• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Belajarlah Menulis di Pasar Guwang

Anton Muhajir by Anton Muhajir
17 January 2010
in Agenda, Kabar Baru
0
0

Wawancara oleh Anak Tangguh

Teks dan Foto Anton Muhajir

Dengan bersemangat, Kadek Juana Setiawan dan 11 temannya berjalan melintas tempat parkir Pasar Seni Guwang, Sukawati, Gianyar Minggu siang lalu. Namun setelah masuk daerah pertokoan, murid kelas III SD tersebut malah ragu-ragu. “Malu, nok,” kata Kadek. Teman-temannya mengiyakan.

Mereka tak jadi masuk pasar yang menjual berbagai souvenir tersebut. Dengan agak ragu, mereka membalik langkah lalu menuju deretan toko lain yang menjual makanan, bukan souvenir. Mereka kemudian melihat satu per satu penunggu toko yang menjual minuman dan makanan tersebut.

Dua perempuan penjaga toko, berumur 20an tahun, menemui mereka. “Kami mau wawancara tentang Pasar Guwang,” kata Kadek. Dia membawa buku berisi catatan apa saja yang akan ditanyakan pada pedagang di pasar. Teman-temanya terlihat hanya sebagai penggembira.

Si penjaga toko melihat catatan yang dibawa Kadek. Dia mengambilnya. Sambil duduk di depan toko, begitu pula Kadek dan teman-temannya, perempuan itu menjawab satu per satu pertanyaan di catatan Kadek dan teman-temannya.

Ketika Kadek mencatat tiap jawaban narasumber, temannya membantu dia untuk memastikan jawaban tersebut. Kadek duduk di lantai. Teman-temannya ada yang duduk ada pula yang jongkok sambil mengelilingi. Suasana jadi agak riuh.

Selesai di satu toko, Kadek dan teman-temannya beranjak masuk ke dalam pasar seni tersebut. Mereka mencari pedagang yang lain. Dari yang awalnya malu-malu, 12 anak tersebut merasa lebih percaya diri. Dengan bergerombol mereka bertanya pada dua penjual lain dan satu pembeli.

“Siapa namanya? Sejak kapan jualan di sini? Apa saja dagangannya? Punya anak buah apa tidak? Berapa banyak pembelinya? Dari mana saja?” adalah sebagian pertanyaan anak-anak tersebut. Mereka tidak perlu bertanya karena nara sumber yang justru akan mengambil daftar pertanyaan tersebut kemudian menjawabnya satu per satu.

Di bagian lain di pasar yang sama, enam remaja yang sudah sekolah di SMP, juga sibuk wawancara dengan pedagang lain. Bedanya, mereka bertanya sendiri tak hanya menyerahkan daftar pertanyaan pada nara sumber.

Selama sekitar satu jam, setelah selesai mengumpulkan bahan tulisan, anak-anak itu kembali ke Sanggar Anak Tangguh, sekitar 1 km dari pasar tersebut di desa yang sama. Lalu mereka menulis masing-masing beritanya di komputer jinjing (laptop).

Masing-masing kelompok didampingi dua pengurus Sloka Institute, Luh De Suriyani dan Intan Paramitha Apsari. Luh De mendampingi anak-anak sedangkan Intan mendampingi peserta remaja. Keduanya memberikan masukan apa yang harus sebaiknya ditulis, bagaimana menulisnya, tulisan mana yang sebaiknya di bagian depan lalu mana yang di belakang, sampai pernyataan apa yang sebaiknya ditulis.

Pelatihan menulis singkat tersebut diberikan Sloka Institute atas permintaan dari Yayasan Anak Tangguh. Luh De Suriyani, manajer operasional Sloka yang juga wartawan lepas dan blogger, mengajak peserta untuk langsung ke pasar. Ajakan ini disambut antusias oleh peserta.

Lalu, dengan naik sepeda motor dan mobil, semua peserta berangkat ke pasar. Saya sendiri ikut menemani peserta anak-anak ketika mereka wawancara dengan pedagang.

Toh, meski pelatihan itu sangat singkat -total hanya sekitar 2 jam-, anak-anak itu bisa langsung menulis hasil wawancara mereka ke pasar. Dan, secara umum, tulisan mereka menarik.

Peserta remaja, misalnya, menulis tentang masa depan Pasar Seni Guwang. Ini kutipan tulisan mereka apa adanya.

« Menurut beberapa pedagang, kemungkinan Pasar Seni Kedepan akan lebih maju dalam bidang persaingan. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa, akan adanya penurunan pendapatan di bagian bidang ekonomi di daerah Pasar Seni tersebut..”

Begitu pula kelompok anak-anak yang menulis tema « Aku Cinta Pasar Guwang ». Inilah contoh tulisan mereka.

Selain Pak Miasa, ada juga Pak Cok Agung, penjual lukisan. Pak Cok seperti Charlie, penyanyi band ST 12. Sisiran rambutnya dibelah dua. Ia kelihatan tampan. “Masih proses punya anak,” kata Pak Cok Gung, panggilannya.

Tak hanya lugu, tulisan mereka juga lucu. :)

Tags: GianyarJaringanNGOPendidikan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Kontroversi Jasa Joki Tugas Kuliah

26 November 2025
Gianyar dan Kekosongan Ruang Kolaborasi Kreatif

Kota Seni Gianyar dan Minimnya Ruang Kolaborasi Kreatif

5 June 2025

Produktif Berkarya selama Magang di BaleBengong

15 May 2021
Batubulan Kini, Setahun Setelah Pandemi

Batubulan Kini, Setahun Setelah Pandemi

24 March 2021
SMK Penerbangan Cakra Nusantara Ikuti Program Kepala Sekolah CEO

SMK Penerbangan Cakra Nusantara Ikuti Program Kepala Sekolah CEO

31 December 2020
UWRF 2020 Ditunda Hingga Pemberitahuan Lebih Lanjut

UWRF 2020 Ditunda Hingga Pemberitahuan Lebih Lanjut

27 July 2020
Next Post
Cinta Kami dan Masa Depan Pasar Seni Guwang

Cinta Kami dan Masa Depan Pasar Seni Guwang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia