• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru Kabar

Catatan Mingguan Men Coblong: Ceruk

Men Coblong by Men Coblong
25 March 2018
in Kabar
0
0
Persoalan mengganggu kesempurnaan Denpasar adalah minimnya angkutan umum di kota ini. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG sengaja bersandar dengan memejamkan mata.

Minggu-minggu terakhir ini tidak ada berita yang menyenangkan hatinya. Seharusnya dengan informasi berlimpah ada berita-berita baru yang membuatnya bisa semakin semangat menikmati perjalanan waktu yang telah diteguknya setengah abad.

Kata orang, hidup di usia yang makin dewasa harus diisi dengan riang, girang, juga gemilang. Jika banyak tekanan “dijamin” beragam musuh menyentuh tubuh sehingga akan merepotkan banyak orang, karena stres akut.

Padahal selama hidup dan tumbuh di Denpasar, tahun-tahun belakangan ini Men Coblong merasa riang. Persoalan yang sering jadi ceruk mengganggu kesempurnaan sebuah kota adalah, minimnya angkutan umum di Denpasar. Sehingga bisa dibayangkan, Denpasar yang kecil makin krodit, dan bikin kepala nyelekit. Apalagi jika harus naik mobil menuju ke suatu tempat. Dijamin, jika tidak mempersiapkan diri lebih awal pasti terlambat.

Lalu lintas di Denpasar makin hari makin buat sakit juga. Kemacetan di mana-mana, terlebih jiwa jam-jam sibuk anak-anak berangkat sekolah atau para “buruh” pulang kerja.

“Nyicil motor sekarang itu murah, Bu,” suara tukang cat pagar rumah Men Coblong terdengar serius. Matanya berbinar. Menunjukkan rasa bangga karena bisa memberi informasi kepada Men Coblong. Ah… Bahagia bagi lelaki pekerja keras di sektor informal itu ternyata “sederhana” .

Men Coblong jadi merasa malu, selama ini meraasa dirinya sendiri terlalu “serius” menjalani hidup miliknya. Men Coblong tersenyum getir. Mungkin karena keseriusan menjalani hidup, beragam penyakit mulai “menyentuh” Men Coblong. Walaupun tidak berat-berat amat tetapi penyakit itu sangat mengganggu, karena beragam aktivitas yang menjadi fokus dan target seharusnya tuntas dalam hitungan hari atau minggu, jadi berantakan.

Men Coblong juga mulai wajib menata pikiran dan hatinya mulai “diwajibkan” untuk berdialog dengan tubuhnya sendiri. Belum lancar juga sih, tetapi sudah berusaha dilakukan. Namanya juga baru belajar. Ibarat seorang anak yang baru belajar menulis, masih mencang-mencong. Yang penting ada niat baik untuk berubah dan mengubah hidup.

Ah… Men Coblong terharu, menatap mata tukangnya.

Wajahnya terlihat ringan. Lelaki muda yang selalu jadi langganan memperbaiki beragam persoalan rumah, dari genteng bocor sampai pagar garasi lepas adalah tanggung jawab Mas Wagiso, lelaki yang memiliki perawakan kecil tetapi kerjanya jangan ditanya. Pokoknya hasilnya super maksimal, dan sangat memuaskan.

Lelaki itu bisa dengan mudah bergelantungan di pohon kamboja atau dengan ringannya meloncat di atas genteng. Bagi Men Coblong, Mas Wagiso adalah cahaya yang memberi kebahagiaan di dalam rumah. Karena hanya lelaki berperawakan kecil itulah yang sangat terampil memulas rumah Men Coblong dan memperbaiki beragam ceruk-ceruk yang mengganggu sehingga bisa kembali normal.

