• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, August 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Politik

Caleg Perempuan Bali Lelah Berkompetisi

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
7 May 2009
in Politik
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2009 menyisakan banyak cerita untuk caleg-caleg perempuan di Bali. Dari 226 caleg, hanya 28 orang yang berhasil masuk parlemen lokal atau hanya 7 persen dari total Caleg perempuan di Bali.

Hening Puspita Rini, caleg yang berhasil menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali periode berikutnya tampak sangat lelah. “Utang banyak, suara serak karena terlalu banyak simakrama (pertemuan dengan calon pemilih),” ujarnya. Ia mengaku menghabiskan uang Rp 300 juta. Sementara suaminya yang juga mencalonkan diri di parlemen daerah asal mereka, Kabupaten Bangli, menghabiskan uang tak kalah banyaknya.

“Sekarang saya tahu, Pemilu tidak hanya soal demokrasi tapi juga belajar kecurangan,” katanya serius. Ia berbicara dalam diskusi evaluasi pemilu yang dilaksanakan Lembaga Kemitraan di Kuta, pekan lalu.

Hening yang baru masuk parpol PDI Perjuangan ini sesaat sebelum Pemilu 2009, termasuk caleg beruntung. Ia termasuk keluarga Bupati Bangli yang berkuasa di daerah pemilihannya. Hening mendapat suara tertinggi dari caleg perempuan DPRD Bali lainnya yakni 20.805 suara.

Caleg lain yang berhasil, Ni Made Sumiati mengibaratkan Pemilu sebagai medan perang. “Untuk pertama kalinya saya seperti orang gila ketika suara saya dicuri. Padahal saya kan mantan anggota KPU (Kabupaten Karangasem) dan banyak pejabat takut sama saya,” ujarnya.

Untuk merebut kembali suaranya ketika penghitungan di KPU kabupaten, Sumiati harus menyewa 15 orang bodyguard dan seorang pemangku (pemimpin ritual agama). “Mereka bawa preman, saya juga bawa. Kalau saya sendirian, saya tidak akan berhasil menggertak orang-orang yang menginjak saya,” kata perempuan pengacara ini.

Dia mengaku terintimidasi oleh lawan-lawan politiknya yang membawa preman. Made juga membawa preman agar pihak lawan politiknya tidak berani melakukan teror padanya. Tujuannya juga agar perolehan suaranya tidak dialihkan pada Caleg lain.

Sumiati dan Hening bersyukur berhasil. Kalau tidak, mereka tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya fisik dan mental mereka.

Hasil mini survei Kemitraan pada 23 caleg perempuan Bali menghasilkan sekitar 35 persen tidak menerima hasil Pemilu 2009. Sementara sebagian dari mereka mengatakan Pemilu sarat politik uang (78 persen). Sekitar 74 persen pemilih minta uang sebagai syarat dukungan.

Hasil ini tak berbeda jauh dengan survey agregate yang meliputi 96 caleg perempuan di empat daerah lainnya, yakni Sulawesi Utara, Jogjakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Selain politik uang, yang mengecewakan caleg perempuan adalah rendahnya dukungan parpol pada caleg. Misalnya dalam pendidikan politik dan bantuan kampanye.

“Pemilu berikutnya, parpol akan kehilangan kekuasaannya. Parpol sama sekali tidak bekerja dalam pendidikan politik, malah memberikan edukasi money politic,” ujar Agung Wasono, Project Officer Kemitraan untuk program perempuan.

Sejumlah kelemahan lain caleg perempuan dari rangkuman diskusi terungkap jika tak banyak yang melakukan pematauan penghitungan suara. Sumber utama kecurangan pada pemilu kali ini.

Selain itu netralitas penyelenggara kurang karena masih berpihak pada caleg tertentu, intervensi penguasa, dan sulit membuktikan money politic.

Tak sedikit yang menggugat ketidakadilan gender. “Waktu perempuan terlalu banyak  di urusan domestik khususnya perempuan Hindu Bali,” ujar Ni Luh Kade Dwi Angreni, caleg dari Denpasar ini. [b]

Tags: BaliPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Klub Bola bisa jadi Ruang Artikulasi Sikap Politik

Klub Bola bisa jadi Ruang Artikulasi Sikap Politik

24 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Next Post

Festival Sinema Prancis Kembali Digelar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Sumber di SMA Negeri 1 Bebandem

Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Sumber di SMA Negeri 1 Bebandem

13 August 2026

Gula Pedawa: Warisan Manis yang Berjuang Bertahan

13 August 2026
Piknik Waras AJI Denpasar: Ruang Diskusi Menyoroti Krisis Ekologi dan Kebebasan Pers di Bali

Piknik Waras AJI Denpasar: Ruang Diskusi Menyoroti Krisis Ekologi dan Kebebasan Pers di Bali

12 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia