• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, July 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Barangkali “Perkembangan” UN dalam Perkubangan

Persma Akademika by Persma Akademika
25 April 2013
in Kabar Baru, Opini, Pendidikan
0
0

karikatur-UN

Oleh Ni Nyoman Alit Purwaningsih

“Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan.” -St. Kartono-

Barangkali, persoalan Ujian Nasional (UN) menjadi topik perbincangan hangat sekarang. Tragedi. Begitulah kata yang tepat dilontarkan untuk kegagalan UN kali ini. Bukan hanya karut marut lagi, namun sudah gagal. Kegaduhan persoalan UN di setiap tahunnya memang sudah ada. Persoalan bocornya soal, peserta mencontek, soal tertukar, adanya joki UN, dan persoalan lainnya memang menjadi persoalan jamak setiap tahun. Apalagi sejak diberlakukan UN.

Kini, karut marut tersebut sudah dipatahkan. Dalam hal ini dipatahkan dalam sebuah kegagalan. Masih hangat kegagalan UN tahun ini bahwa, 33 provinsi di Republik Indonesia, sepertiganya atau 11 provinsi harus menunda pelaksanaan UN karena alasan teknis pencetakan soal. Sehingga sudah tak asing terdengar kini, lontaran “Pertama kali dalam sejarah UN”.

Sebelum kegagalan ini terjadi, adakah evaluasi yang dilakukan pemerintah? Atau pertanyaan yang lebih simpel, apa pemerintah peduli?

Barangkali, bentuk kepedulian pemerintah untuk mencita-citakan mencerdasakan kehidupan bangsa (tidak) benar-benar dipegang teguh oleh pejabat pendidikan di Indonesia. Segala “perbaikan” mulai dari Ujian Negara, menjadi Ujian Sekolah, kemudian EBTANAS, UNAS, hingga akhirnya UN, merupakan bukti dari ke(tidak)berhasilan format pendidikan.

Barangkali, perkembangan tersebut hanya berada dalam perkubangan. Cita-cita pendidikan berada dalam kubangan yang entah sampai kapan akan terus berkubang. Seakan-akan nyaman untuk terus bermalas-malasan dalam kubangan.

Seperti kenyataan berikut: Konon tahun 2009 lalu, Mahkamah Agung (MA) telah meminta pemerintah untuk tidak melaksanakan UN karena pemerintah dinilai gagal dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.

Tapi, Mendiknas –Mohammad Nuh- meminta agar semua pihak berhenti memperdebatkan masalah UN. Alasannya, karena pemerintah akan tetap memberlakukan kebijakan tersebut demi kemajuan dunia pendidikan. UN menurut beliau (baca: pejabat pendidikan di pemerintahan) menganggap UN mampu mendorong siswa agar memiliki kompetensi tinggi sehingga mampu bersaing di era globalisasi.

Apakah sudah terealisasi cita-cita tersebut?

UN, Ujian Formalitas
Barangkali, memang ada benarnya bahwa dengan pelaksanaan UN, mampu mendorong siswa agar memiliki kompetensi tinggi. Bisa dikatakan, kalau tidak ada UN siswa akan malas belajar. Namun, sudahkah kita melihat kenyataan bahwa terjadi kekeliruan dalam pelaksanaan UN? Mungkin, yang sudah merasakan “kursi panas UN” ataupun bahkan yang tidak merasakanpun, juga mengetahui hal ini.

Contoh nyata, siswa yang pandai di kelas, tidak lulus ujian seperti yang telah hangat diberitakan beberapa dekade lalu. Sebaliknya, siswa yang tingkat kecerdasannya lebih rendah, malah bisa lulus UN. Apakah tidak menimbulkan tanda tanya besar? Memang, barangkali terjadi kesalahan yang sifatnya teknis, misalnya kesalahan dalam pengisian LJK.

Namun, di balik faktor itu, tidak dipungkiri lagi bahwa terjadi ketidak”fair”an dalam pelaksanaan UN. Kesalahan pengawas? Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Hanya pelaksanaannya saja yang perlu perhatian khusus.

Barangkali, kecurangan tersebut sangat masuk akal dan manusiawi. Bagaimana tidak, pihak sekolah pasti akan melakukan berbagai “cara” karena tidak ingin menerima citra negatif. Belum lagi tuntutan kelulusan dari dinas pendidikan daerah setempat untuk mengejar prestise. Jelas saja, hal tersebut membuka lebar kecurangan yang sistematis dalam pelaksanaan UN.

Intinya, ketika UN, apapun dilakukan dan bagaimanapun “caranya”. Kenyataan seperti inilah yang sesungguhnya harus disadari pemerintah.

Desentralisasi UN
Barangkali pemerintah berkeinginan untuk menciptakan pemerataan dalam sistem pendidikan di seluruh wilayah NKRI. Seperti yang disebutkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, bahwa standar pendidikan nasional adalah kriteria minimal tentang sistim pendidikan nasional di seluruh wilayah NKRI. Sehingga, UN dilaksanakan serentak (sentralistik).

Kita tahu, bahkan orang awam pun tahu bahwa kualitas siswa, kualitas pengajar, sarana dan prasarana, tidaklah sama di setiap wilayah. Sehingga, perlu dipertimbangkan pelaksanaan UN dengan menganut asas Desentralisasi. Desentralisasi maksudnya di sini dapat dilaksanakan dengan pembuatan soal disesuaikan dengan kebijakan desentralisasi, sehingga sesuai dengan kualitas sekolah masing-masing.

Namun, walaupun dengan kebijakan desentralisasi, tetap diperlukan pengawasan dan pendampingan untuk meminimalisir indikasi kecurangan yang ada di setiap daerah.

Barangkali dapat disimpulkan, jika pemerintah bersikukuh melakukan UN, berarti pemerintah harus segera menerapkan format yang benar-benar fair. Jika pemerintah ingin UN menghasilkan kualitas yang baik, berarti pemerintah harus melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Jika kekurangan dan persoalan yang telah disebutkan dapat diatasi, tinggal membenahi kelulusan siswa dengan format ujian yang akan dilaksanakan. Sehingga, tidak ada kekecewaan dalam dunia pendidikan di Negara Kesatuan Repubulik Indonesia ini (lagi).

Jika pemerintah belum bisa memperbaiki format UN, berarti ikhlaskan saja Kemendikbud dihapuskan dalam kursi pemerintahan Indonesia. Toh segala perbaikan yang benar menurut beliau (baca: Kemendikbud), tidak benar bagi masyarakat. Barangkali! [b]

Ilustrasi dari idesainer.blogspot.com

Tags: OpiniPendidikan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Persma Akademika

Persma Akademika

Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana - Sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa atau lembaga dalam bidang jurnalistik di Universitas Udayana. Sekretariat : Gedung Student Center Universitas Udayana, Jalan Dr. Goris, Denpasar, Bali. http://www.persakademika.com/

Related Posts

Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Next Post
Putu Suriati, Terus Mendukung yang Berbeda Kemampuan

Putu Suriati, Terus Mendukung yang Berbeda Kemampuan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia