
Bentara Budaya Bali menggelar pameran tunggal drawing bertajuk ‘Mata Kosmis Wirantawan’.
Pameran kali ini secara khusus menghadirkan karya eksploratif Putu Wirantawan sepanjang kurun 2008 hingga 2012. Pameran dibuka pada Kamis (31/1) pukul 18.30 oleh budayawan serta pengamat seni Dr. Jean Couteau.
Melalui teknik drawing dengan medium pensil serta seluruhnya menggunakan kertas, seniman kelahiran Negara, Jembrana, Wirantawan merefleksikan upaya meraih bentuk-bentuk surealistik dari kosmos. Karya-karya yang dipamerakn sekaligus mencerminkan wujud-wujud imajiner yang mengingatkan publik pada cahaya matahari, air, genangan api, dan ragam visual alam batin khas perupa kelahiran 14 April 1972 ini .
Pameran akan berlangsung hingga 9 Februari diselingi diskusi pada Minggu (3/2). Diskusi tersebut memperbincangkan proses cipta dan capaian karya perupa Putu Wirantawan. Selain menghadirkan sang seniman yang akan memaparkan proses kreatif dan penilaiannya terhadap dinamika kesenirupaan Bali, diskusi juga menghadirkan penanggap-penanggap lain. Mereka mendialogkan posisi Putu Wirantawan di dunia seni rupa Bali dan nasional.
Karya-karya Wirantawan adalah suatu lompatan kreatif yang telah dimulai sejak tahun 2003. Saat itu ini secara sadar meninggalkan bentuk-bentuk figuratif pada lukisan-lukisan cat minyak dan acrylic-nya. Ketekunannya untuk mendalami drawing ini tercermin pada ribuan sketsa yang turut serta dipamerkan. Dia menunjukan pula betapa teknik ini merupakan gabungan kerja kreatif yang bersifat spontan maupun terukur serta mencirikan suatu ragam kebebasan berekspresi dengan hasil karya yang tergolong fantastik.
Hasil olah ciptanya terbilang sugestif dan imajinatif. Terdiri dari sepuluh judul terpilih yang merangkum ratusan panel karya dua dimensi yang dikerjakan melalui proses waktu panjang. Satu karyanya yang berjudul Tebaran Energi Sejati (terdiri dari sembilan panel berukuran 1260 cm x 291,5 cm) digarap selama lebih dari empat tahun.
Melalui pilihan teknik dan bentuk drawing inilah, Putu Wirantawan yang telah pameran di sekian negara, berhasil meraih berbagai award. Salah satunya Juara I Jakarta Art Award (2010). Karya-karyanya juga dikoleksi di The National Taiwan Museum of Fine Art, Museum der Weltkulturen, Frankfurt, Jerman dan Silpakorn University, Bangkok, Thailand, dll.
Seniman besutan ISI Yogyakarta tahun 2005 ini semenjak masa kuliah kerap pameran tunggal dan bersama, serta meraih penghargaan atas karya-karya seni rupanya. Selain mengikuti pameran penting di Indonesia, ia juga turut dalam pameran di luar negeri, misalnya di Bangkok, Taiwan, Jerman, New York, Singapura, dan lain-lain. [b]










