Belajar dari Bali agar Plastik Terkendali

Senin 1 April 2019. Setengah jam sebelum jam keberangkatan, kami sudan tiba di stasiun Wonokromo.

Di sekitar saya dan ibu terdengar orang-orang sedang berbincang. Ada yang menggunakan logat Jawa. Ada pula yang menggunakan logat gue elo khas Jakarta.

Suasana libur kampus masih terasa. Sekumpulan anak muda membawa tas Carrier, tas punggung besar yang secara khususnya didesain untuk membawa barang banyak dan berat. Dari sekilas perbincangan mereka, tampak bahwa mereka akan mendaki gunung Semeru.

Kami menanti kereta Mutiara Selatan kelas bisnis. Keberangkatan pukul 07.29 WIB dari Stasiun Wonokromo Surabaya. Tujuan akhir Stasiun Malang Kota yang diperkirakan tiba pukul 9.38 WIB.

Pukul 7.25 WIB tersiar melalui pengeras suara stasiun. Kereta Mutiara Selatan akan tiba dan memasuki jalur 4. Para penumpang yang sedang duduk di area tunggu langsung berbondong menuju tepi rel kereta jalur 4.

Seragam serta topi dikenakan oleh masinis dan petugas. Kereta berangkat tepat pada waktunya. Saya berada pada kursi tempat duduk no 5A.

Ketika kereta mulai bergerak, saya membuka obrolan agar perjalanan tidak sepi. Sandaran yang nyaman, kursi yang empuk, dinginnya mesin pendingin, serta suara roda kereta terdengar jelas mengawali April ini.

Sesampainya di Stasiun Kota Bangil, sekitar pukul 8.40 WIB, terlihat dari jauh ada petugas kereta dengan seragam bertuliskan “On Trip Cleaning”. Diak membagikan sesuatu untuk para penumpang.

Sampah Plastik

Beberapa saat kemudian petugas itupun semakin mendekati bangku yang saya duduki. Ternyata ia membawa banyak kantong plastik berukuran kecil, lalu membagikannya kepada setiap penumpang sambil mengatakan, “Untuk tempat sampah”.

Satu gerbong kereta bisnis memiliki 17 baris kursi penumpang. Dalam satu baris tersebut ada 4 bagian A, B, C, dan D. Dalam perjalanan saya terdapat 4 gerbong bisnis dan mungkin 2 gerbong eksekutif.

Sejenak membayangkan. Berapa kantong plastik dibagikan petugas kepada penumpang?

Dua bulan pada awal tahun 2019, Februari dan Maret, saya menetap di Bali. Segala kegiatan di pulau ini sedang giat menyuarakan untuk mengurangi dan melarang penggunaan sampah plastik.

Sering kali ketika saya ingin berbelanja di minimarket ataupun toko kelontong, saya masih lupa untuk membawa tote bag, tas jinjing yang biasa digunakan sebagai pengganti kantong plastik. Saat hal ini terjadi ada beberapa minimarket yang menawarkan tote bag sebagai kantong plastik. Harganya sekitar Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000 per tote bag.

Karena di dua bulan ini saya belum terbiasa membawa tote bag ketika berpergian, maka hampir setiap saat belanja saya membeli tote bag. Mungkin sudah mempunyai 5 tote bag berbeda.

Pengalaman lain perihal mengurangi penggunaan plastik juga saya temukan pada penggunaan sedotan plastik di tempat makan atau kafe yang menyajikan minuman di menunya.

Ada beberapa tempat mengganti sedotan plastik dengan menggunakan sedotan terbuat dari stainless steel, yaitu sedotan yang terbuat dari besi yang sifatnya susah berkarat meski dipakai berulang kali.

Ada pula yang menggunakan sedotan bambu dan sedotan kertas. Namun, seringkali ada beberapa tempat yang tidak menyajikan sedotan sehingga memaksa saya untuk membeli serta membawa sedotan stainless ke manapun saya melangkah.

Ketika Bali sudah mengurangi penggunaan kantong plastik di setiap kegiatannya, ketika cake dan tempat nongkrong sejenisnya sudah menggunakan sedotan stainless steel, sedotan kertas, dan sedotan bambu.

Saya sedikit terkejut ketika melangkah ke Pulau Jawa penggunaan plastik masih sangat bebas. [b]