• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Bali Tempo Doeloe: Masa Silam Budaya Menanam

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
22 February 2014
in Agenda, Kabar Baru
0
0

sawah1

Dulu orang Bali dikenal sebagai masyarakat komunal agraris.

Sebelum berkembangnya industri pariwisata serta ragam matapencaharian yang mengedepankan teknologi informasi, kehidupan sehari-hari orang Bali bergantung pada aktivitas bercocok tanam dan nelayan.

Sebagaimana yang tecermin dalam laku ritual serta keyakinan spiritualnya, pola agraris orang Bali begitu dekat dengan nature (alam lingkungan) yang kemudian membentuk culture (budaya) yang masih terdapat hingga kini.

Akan tetapi tantangan demi tantangan terus terjadi. Mulai dari degradasi ekologi Bali akibat aneka faktor hingga peralihan cara pandang penduduknya atas konsep agraris-komunal. Tak terpungkiri turut pula mengubah kondisi sosial-kultural masyarakat pulau ini.

Bali Tempo Doeloe seri kedelapan yang akan digelar pada Minggu, 23 Februari 2014 besok mengetengahkan topik ‘Masa Silam Budaya Menanam’. Diskusi ini berupaya merunut perubahan-perubahan ekologi dan sosial-kultural masyarakat Bali tersebut. Acara ini menampilkan dua pembicara yakni Prof. Wayan P. Windia, SH., M.Si dan Dra. Eniek Kriswiyanti, M.Si.

Kegiatan yang mengetengahkan pemutaran film perihal kehidupan agraris Bali pada awal abad ke-20 dan dipadukan dengan diskusi tersebut digelar oleh karena mencermati budaya menanam orang Bali yang kian terkikis. Sudah tidak banyak penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani. Pengalihfungsian lahan terus menerus terjadi.

Sementara itu, penghargaan atas air, tanah dan juga lingkungan makin memudar, begitu kontradiksi dengan filosofi Bali yang merawat keharmonian ekologi sebagaimana terutang dalam Tri Hita Karana.

Di sisi lain, sebagai akibat masuknya jenis tumbuhan ataupun produk pangan luar, orang-orang Bali mulai kesulitan menemukan tanaman endemik (indigenous species) yang sebenarnya mewakili kearifan lokal masyarakat pulau ini. Sebut saja liligundi, bungan gadung, ataupun jenis buah-buahan seperti juwet, yang kini tidak lagi dikenal oleh generasi era kini.

Acara ini diselenggarakan untuk menggugah kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kultur agrarisnya sebagai bagian dari upaya merawat kehidupan budaya Bali. Lingkungan merupakan elemen penting bagi kebudayaan. Kondisi perubahan yang dialaminya bukan hanya mencerminkan perkembangan tipologi alam, namun sekaligus juga paradigma masyarakatnya atas apa yang disebut tradisi dan kemodernan, antara nilai kebersamaan komunal dan individual, berikut ketegangan nilai lain yang terjadi di Bali.

“Bali Tempo Doeloe #8 kali ini juga menelisik unsur-unsur budaya agraris yang mulai hilang dari kosa kehidupan masyarakat kini yang makin urban lagi modern, seperti wujud dan fungsi beberapa tanaman usadha yang pernah ada, termasuk peran-perannya bagi kehidupan sosio-kultural orang Bali,” ujar Putu Aryastawa dari Bentara Budaya Bali.

Selain itu, diskusi yang terbuka untuk umum ini juga akan diperkaya dengan ulasan mengenai transformasi ekologi Bali yang diakibatkan oleh beberapa faktor, di antaranya pariwisata, perubahan laku masyarakat dan lain sebagainya.

Narasumber diskusi, Prof. Wayan P. Windia, SH., M.Si adalah guru besar Universitas Udayana dan terkemuka sebagai ahli hukum adat yang mencermati transformasi sosial kultural masyarakat Bali. Kerap tampil dalam berbagai seminar nasional dan internasional karena pandangannya dinilai mendalam dan visioner menyangkut Bali sebagai entitas budaya dengan kekayaan seni-seni tradisi dan ritualnya, berikut silang pandangnya dengan pariwisata. Selain menulis di berbagai media, juga menulis buku antara lain: Perkawinan Pada Gelahang di Bali, Bali Mawacara, dan lain sebagainya.

Sedangkan Dra. Eniek Kriswiyanti, M.Si merupakan dosen pengajar Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Menamatkan program S2 di Fakultas Biologi UGM, dan kini tengah menyelesaikan program doktornya. Kerap diundang sebagai pembicara pada berbagai seminar tingkat nasional dan internasional, di antaranya: Seminar Nasional KR Cibodas, Seminar Etnobotani IV Cibinong Sience Center LIPI, 9th International Flora Malesiana Symposium, Biotechnology for SustainableFuture, serta aktif melakukan penelitian dan kajian, khusunya di bidang etnobotani, menyangkut spesies tanaman indigenous Bali yang dimanfaatkan sebagai ramuan obat-obatan tradisional atau usadha. Beberapa kajiannya dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional. [b]

Teks dan foto Bentara Budaya Bali.

Tags: AgendaBudayaDiskusiPertanian
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Refleksi Kebun Kolektif bagi Gerakan Petani

Refleksi Kebun Kolektif bagi Gerakan Petani

12 August 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
Next Post
Monez, Nama Panggilan yang Menjadi Brand

Monez, Nama Panggilan yang Menjadi Brand

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia