Catatan Mingguan Men Coblong: Lokomotif

Nadiem Makarim. Foto Antara.

Menarik juga nama kabinet Presiden saat ini, “Kabinet Indonesia Maju”.

MEN COBLONG senang sekali jika anak-anak muda bangsa ini yang nyata-nyata sudah mampu memberi wujud nyata dan mampu menerjemahkn hasil kerjanya untuk bangsa dan negara ini masuk di dalam kabinet.

Susunan kabinet ini berasal dari kalangan profesional, usulan partai politik pengusung pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019 yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja ditambah Partai Gerindra yang bergabung setelahnya, serta tim sukses pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019.

Susunan kabinet diumumkan oleh Presiden Jokowi pada 23 Oktober 2019 dan resmi dilantik pada hari yang sama. Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin membacakan susunan kabinetnya di pelataran tangga Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Jokowi menghadirkan para menterinya yang mengenakan kemeja batik. Kabinet Indonesia Maju terdiri dari 4 menteri koordinator dan 30 menteri.

Melihat kondisi para menteri yang rata-rata memiliki pemikiran untuk memajukan Indonesia memang membuat hati dan perasaan Men Coblong bungah. Maklum sebagai seorang ibu dari seorang anak lelaki Men Coblong tentu memiliki harapan yang besar pada kabinet ini. Selain namanya yang bagi Men Coblong seperti fakta yang sesungguhnya, Indonesia Maju.

“Memangnya selama ini Indonesia belum maju?” Suatu hari sahabat Men Coblong bertanya dengan pandangan serius ke arah mata Men Coblong.

Pertanyaan yang sangat mengusik. Sudahkah Indonesia maju?

“Menurutku belum!” jawab sahabat Men Coblong yang lain.

“Ya, aku pikir Indonesia belum maju, karena negara yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi ini selalu memiliki problem dengan kondisi pangannya. Harga beras yang tidak stabil. Kebutuhan pokok juga belum tertata dengan baik. Bawang putih bisa raib di pasar. Memangnya kita tidak memiliki petani? Padahal sudah ada menteri yang mengurus pertanian. Sayangnya dari tahun ke tahun, problemnya tetap sama. Masih ingat ketika cabe juga harganya menggila?” tanya sahabat Men Coblong serius.

“Aku setuju dengan nama kabinet Indonesia Maju, kita ini kan orang Indonesia. Jika memberi nama anak kita menitipkan berlembar-lembar doa untuk anak kita. Jadi menurutku nama itu sangat kekinian. Aslinya Indonesia memang belum maju,” jawab sahabat yang satu lagi dan menatap mata Men Coblong serius.

Sudahkah Indonesia maju?

Men Coblong setuju juga dengan pikiran-pikiran sahabat-sahabatnya. Perempuan-perempuan yang rajin berkumpul di sebuah cafe kecil untuk mendiskusikan segala sesuatu yang sedang hangat dan jadi beban di seluruh pundak Men Coblong sebagai Ibu.

Semakin desawa anak semata wayang Men Coblong semakin banyak beban menggelayut di sulur-sulur otaknya. Kadang-kadang beban itu melaburi seluruh tulang-tulang di dalam tubuhnya, menimbulkan efek nyeri dan tidak nyaman.

Memang Men Coblong sering dinasehati teman-temannya, karena Men Coblong selalu menganggap seluruh hidupnya itu serius. Setelah melangkah ke tangga nomer seratus, harus dipikirkan juga trik untuk melangkah ke tangga nomer seratus satu.

Begitulah Men Coblong menjalani hidup. Bagi orang mungkin sangat serius, bagi Men Coblong, tidak. Karena hidup itu harus ditata, harus disusun, juga diukur skala prioritasnya.

Men Coblong tidak suka dengan istilah, biarkan saja hidup itu mengalir. Bagaimana mau mengalir kalau kita tidak memiliki mimpi untuk meraih hidup yang lebih baik. Bagaimana mau mengalir kalau kita kerjanya hanya duduk-duduk manis dan ngobrol dari pagi sampai malam membicarakan masa depan hanya dengan berdiskusi. Tanpa pernah menemukan jalan keluar, juga tidak menemukan cara eksekusi yang tepat.

Bagaimana bisa hidup seperti air mengalir? Kadang-kadang Men Coblong juga melihat air mengalir itu tidak tenang karena ada sampah yang menghambatnya. Atau racun dari pabrik yang mencemari air.

Hidup orang satu berbeda dengan orang yang lain, karena bagi Men Coblong kabinet Indonesia Maju ini benar-benar semacam doa. Apalagi ada anak-anak muda yang dipercaya untuk mengelola dunia pendidikan, Nadiem Makarim. Men Coblong sangat percaya kelak anak-anak mudalah yang akan menentukan kemana sesungguhnya arah Indonesia. Ibarat angin di tangan anak-anak muda inilah Indonesia memutar takdir dan nasibnya.

Kenapa masih saja ada orang-orang tua yang bergenit-genit ria, kerja belum dilaksanakan sudah bermanuver politik. Katanya anak mudalah api bagi kelanjutan masa depan Indonesia. Kenapa masih ada-ada saja orang-orang tua yang lapar kekuasaan dan haus diperhatikan. Kenapa tidak sabar untuk menunggu sekian bulan untuk melihat kerja kabinet Indonesia maju ini.

Anak-anak muda itulah harapan Men Coblong, kelak menjadi lokomotif yang bisa membangun Inonesia, seperti sebuah nama Indonesia Maju. Di tengah gempuran persaingan dan beban berat yang ditinggalkan orang-orang tua itu harusnya sabar sedikit saja dan membiarkan anak-anak muda ini menciptakan dunianya. Dunia dengan cara-cara yang mereka ciptakan sendiri.

Biarkan Nadiem bekerja, karena tidak mudah mengelola dunia pendidikan di Indonesia. Waktunya para tetua itu ihklas membuka jalan lebar untuk anak muda, mulailah berkaca di dalam cermin jiwa sendiri seperti apa sesungguhnya jejak yang telah mereka tinggalkan.

“Cocok namanya kabinet Indonesia maju. Kita memang belum maju.” Sahut sahabat Men Coblong lagi sambil tertawa. [b]