdiam, membayangkan ketika dunia runtuh karena vonis hipertensi, padahal hidup toh tidak harus diisi dengan rasa iri dan dengki yang terus dipupuk dan membuat tubuh makin demam dengki, sehingga setiap melihat orang berhasil rasanya selalu ingin didepak dari hidup Men Coblong.

Namun, bagi Men Coblong kemarahahannya saat ini sudah terkikis , sedikit demi sedikit. Usia yang terus beranjak mendekati 53 bukan usia yang harus dihabiskan dengan perasaan-perasaan tidak penting. Terlebih iri dan dengki dengan kecantikan, kekayaan, keberhasilan, dan beragam pencapaian-pencapaian yang didapat orang-orang yang dikenal Men Coblong.

Belakangan ini Men Coblong sadar, beragam onak dan ruang-ruang tidak penting itu harus dikikis, karena itu semacam hibah yang akan membuat Men Coblong melewati masa tua dijamin nelangsa. Karena kesehatan yang baik itu dimulai dari pikiran-pikiran. Men Coblong mencoba paham, tubuhnya sudah tidak lagi bisa menampung beragam hal-hal berat, ekterior dan interior yang tidak penting harus dikikis dari sulur-sulur lubang otaknya. Tentu Men Coblong tidak mau sakit, sekali pun sudah memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Badan Pemeriksa Keuangan BPK tengah memeriksa pengendapan dana Kapitasi untuk program JKN sebesar Rp 2,4 triliun. Bayangkan dana sebesar itu tidak terserap sejak tiga tahun lalu. Dana Kapitasi itu dibayarkan setiap bulan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta klinik. Padahal satu kabupaten atau kota memiliki saldo dana Rp 30 miliar.

Dana kesehatan saja diperlakukan seperti itu, bagaimana Men Coblong tega membiarkan tubuhnya sakit? Terus tidak percaya dengan fasilitas kesehatan pemerintah? Kalau tidak percaya mau berobat ke mana? Ke luar negeri? Pakai duit siapa?

Sudah diberi solusi untuk memudahkan berobat hasilnya seperti ini? Coba siapa yang mesti disalahkan? Rakyat lagi yang sudah pontang-panting menyisihkan dana untuk tertib bayar iuran kesehatan mereka?

Men Coblong menarik napas, menggelindingkan bola amarahnya
keluar melalui hidung kiri dan hidung kanan.

N melaporkan pihak puskesmas ke Polsek Penjaringan pada 15 Agustus 2019. Dalam laporan bernomor 940/K/VIII/2019/SEK.PENJ, pihak puskesmas dilaporkan atas tuduhan Pasal 8 UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Seorang ibu hamil berinisial N (24) mengalami muntah-muntah hingga perutnya kesakitan setelah diduga mengonsumsi vitamin kedaluwarsa yang diberikan oleh puskesmas di Jakarta Utara. Atas kejadian ini, N melaporkan pihak puskesmas ke polisi.

Kali ini bukan otak Men Coblong yang sakit, kali ini perutnya melilit seperti ingin melahirkan. Kalau sudah seperti ini apa Men Coblong tidak boleh marah? Atau sedikit saja: memaki! [b]