Dia satu-satunya tukang yang sangat profesional di perumahan tempat Men Coblong tinggal. Dia bisa memperbaiki listrik dengan cepat dijamin rapi. Lelaki kecil itu juga sangat sadar bahwa pekerjaaannya yang dimiliki untuk menghidupi keluarganya adalah “menjual jasa”. Dia sadar, untuk menjual jasa prioritas yang harus dimiliki adalah “kepercayaan” konsumen. Mas Wagiso sangat sadar bahwa konsumen adalah raja yang harus dipuaskan “libido”nya. Kesadaran yang luar biasa dari seorang tukang bangunan, yang menurutnya, dia lebih suka bekerja dibanding sekolah.

“Sejak kelas tiga SD, saya sudah ikut ayah bekerja. Mengaduk semen, mengangkat batu, bata, atau pasir. Saya senang sekali bisa mendapatkan uang untuk membantu Ibu membeli beras.” Suaranya masih terdengar riang dengan binar matanya yang menggelembung memancarkan kebahagiaan yang tulus.

“Bekerja kan, bisa sambil sekolah?” tanya Men Coblong dengan mimik serius.

“Ayah saya jatuh dari atas genteng rumah tingkat, Bu. Kepalanya pecah. Saya masih punya dua adik perempuan yang masih kecil.” Suaranya terdengar lirih. Men Coblong tersekat.

“Untung saya sudah bertahun-tahun mengikuti ayah bekerja, jadi saya sudah tahu teknik pekerja. Dua adik perempuan saya semuanya tamat SMA, sekarang SMU ya, Bu?” Wajahnya kembali benderang. Merasa hidupnya berarti dan sama sekali tidak tercetak penyesalan di wajahnya yang terlihat sedikit lelah.

“Jual jasa di Bali itu ternyata mudah, Bu.”

“Hah?! Maksudmu?”

“Yang penting kita kerja harus jujur. Namanya juga jualaan jasa, ya, harus sabar dengan kecerewetan orang-orang yang mempekerjakan saya, Bu.” Dia berkata datar sambil memulas pintu pagar.

Penghormatan pada konsumen? Indah sekali cara berpikirnya lelaki kecil yang belum genap empat puluh tahun itu. Dengan kesabaran, kerja keras dan kesadarannya yang tinggi sebagai penjual jasa, lelaki itu bisa mengontak tanah milik orang Bali, seluas 10 are, kemudian membangun tempat kos. Lelaki itu sekarang sudah memiliki tanah sawah hampir 25 are di Banyuwangi, tempatnya lahir.

Men Coblong menarik napas. Kesadaran produsen di Indonesia memang harus belajar pada Mas Wagiso, sekarang ini beragam transportasi daring membuat Men Coblong takjub. Mau ke mana-mana gampang. Sayangnya kejadian pembunuhan dan pelecehan membuat transportasi daring menjadi mencemaskan hati dan pikiran Men Coblong, meninggalkan ceruk yang dalam. Apalagi tidak ada kesadaran bagi para pengemudi transportasi daring, bahwa mereka adalah penjual jasa.

Berat. Men Coblong merasa transportasi daring sangat menolong aktivitasnya, walaupun sering juga Men coblong dapat sopir yang menyetel musik keras-keras atau merokok sehingga membuat kenyamanan terganggu. Solusi termudah adalah berpulang pada diri. Jangan pernah “kelilipan” dengan keberhasilan orang. Ayo belajar kesadaran sebagai “pelayan masyarakat” ala Wagiso— lelaki kecil dari Bayuwangi. Jangan muluk-muluk dengan aturan. Jika di Denpasar transportasi umum bisa nyaman, dijamin kemacetan juga tidak akan pernah terjadi. [b]

Tags: BudayaDenpasaresaiSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Men Coblong

Men Coblong

Men Coblong — Mantan buruh pers koran lokal. Ibu seorang anak lelaki.

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

26 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Next Post
WALHI Bali Desak Hentikan Rencana Reklamasi Bandara

WALHI Bali Desak Hentikan Rencana Reklamasi Bandara

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia