• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Bebotoh dan Masa Depan Bali

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
19 November 2007
in Budaya, Opini
0
2

Oleh I Nyoman Winata

Bebotoh secara umum adalah sebutan untuk mereka yang mencari kerja dari tajen. Kalau dulu sebutan bebotoh tidak punya konotosi positif sedikitpun. Pokoknya bebotoh adalah sesuatu yang jelek. Bebotoh bahkan bisa disamakan dengan kriminil. Kalau punya orang tua atau saudara sebagai bebotoh kita akan malu. Masyarakat memberi cap jelek kepada mereka yang disebut bebotoh. Mereka yang disebut bebotoh juga malu memunculkan dirinya ke permukaan. Apalagi sampai dengan terbuka menyebut diri bebotoh, jelas tidak mungkin. Itu dulu…

Kini bebotoh tidak selalu berkonotasi negatif. Masyarakat tidak lagi selalu mencap jelek bebotoh. Mereka yang menjadi bebotoh sudah mulai bisa diterima ditengah-tengah masyarakat. Menjadi bebotoh juga tidak lagi memalukan. Bahkan kini, bebotoh berani dengan tegas terbuka menyatakan diri sebagai bebotoh. Tidak ada rasa malu apalagi takut disebut bebotoh. Terbukti dengan seringnya ada demonstrasi dari para bebotoh terutama pada saat-saat tajen dilarang.

Kaum politisi (politisi-politisian?) Bali mungkin menjadi pihak yang paling bertanggungjawab atas fenomena ini. Merekalah yang dengan lancang mengesahkan keberadaan bebotoh. Mengangkat mereka dari lembah kenistaan menjadi lebih terhormat. Ini tidak lepas dari kemampuan para bebotoh menghimpun sejumlah massa. Bebotoh adalah mesin penghasil suara yang signifikan untuk menjaring suara dalam pemilu atau pilkada. Meskipun jelas ini sebagai praktik paling rendah dari cara-cara berpolitik, toh politisi Bali saat ini senang melakukannya.

Mangku Pastika misalnya, menurut berita di BP Jumat (19/11), bertemu dengan para bebotoh untuk meminta dukungan politik maju sebagai Cagub. Hal serupa terjadi pada pasangan cabup di Gianyar. Pasangan “Bayu” menerima kedatangan puluhan orang di Puri Gianyar yang dengan tegas disebutkan dalam berita sebagai bebotoh. Jelas tidak ada lagi rasa malu atau risih dari calon-calon pemimpin ini kalau mereka nantinya didukung para bebotoh. Kita tidak tau bagaimana kalau bakal calon gubernur dan calon bupati ini memang benar-benar menang. Pastilah kebijakan mereka nantinya mau tidak mau akan mengakomodasi kepentingan bebotoh.

Bebotoh konon berasal dari kata momo (nafsu–disini nafsu yang dimaksud adalah nafsu buruk)) dan tohin (diutamakan). Jadi memotoh atau bebotoh merujuk pada aktivitas manusia-manusia yang senang mengutamakan nafsunya. Dari akar katanya ini, maka tidak ada kesan positif sedikitpun yang bisa diharapkan dari bebotoh. Bagaimana mungkin manusia yang mengutamakan “momo” akan bisa berbuat kebaikan? Sesungguhnya sangat tidak pantas jika bebotoh diberikan ruang untuk hidup apalagi berkembang. Bebotoh harusnya diperangi, dibatasi ruang hidupnya agar tidak menjadi racun mematikan. Kalau sekarang bebotoh malah dikoordinir, diakui keberadaannya bahkan dimanfaatkan, maka benarlah kalau sekarang ini adalah jaman kalabendu.

Saya jadi teringat kata bijak Wibisana ketika kakaknya Rahwana mendapat anugrah Kesaktian luar biasa di Hyang Siwa ; “Kini tiba saatnya dimana jika manusia berjalan dalam jalan dharma kebenaran, maka ia tidak akan bisa hidup,”. Rahwana-rahwana (para politisi)di Bali tinggal menunggu berkah dari penguasa sesungguhnya (rakyat) saat pilkada untuk berkuasa. Pasukan raksasa Rahwana (para bebotoh) kekuatannya sedang dihimpun. Maka ketika mereka benar-benar berkuasa, sepertinya tidak akan ada lagi jalan bagi dharma dan kebenaran di tanah Bali. [b]

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir dan besar Denpasar tahun 1975. Pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Unud sampai wisuda. Di tahun 2013 lulus kuliah di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Bekerja di sebuah Media massa yang berkantor pusat di Bali. Dari akhir tahun 2004 lalu bekerja di Semarang Jawa Tengah. Tidak punya hobi pasti, dulu suka olahraga, sekarang tidak pernah jelas. Rumah di depan Terminal Ubung persis, disebelah rumah makan padang "Minang Ubung".

Related Posts

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
Susur Hutan dan Sungai Bersama BASE Bali

Menutup Program Studi, Menutup Masalah?

6 May 2026
Pelanggaran Kebebasan Berpendapat terus Terjadi di Bali, mulai dari Larangan saat Konferensi Internasional, Aksi, dan Penangkapan Tomy

Surat Cinta Negeri dari Jeruji Besi

5 May 2026
Next Post

Reuni Keluarga Muslim Bali

Comments 2

  1. lode says:
    18 years ago

    halo pak winata

    apa kabar televisi lokalnya? waah, masih simak politik bali ya. Ayo bli, maju ke gedung DPRD (nyalon, maksudnya)

    salam,
    luh de

    Reply
  2. winata says:
    18 years ago

    hallo juga luh de,
    tv nya baek-baek aja.
    kadang tergelitik juga dgn kondisi Bali
    cita-citanya sih hanya jadi KPID Bali aja…
    Di DPRD gak ada tempat buat saya..Kalo nggak, ya.. jadi preman terminal wae..

    Reply

Leave a Reply to lode Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia