• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, March 7, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Bebas Berkarya dengan Sumber Terbuka

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
21 January 2013
in Buku, Kabar Baru, Teknologi
0
3

opensource
Oleh Syamsul “Isul” Arifin

Sangat senang sekali ketemu dengan buku ini.

Seperti ketemu dengan teman yang senasib sepenanggungan. Tak sengaja ketemu dengan buku ini waktu “ngobrak-abrik” perpus mini Sloka Institute. Dengan merayu si Intan Paramitha, pengurus Sloka, akhirnya saya bisa pinjam buku ini. Trims to Intan en Sloka Institute. Oke dah… lanjut..!

Open Source, walau hari gini sudah tak asing lagi, tapi orang masih sedikit yang mengggunakannya. Apalagi terkait dengan kerjaan profesional. Mungkin ketakutan itu karena tingkat “ketidakpercayaan” masyarakat terhadap aplikasi Open Source masih tinggi. Tapi ketahuilah bahwa kita ternyata secara tidak sengaja telah menggunakan beberapa aplikasi Open Source. Seperti PHP misalnya. Apalagi setelah Android muncul Open Source semakin tenar saja.

Walau tenar, mungkin kita tidak sepenuhnya tahu apa itu open source. Nah sang penulis, Salma Indria Rahman, mengawali bukunya dengan definisi dari opensource itu sendiri.

Ada dua dikotomi software sistem operasi dalam peredaran software legal. Yaitu open source dan produk proprietary. Open source adalah program dengan sumber terbuka yang bisa didapatkan secara bebas melalui internet. Sedangkan sang antonim, program proprietary adalah program dengan sistem tertutup. Dengan demikian siapapun yang menggunakan aplikasi tersebut harus membayar lisensi dalam jangka waktu dan harga tertentu.

Sesuai judul bukunya, penulis percaya bahwa open source akan menciptakan kebebasan berkarya tanpa batas. ”Program yang ditawarkan open source memberi semangat kebebasan berkarya dan mampu menciptakan kreativitas tanpa batas tanpa intervensi berpikir dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan pengetahuan juga produk yang cocok dilepas ke publik,” tulisnya.

Kebebasan
Kebebasan dan open source adalah identik. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk menggunakan dan mengkustom atau memodif program tersebut sesuai kebutuhan.

Lho kok bisa? Ya karena penyertaan kode sumber yang terbuka di setiap programnya. Sehingga komunitas lain juga mendapat kebebasan untuk belajar mengutak-atik, merevisi ulang, memperbaiki ataupun bahkan menyalahkan. Aneh ya.. tapi itulah open source.

Penggalakan Open source sendiri dilatar belakangi dengan kemangkelan seorang Richard Stallman akan program proprietary. Ketika universitasnya MIT mendapatkan hibah sebuah printer, printer itu tidak bisa bekerja karena ada sebuah bug dalam programnya.

Si Richard sendiri kemudian meminta kode sumbernya untuk diperibaiki tapi pihak perusahaan pemberi hibah itu tidak mau memberikannya. Mangkel, si Richard kemudian membuat gerakan free software yang mana open source berada di dalamnya.

Kode sumber memungkinkan untuk dimodif dan didistribusikan sesuai dengan syarat awal dari program itu dibuat. Sehingga munculah kemudian kerjaan turunan (Derivatif Work) yang menggunakan nomor versi atau nama yang berbeda dari dari aplikasinya. Seperti Ubuntu yang menggunakan debian sebagai basis aplikasinya.

Selain kebebasan, open source juga menawarkan kenyamanan. Kenyamanan pertama, adalah kenyamanan dalam hal update program dalam opensource. Dimanjakan dengan adanya integritas kode sumber, karena adanya pendistribusikan berkas tambahan (patch file) yang berisi perbaikan-perbaikan aplikasi. Sehingga, pengguna tidak usah mengunduh program secara keseluruhan cukup dengan mengunduh patch file-nya saja.

Kenyamanan kedua, adalah minimnya virus. Bukan berarti bebas virus, aplikasi open source masih mempunyai kemungkinan untuk terserang virus. Maka munculah antivirus seperti clamav misalnya. Tapi kekuatan open source letaknya pada komunitas. Komunitas menjadi “watch dog” dari kemungkinan virus atau pun celah keamanan.

Dan individu dalam komunitas akan bahu membahu untuk memperbaikinya. Ajaib khan. Itulah keajaiban gotong royong.

Kenyamanan yang kemudian, kita bisa mendapatkannya secara legal. Dengan mengunduhnya melalui internet. Walau memang ada yang berbayar, harganya lebih terjangkau.

Olok-olok
Buku ini kemudian menjelaskan aplikasi-aplikasi open source yang paling sering digunakan secara singkat. Dari Operating System (OS) semacam linux dan open solaris, bahasa pemrograman seperti JAVA dan PHP sampai operasi mobile semacam symbian dan android.

Dalam benak kita mungkin muncul bahwa open source itu rumit karena menggunakan aplikasi berbasis teks dengan latar belakang black screen. Tapi saat ini sistem operasi open source tidak terhitung jumlahnya yang dimudahkan dengan sistem desktop. Maka munculah aplikasi-aplikasi semacam GIMP untuk editing foto dan lain sebagainya.

Buku ini juga menjelaskan perkembangan open source di Indonesia. Sejarah awal perkembangan awal open source dari NOS (Network Operating System), FreeBSD, Linux sampai kemunculan IGOS (Indonesia Go Open Source) yang fenomenal itu.

Pemunculan tokoh-tokoh open source di Indonesia semacam Kusmayanto Kadiman sang pendorong legalisasi perangkat lunak di pemerintahan, I Made Wiryana sang “provokator” open source dan Onno W. Purbo menjadikan buku ini begitu menarik. Apalagi diboncengi dengan penggalan tulisan tokoh tokoh tersebut. Seperti Kusmayanto yang begitu gigih dengan open source karena malu Indonesia selalu menjadi bahan olok-olok di dunia Internasional karena kisah pembajakan software yang begitu dramatis.

Juga, terinspirasi dari keberhasilan presiden Brazil, Lula de Silva “menginstall” open source pada tataran pemerintahan dan korporasi.

Ada juga tulisan I Made Wiryawan yang mencoba mengetengahkan solusi untuk salah satu permasalahan open source khususnya linux seperti driver. Atau tulisan Onno yang mengetengahkan remastering distro sesuai kebutuhan. Membuat buku ini menjadi inspirasi dan penyemangat untuk menggunakan open source.

Selain tokoh dan tulisan mereka, buku ini juga mengetengahkan kisah-kisah kesuksesan implemetasi open source baik di tataran pemerintahan maupun korporasi. Yang membanggakan (bagi saya yang tinggal di Bali) adalah kisah sukses Made Winasa menyebarkan virus open source di Jemberana, Bali.

Dan bagi anda yang perlu referensi online, buku ini juga memberikan link-link direktori open source di Indonesia sebagai penutup.

Jadi ternyata, tanpa perangkan lunak proprietary semacam windows pun kita bisa berkreativitas. Pada akhirnya….. it’s not about software it’s about creativity. 🙂 [b]

Judul buku : Open Source, Kreatifitas tanpa Batas.
Penulis : Salma Indria Rahma
Tebal : 101 halaman
Penerbit : Kementerian Riset dan Teknologi
Tahun terbit : 2010

Tags: BukuOpen SourceResensiTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

30 May 2025
There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

28 May 2025
You and I, tentang Memori dan Dekatnya Kematian

You and I, tentang Memori dan Dekatnya Kematian

17 April 2021
Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar

Kecanduan “Permainan Mendalam” Bersama Gawai

26 February 2021
Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

1 February 2021
Revolusi Hijau, Menjerat Petani dengan Racun

Saya pun Bermimpi Menjadi Raja di Pulau Mancawarna

30 October 2020
Next Post
“Panen” Buah Durian di Pinggir Jalan

“Panen” Buah Durian di Pinggir Jalan

Comments 3

  1. leonardo says:
    13 years ago

    Dan sebenarnya siapapun bisa berkontribusi ke proyek FOSS (free and open-source software) yang ada. tidak harus programmer/software developer.

    Selalu ada bagian untuk semua orang, misalnya: membuat translasi dokumentasi ke Bahasa Indonesia, melaporkan bug, menyebarluaskan informasi tentang FOSS tsb, dsb.

    Dari perspektif programmer sendiri, sebenarnya ada banyak hal positif yang bisa diambil (selain hasil akhir dalam bentuk produk). Contoh paling sederhana adalah cara/teknik developers FOSS tersebut dalam menyelesaikan masalah tertentu. Intinya sih mengembangkan horizon kita agar tidak buntu ke hal yang itu-itu saja. Dan memang itu tujuannya di-open source-kan, supaya menyebarluaskan pengetahuan (intisari dari pengalaman), dengan tentunya ada harapan untuk pengembangan lebih lanjut.

    Long live free and open-source software!

    Reply
  2. isul says:
    13 years ago

    Bener itu om Leonardo…

    Reply
  3. Jacky Hutagalung says:
    13 years ago

    isoul, waktu aq masih nongkrong di majalah maestro dan komunitas software merdeka unud, legenda Richard Stallman 2 kali datang ke bali. inget temen2 nganterin stallman jalan2 keliling bali naik motor. dan oleh2nya, mastro kemudian kupas free software ini menjadi laporan utama, “free doftware movement”.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

4 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia